Sunday, December 25, 2022

Batik Madrim vs Angling Dharma

 para punggawa dan Mantri dengan malu menghadap  kipati menghaturkan hidup dan mati karena tidak   sanggup menghadapi maling kipatih berkata kalian  semua takut lalu apa bisa kalian tampang kalian   saja yang menakutkan kalau siang pamer  kekuatan kumis panjang sampai telinga   tetapi pengecut seperti anak-anak saat mendengar  hadiah yang diberikan sang prabu gayanya sobrani   sambil memelintir kumis Tidak seorangpun berani  menjawab semua menundukkan wajah ke tanah gipati   sangat kusara hatinya karena maling memang sangat  Sakti 7 hari 7 malam lamanya kaputren dikepung   banyak prajurit yang mati karena berkelahi dengan  temannya sendiri di Pati semakin bingung hatinya para punggawa dan Mantri menghadap Raja  melaporkan semua kejadian celaka sang   prabu maling yang memasuki istana sangat  Sakti dan tidak ada jejaknya sama sekali   sang prabu berkata aku juga heran maling itu  masuk ke istana untuk merusak putriku Jika ia   mengambil harta benda Aku tidak akan sakit  hati kalau begitu Pati perintahkan seluruh   prajurit punggawa Mantri dan para raja untuk  berbaris mengepung istana agar maling itu takut   di Patih menghaturkan sembah lalu menjawab  sudah tujuh hari tujuh malam kami mengepung   dan berjaga di dalam dan di luar istana banyak  dipaduta yang mati karena temannya sendiri sang   prabu murka mendengar penuturan Bupati dadanya  bergemuruh matanya merah menyala seperti yang   kaleki Pati Pergilah mencari pertolongan orang  yang bisa menangkap maling Siapapun dia yang bisa   menangkap maling akan aku beri hadiah Putri Tante  aku tidak pilih-pilih orang walaupun itu beres   sekalipun Sabda sang prabu kipatih menghaturkan  sembah lalu mohon diri untuk menjalankan perintah [Musik] di Patih jayawikarta meninggalkan istana  bermaksud pergi ke gunung ia berganti pakaian   dengan menggunakan baju Wulung langgeng menyamar  sebagai rakyat biasa ia berjalan sendirian tanpa   Membawa Apapun kerajaan Puja negara telah  jauh ditinggalkan sungai di seberangi Gunung   tidak aktif jurang dituruni langkahnya tidak juga  berhenti tanpa menghitung bahaya yang Menghadang   Puja negara semakin jauh ditinggalkannya dan  kakinya telah menginjak di wilayah kerajaan lain untuk sementara kita tinggalkan kipatih  jawikarta yang pergi untuk mencari orang   yang mampu menangkap maling kita  tengok kembali kerajaan malwapati   sejak ditinggalkan Prabu Angling Dharma kerajaan  dijaga oleh Patih Patih Martin para raja Senopati   hulubalang Satria Tumenggung dan prajurit  semua merasa sedih mereka mengadu Kepada Bupati   Adipati apa jadinya jika sang prabu terus berduka  semua tanaman yang ditanam tidak ada yang tumbuh   pangan dan sandang menjadi mahal di Pati pucuk  lasang Prabu untuk tidak berduka lagi jika ada   Putri yang diinginkannya hamba sanggup  diutus melamar dan menaklukkan kerajaan   sudah cukup lama sang prabu pergi mungkin sudah  hilang kesedihannya karena ditinggal permaisuri   lalu mengajak para punggawa dan Mantri untuk  naik ke panggung sanggar pamojan gipatih terkejut   karena tidak bisa melihat keberadaan sang prabu  hal itu berarti sang prabu pergi karena masih   sedih hatinya ia segera turun dari panggung  dan menangis tersedu-sedu sambil bersudut di   tanah Sudah lama aku menunggu sang prabu terbuka  hatinya dan kembali menjadi raja tetapi ternyata   beliau pergi dengan hati berduka Kemanakah Paduka  pergi seluruh rakyat bersedih karena kebahagiaan seluruh istri sudah diberitahu tentang keadaan  sang prabu mereka semua menangis sejadi-jadinya   bahkan ada yang sampai memukul-mukul dada  berguling-guling dan pingsan di tanah   kipati semakin sedih hatinya melihat keadaan para  punggawa dan Mantri Ia lalu berkata Wahai para   punggawa dan Mantri aku akan membuat anda kipati  berjalan diiringi oleh para punggawa dan Mantri   aku jadikan Hal ini sebagai tanda jika tall ini  bisa aku cabut berarti sang prabu masih hidup jika   tidak bisa tercabut berarti sudah wafat di Pati  segera mencabut hal tersebut dan berhasil semua   yang menyaksikan bersorak-sorai kegirangan  hal itu kemudian dilemparkan ke atas oleh   patih-pati melesat tinggi ke angkasa hingga tidak  tampak kemudian jatuh lagi di tengah alun-alun ia   menancap di tanah sekitar 10 depak gipati berkata  lagi tal ini aku jadikan tanda jika tall ini roboh   maka sang prabu tidak akan datang lagi tetapi jika  tidak maka sang prabu masih hidup aku akan pergi   mencari sang prabu kalian jagalah kerajaan dengan  baik dan jangan lupa tetap mengadakan pisauan   para punggawa dan Mantri menghaturkan sembah  menyanggupi perintah Bupati Pati Pati Martin   pun terangkat mencari sang prabu Angling Dharma  di tengah jalan Patih madrim bertemu dengan Patih   jawikarta batik madrim bertanya Kamu orang mana  Aku lihat kamu sedang sedih Jawi Karta menjawab   Aku utusan Raja Puncak negara di Bojonegara ada  maling Sakti yang mencuri tercinta dengan sang   putri jika ada yang mampu menangkap maling itu  ganjarannya sangat besar yaitu akan dinikahkan   dengan Sang Putri diberi rumah di sebelah  utara pasar dan telah akan dijadikan Prabu Anom   kalau begitu antarkan aku Aku Sanggup  menangkap maling itu kata batik madrim   batik madrim telah dibawa menghadap Raja  Puja negara para menteri dan punggawa   heran melihat kipati sudah kembali dengan  membawa orang yang sanggup menangkap maling   di Pati masuk ke istana lalu berhenti di Sri  Manganti seorang dayang penunggu pintu tersebut   yang bernama nyeminangsi datang menghampirinya  Ki jawikarta berkata Nyai haturkan pada Paduka   aku datang dan sudah berhasil membawa  orang yang sanggup menangkap maling   segera menghadapi raja raja bersabda cepat  Panggil menghadap kunyit di Minang Si segera   menjalankan tugas sang prabu terlihat  terpesona ketika melihat sosok Bupati Sesampai di istana dan menghadap Raja Bupati  jawikarta lalu menceritakan semuanya sang prabu   terlihat sangat senang melihat sosok patih-patih  madrim yang terlihat masih muda tampan dan gagah   perkasa tuan siapa namamu tanya sang prabu batik  menjawab nama hamba batik madrim hamba hanya   orang hina yang hidup miskin sang prabu menanyai  Patih madrim Apakah sanggup menangkap pencuri   yang meresahkan istana batik madrim dengan mantap  menyanggupinya tentu Paduka hamba pasti sanggup   menangkapnya tidak pantas saya menyandang  nama Patih madrim jika tidak mampu menangkap   pencuri hamba mohon bubarkan saja barusan  prajurit yang mengepung istana sangat Sakti   mendengar kesanggupan batik madrim sang prabu  lalu memberi perintah kepada tokoh-tokoh   panggilah semua punggawa dan Mantri supaya  membubarkan barisan pokok menjalankan perintah   lalu kembali menghadap Raja sekarang bagaimana  mau mengobati madrim tanya sang raja hamba mohon   semua isi istana dikeluarkan hamba rasa maling  itu merasuk ke dalam tubuh binatang Jawa Batik terserah kamu kata Sang Prabu [Musik] mengiringi  semua binatang piaraan istana ada kambing bebek   ayam tergalung serta Menjangan semua telah dibawa  ke hadapan raja raja bertanya sekarang Pilihlah   Madrid mana yang maling perintah sang raja batik  Madri menghaturkan sembah lalu berkata malingnya   tidak ada paduta hamba pikir ia masih ada di  dalam biarkan mereka tetap di luar maling yang   ada di dalam pasti tertangkap jika tidak Silakan  hamba padukadendeng sekarang hamba mohon seluruh   istri Paduka dan orang yang berada di kebun  padatan dan penggilingan supaya keluar semua   Siapa tahu maling akan merasuki mereka sang prabu  segera memberi perintah kepada tokoh-tokoh cepat   Panggil semua istriku dan semua orang yang ada di  istana untuk kemari tidak lama kemudian para istri   raja dan orang yang ada di istana keluar banyak  sekali jumlahnya baik tua maupun muda semua keluar   hingga istana menjadi kosong satu persatu mereka  diperiksa lalu berjajar di hadapan Raja tinggal   sang putri dan si burung belibis yang masih berada  di dalam istana paranophone dan papinggitan semua   keluar bahkan yang sedang sakit pun di papah agar  bisa keluar mana yang maling batik madrim cepat   tangkaplah jika ia menyerupai sesuatu Aku relakan  untuk dihancurkan untuk apa orang jahat dipelihara batik Madri menghaturkan sembah ampun Paduka  malingnya masih ada di dalam istana maling   Yang Bercinta dengan Sang Putri pasti akan  tertangkap sang prabu marah mendengarnya   Ia lalu bersabda dengan keras walau ada  di dalam istana cepat tangkap dia madrim   tangkap dan bawalah kehadapanku aku akan  menghukummu jika gagal menangkap pencuri itu   silahkan Paduka silahkan menghukum mati hamba jika  hamba tidak bisa menangkap maling itu kata batik   madrim Raja bertanya lagi sekarang mana maling  itu batik Madri menjawab maling itu sangat Sakti   Baginda ia masih ada di dalam istana jangan  khawatir maling itu pasti akan hamba tangkap   cepat tangkap maling itu meskipun di dalam  istana sekalipun jika tidak tertangkap aku   akan mencacahmu Karena kamu telah menipuku  kata Sang Prabu hamba tidak takut mati sang   prabu jika memang sudah terbukti hamba kekal  menangkap maling itu silahkan sekehendak   baruka tetapi hamba mohon agar Putri Paduka  yang masih berada di dalam istana diperiksa   juga periksalah apa yang ada di dekat  sang putri dan apa-apa yang dikasihinya   sang prabu lalu mengutus tokoh untuk menjalankan  perintah tokoh pandai pandela menjalankan tugas   perintah sang prabu pelan Togog segera menjalankan  perintah di tengah jalan kakinya terlepas hingga   kelihatan kemaluannya dalam hati ia mengomel  pada batik madrim puruk sekali si madrim tempur   Maknya terpuruk membuat susah orang saja  mudah-mudahan si madrim di terekam macan menjumpai Sang Putri sedang duduk dengan memangku  si Belibis sipilis tak henti-hentinya mencocoli   pipitan bulu-bulu halus di pelipi Sang Putri Sang  Putri berkata gagang pelipis putih kapalnya Ayah   mendapat orang yang sakti dan sanggup menangkap  Paduka orang itu bernama pakti madrim sekarang   Apa rencana Paduka sungguh hambat aku jika  Paduka tertangkap lebih baik kita pergi   saja si pribis menjawab sambil mencium meskipun  hancur menjadi debu dan larut dalam air Aku tidak   akan lari Jangan Takut putri jika Prabu Angling  darmalari betapa para dewa akan menertawakanku   dulu waktu di malwapati Aku mempunyai patih  yang sangat Sakti bernama batik madrim ia   sangat Sakti dan satu perguruan denganku  tetapi tidak mungkin ia berani melawanku   mungkin Dewa sengaja membuatnya lupa padaku  [Musik] si Belibis sedang asyik mencukupi   Sang Putri mencium payudara mencium pipi dan  bibir ketika toko tiba-tiba datang lalu duduk   di hadapan Sang Putri Sang Putri bertanya ada  apa toko tidak biasa-biasanya kamu kesini togok   menjawab hamba diutus meminta garam untuk  Lala betis dan mau minta asam karena ingin   membuat roti asam muda Ambillah sendiri baru  sekarang kamu suka seperti itu jawab Sang Putri   tokoh meninggalkan Sang Putri kembali ke hadapan  raja di dalam hanya ada pelipis putih yang selalu   dipeluk siang malam anehnya Belibis itu selalu  mencocoli kain melapor toko batik madrim tertawa   kegirangan mendengar penuturan tokoh ialah rumah  menghaturkan sembah dan berkata hamba yakin maling   yang merusak Sang Putri itu sekarang ada di dalam  tubuh pelipis itu kalau bisa Paduka Ambillah   Belibis itu lalu bunuhlah sang prabu lalu mengutus  seorang dayang untuk mengambilnya dayang masuk   ke kaputeran menemui sang putri Ada apa bingung  apa bingung diutus ayahnya Prabu untuk mengambil   semua barang dan perhiasan ambil saja bingung  karena semua memang milik Ayah kata Sang Putri   dayang menjawab hamba hanya diutus mengambil  Belibis yang ada di pangkuan tuan putri putri   bertanya kenapa diambil untuk apa bingung sang  prabu berkah anda untuk membunuh Belibis itu   Kenapa ayah akan membunuhnya aku tidak boleh  patah bulunya sehelai pun aku tidak akan rela   meskipun Raja Ayah tidak boleh berbuat  aniaya seperti itu apalagi tidak berdosa   pelipis ini bukan pemberian Ayahanda tetapi  Burungku sendiri aku sendiri yang menemukannya   aku sendiri yang memeliharanya dan memberinya  makan bukan Ayah atau Ibu aku tidak akan rela   Burungku dibunuh Kata Sang Putri emban  membujuk Sang Putri dengan halus putri   burung itu akan dibunuh karena dia disangka  maling yang telah merusak ke gadisan Putri Tuan Putri sudah serahkan saja aku pada sang  prabu Jangan khawatir aku bisa merasuk Kemana   saja si Belibis disangka maling Baiklah ambil dan  serahkan ini pada Ayahanda dayang menerima burung   belibis selalu menggendongnya ke tempat sang prabu  Sesampai di hadapan Raja burung belibis segera   diserahkan sang prabu sangat terkejut ketika  melihat peribies berada di tangannya tiba-tiba   burung itu mati seketika Kenapa burung ini dayang  jangan-jangan lehernya tertekuk saat kamu bawa   tadi tanya sang prabu daya menjawab tidak Paduka  tadi tidak apa-apa batik madrim berkata kepada   raja dengan girang tentu saja burung itu  mati patuta karena maling itu telah keluar   dan berpindah tempat sekarang periksalah kembali  Sang Putri sang prabu lalu mengutus Togog untuk   melihatnya Togog menghaturkan sembah lalu dengan  Oka okahan berjalan menuju Kabupaten jalannya   berlenggak-lenggok dan nafasnya tersengal-sengal  di tengah jalan kainnya lepas sebagian dan   Kerisnya terjatuh membuat orang susah saja orang  yang mau menikahi Tuan Putri itu mudah-mudahan   gimana terkampak gerutunya lirik togok melihat  Sang Putri sedang duduk sambil membawa bunga   tunjung berwarna kuning Bunga itu diusap-usapkan  di pipi digosokkan di payudara dan disangga-sangga   togok semakin heran melihat Sang Putri meletakkan  bunga tersebut di sela-sela payudaranya ada   apalagi Paman tanya Sang Putri hamba mau minta  obat Tuan Putri gigi hamba ngilu karena makan   rujak asam muda rasanya enak makan garam dan  betis sekarang hamba mau minta air jawab toko   Sang Putri sudah menduga dalam hati kalau  Togog sengaja diutus ayahandanya untuk   memata-matainya ia Sudahlah Ambillah  sendiri kata Sang Putri kemudian   togok segera mohon diri keluar istana lalu  menghadap Raja kembali Sang Putri hanya   menggenggam bunga tunjung yang dielus-eluskan  di pipi digosok-gosokan di payudara dan ditaruh   di sela-sela payudaranya hamba sangat heran  melihatnya kata tokoh melaporkan apa yang   dilihatnya kepada raja batik madrim tertawa  mendengar penuturan tokoh tidak salah lagi Paduka   maling itu telah berpindah ke pengayam dibawa  oleh sang putri jadi padukambilah bunga Itu   katanya sang prabu segera memerintahkan  seorang dayang untuk melaksanakannya   emban segera menjalankan perintah Sesampai di  hadapan Sang Putri Sang Putri bertanya diutus   apalagi bibi dayang menjawab hamba diutus sang  prabu untuk meminta bunga tunjung kuning yang   putri bawa Sang Putri berkata pelan bunga ini  milikku bukan pemberian ayah ayahandatika sekali   bunga yang hanya sekuntum ini mati diambil  juga aku tidak akan menyerahkannya karena aku   masih menyukainya dayang berkata dengan setengah  berteriak Tuhan Putri bunga Itu diminta karena dia   pencemaran maling Tunjung kuning berbisik Putri  serahkan saja jangan khawatir Aku Akan berpindah   Sang Putri pun menyerahkan bunga tunjung  kuning kepada dayang di diambillah bunga   ini serahkan pada Ayah Jika ia sang kamaling  katanya kepada Dayang Dayang menerima Kuntum   bunga itu lalu bergegas mohon diri Ia lalu  menyerahkan bunga yang dibawanya kepada raja   bunga tersebut diganti Palayu ketika berada di  tangan sang prabu Kenapa bunga ini tiba-tiba   layu dalam jangan-jangan tadi kamu menghancurkan  putihnya Saat berjalan ke sini hamba tidak tahu   Paduka jawab dayang batik Madri menyaut maling itu  sudah berpindah lagi sang prabu sebaiknya kita ke   tempat Sang Putri saja sang prabu jika hamba jauh  maling itu akan lolos Baiklah aku setuju denganmu   jawab Sang Prabu batik madrim bersama Prabu  Puja negara masuk ke dalam kaputren diiringi   oleh para istri sang prabu berjalan dengan membawa  lembing dalam hati ia berkata jika gagal aku akan   menusukmu dengan lembingku ini madrim Sang  Putri saat itu sedang duduk di halaman Bukit   mandragini melihat ayahandanya datang ia segera  menghaturkan sembah sang prabu berkata Jangan   menyembah aku Karena kamu berani menyembunyikan  maling dulu ayah menyuruhmu untuk menikah dengan   raja atau prajurit tetapi kamu tidak mau tetapi  sekarang kamu membuat Geger Sang Putri menjawab   hamba hanya menjalani Ayah jika memang sudah  dianggap tidak berguna hamba mana mungkin Ayah   melakukannya kalau dimarahi sedikit saja kamu  pasti lalu minta dibunuh Kata Sang Prabu Sang   Putri bersembunyi di balik pohon dengan menyimpan  jengkel di hati kalau Ayah membunuhmu Lalu siapa   yang akan mewarisi Bojonegara lanjut sang  prabu batik menyala benar Kusuma Ayu ayah   anda Paduka sangat menyayangimu dalam  hati berarti materi berkumam tuan putri   ini benar-benar cantik apa yang memang Titisan  Dewi Setiawati tentu saja Sang Prabu malwapati Pati madrim tangkaplah segera malingnya  dimana dia Aku ingin segera tahu perintah   sang prabu kepada batik madrim hamba  takut menangkap maling karena ia tidak   mau berpisah sedikitpun dari Sang Putri  tetapi hamba tetap akan menangkapnya jawaban   Prabu Angling Dharma yang sedang menyamar  bergumam dalam hati mungkin telah kehendak   Dewata batik madrim tidak mengenaliku ia berani  mau menghadapiku Tidak seperti biasanya Baiklah   dialah terjadi apa yang telah ditetapkan  Dewa Putri hamba minta Subang Paduka yang   berhias intan bumi akan hamba bersihkan maling  yang menyusup kata batik matrim kepada sang   putri Sang Putri menolak tidak aku tidak akan  memberikannya Subang Ini bukan pemberian ayah   Aku membelinya sendiri harganya 10.000 Ayahanda  pasti tidak butuh membiarkan orang gila sepertimu   meminta Subang yang diterima aku jahat sekali  kamu madrim nanti kamu dimakan raksasa kamu   mengaku-aku hebat karena mau menikah dengan  Putri Raja yang cantik tetapi aku tidak mau   aku tidak akan memberikan supangku belum pernah  aku melihat ada maling bersembunyi di Subang batik mati menghaturkan sembak Bagaimana sang  prabu Sang Putri tidak mau mengaku kalau menyimpan   maling cepat berikan sukamu pada madrim ini  perintah ayah Jika kamu tidak berikan ayah akan   merebutnya serta sang prabu pada putrinya maling  yang bersembunyi di Subang berbisik berikan saja   Putri aku akan pindah ke kancing konde Sang  Putri lalu melepas sokangnya dengan kesang   diserahkan sukanya kepada sang prabu tiba-tiba  Subang itu seperti hilang pamurnya saat diterima   sang prabu batik berkata Paduka malingnya  sudah berpindah ke kancing konde sekarang   hamba mintakan Putri yang berwarna jingga dan  berhias Permata Sang Putri menjawab dengan kera   Aku tidak akan memberikannya ini bukan pemberian  Ayahanda aku memberinya sendiri harganya 10.000   dengan lebih sabar sang prabu berkata serah  karena kalau tidak Ayah yang akan mengambilnya   Prabu Angling Dharma berbisik jangan khawatir  Putri serahkan saja saat menerima kancing konde   itu batik madrim terkejut maling yang dicarinya  hampir tertangkap tetapi tiba-tiba sudah berpindah   ke ikat pinggang Sang Putri sekarang hamba minta  ikat pinggang Putri mohonnya kemudian batik madrim   terus memaksa Sang Putri untuk menyerahkan ikat  pinggangnya sang prabu berkata dengan lembut nah   Serahkanlah jika tidak aku akan memutuskannya Ayo  cepat lemparkan Sang Putri dengan gusar melepas   ikat pinggangnya lalu melemparkan ke arah batik  Madrid batik madrim tiba tiba berkata aku tidak   butuh lagi ikat pinggang Itu buat apa malingnya  sekarang sudah pindah ke dalam cincin yang   dicari manis tangan kiri sang prabu berkata jika  tertangkap aku akan mencacah maling yang berani   masuk ke istanaku ini kalau begitu hamba minta  cincin Sosro Ludiro yang dikenakan tuan putri   boleh tidak cincin itu hamba ambil Ayo Putri  cepat serahkan cincin itu aku akan membakarnya   kata batik Sang Putri berpaling membelakangi  sambil matanya berkat aja menahan air mata   Aku tidak akan memberikan apa yang kamu  minta madrim kamu benar-benar sudah gila   ada-ada saja orang kamu minta dan Tidak  sepantasnya kamu seperti orang yang tidak   punya Nalar cincin ini bukan pemberian  Ayah kata Sang Putri pelan dalam wisata   Kenapa ayah percaya pada orang gila ini dan  tidak lebih sayang padaku Ayah telah terkena   guna-gunanya Lebih baik aku mati saja daripada  sengsara di dunia semua disangka maling jelas   tanda orang yang bodoh itu tidak bisa apa-apa  tetapi mengaku pandai jika aku tidak takut pada   Ayahanda aku sudah membunuhnya aku gorok  lehernya dengan tisu lanjut Sang Putri   sang prabu yang mendengar penuturan putrinya  menjadi berpikir dan marah Ia berpikir benar   apa yang dikatakan putrinya benar apa kata anakku  madrim Jika kamu tidak bisa menangkap maling aku   akan memenggal lehermu hingga mati kata Sang  Prabu kemudian batik Madri menjawab silahkan   bunuh hamba jika hamba gagal tetapi maling itu  benar-benar bersembunyi di cincin Sekali Ini Saja   sang prabu hamba janji maling itu pasti tertangkap  boleh tidak boleh hamba minta cincin tuang putri   putri menjawab kamu belum juga puas Aku tidak  akan memberikannya materi memaksa untuk meminta   cincin yang dikenakan Sang Putri ia menghaturkan  sembah kepada raja Bagaimana Hasan hamba mohon   cincin Tuan Putri tinggal yang terakhir ini si  maling bisa bersembunyi sang prabu berkata dengan   lembut berikan cincin Muna jangan sampai ayah  marah dan merebutnya cincin itu ada malingnya   Dewi renggawati bingung hatinya karena  ayahandanya terus memaksa Prabu Angling   Darma berbisik dari dalam cincin sudah berikan  saja Dinda tetapi hempaskanlah cincinmu dengan   sekuat tenaga itu dipatu dekat dengan air  Lihatlah nanti aku akan bertarung dengan madrim ayahandanya terus membujuknya dengan menangis  sedih Sang Putri segera turun sambil melepas   cincin dari jarinya pegal hatiku karena  semua milikku disangka maling sekarang   Coba tangkaplah madrim teriak Sang Putri  sambil menghempaskan cincinnya ke Batu   cincin terpental masuk ke dalam air  berupa menjadi seekor katak hijau batik   madrim menghaturkan sembah kepada raja lalu  mengubah dirinya menjadi burung dara putih   burung dara putih terjun ke air memburu sikatan  hijau paruhnya mematuk-matuk berusaha menangkap   katak tetapi tidak bisa sang prabu tercengang  melihat pemandangan di hadapannya katak hijau   tiba-tiba berubah menjadi burung alap-alap putih  lalu menyambar si darah putih burung dara putih   jelmaan lalu berubah menjadi tikus putih yang  besar alat-alat dikejar tidak tertangkap malahan   berubah menjadi seekor kucing candrawa yang  tidak kalah besar kucing berusaha Menangkap   tikus tetapi juga luput Prabu Angling Darma  mengubah dirinya menjadi macan batik merasa   kerepotan lalu mengubah dirinya menjadi  singa putih yang lebih besar singa putih   menyambar-nyambar berusaha menangkap si Macan  Putih tetapi selalu gagal sang prabu Angling   Dharma yang berwujud macan putih lalu melesat  ke udara berubah menjadi api yang menyala-nyala   suaranya bergemuruh membuat Geger orang-orang  Puja negara dan menyangka akan terjadi hujan api orang-orang Mari tunggang langgeng hingga  saling tabrak untuk menyelamatkan diri sang   prabu Bojonegoro masuk perlindungan  rawit toko gelar ditunggang langgang   menabrak para dayang yang terus  lari jatuh bangun sambil mengomel Prabu Angling Dharma sesumbar menantang batik  madrim batik madrim Ayo hadapi aku teriaknya   batik Madri menjawab Paduka hamba tidak  bermaksud berani melawan 4 luka ampunkan   hamba-hamba sudah tobat sekarang turunlah  Paduka hamba tidak ingin bertarung dengan   Paduka dan tidak berniat menikahi Sang Putri  hamba hanya bermaksud mencari baduka sekarang   kembalilah Paduka berwujud manusia sekarang  telah lega Hati Hamba karena telah bertemu   dengan Paduka kembalilah ke wujud semula  jika Paduka bermaksud menikah hamba yang   akan mengirimkan setelah itu Pulanglah Paduka  Kemal papat kerajaan rusa rakyat bersedih dan   sengsara seluruh tanaman yang ditanam juga  tidak ada yang tumbuh sejak Paduka tinggalkan

No comments:

Post a Comment

Kisah-legenda

Dahulu, wilayah bangsa Indonesia pernah menguasai lebih 2/3 Muka Bumi?

Misteri Candi Cetho, Candi Sukuh dan Candi Penataran Candi Cetho •  Cetho Temple ( lat=-7.5957324 ; lon=111.1582518)  • * Candi Sukuh •  Suk...