Wednesday, December 13, 2023

Ilmu Jawa kuno

 Rahasia ilmu Jawa Aji pameleng tata cara Samadi atau Hening disebut juga Aji pameleng yang bermakna Aji atau Ratu pameleng atau konsentrasi Tapa bertapa mengandung maksud sebuah niat yang paling utama untuk bertapa atau Samadi bertapa Samadi disebut juga menekung Tafakur Puja prata mengendalikan Budi mengendalikan Cipta menenangkan raga Yoga dan sebagainya tempat untuk menjalankan hal tersebut dinamakan pertapaan Pak murjitan pamor setan dan lain sebagainya [Musik] sedangkan teorinya disebut Taiwan tawan Tirta Amerta Tirta Kamandanu Tirta Nirmalasari kawasan [Musik] ataupun sastra Jenderal hayuningrat bank luar negeri dan lain sebagainya sedangkan manfaat ilmu Samadi dan tindakan yang demikian digunakan sebagai sarana menyempurnakan dalam menjalankan ibadah agar mendapatkan keselamatan hidup sebab bisa sebagai sarana untuk bisa melakukan tindak laku utama dengan sempurna dan juga bisa digunakan sebagai sarana ketika dia ada hajat keperluan yang sangat penting untuk memohon anugerah Hidup kepada Tuhan Yang Maha murah, sedangkan Mengapa di dunia ada ilmu tata cara bertapa atau Hening Samadi yang demikian menurut dari kata-kata tersebut Ternyata banyak yang berasal dari bahasa Sansekerta dengan demikian terbukti bahwa ilmu Samadi berasal dari ilmu para peserta payugi dari Hindu India pada zaman dahulu barangkali saja bersamaan dengan ketiga bangsa Hindu membuat candi-candi dan patung-patung pada saat itu awal mula ilmu tersebut hanya untuk bangsa Hindu tidak terkecuali bangsa Hindu yang beragama apa saja akan bisa melakukan Samadi sebab hanyalah ilmu Samadi ini saja yang menjadi pembuka ilmu di seluruh dunia dan juga menjadi ujung tombak dalam ilmu agama lama-kelamaan bangsa Hindu merantau ke tanah Jawa dan ke berbagai negara lain serta juga mengajarkan agama dan ilmu yang dianutnya demikian juga ilmu Samadi juga tidak ketinggalan ilmu Samadi di tanah Jawa bisa berkembang dengan subur sebab masyarakat Jawa tidak pilih-pilih ilmu dan juga orang Jawa senang berguru dan bisa menjalankan dengan sempurna ilmu apa saja yang masuk ke Tanah Jawa [Musik] sebab ilmu yang demikian bisa selaras dengan dasar jiwa orang Jawa sehingga orang Jawa dengan mudahnya bisa menerima ilmu tersebut ditambah juga dengan banyaknya orang Hindu yang pergi ke tanah Jawa dengan tujuan berdagang menyebarkan agama dan juga ilmu bijaknya sekejap saja hampir semua orang di Jawa masa itu memeluk agama Hindu [Musik] kemudian disusul dengan datangnya bangsa Arab ke tanah Jawa yang juga dengan membawa ilmu dan agama Nabi Muhammad yaitu agama Islam sehingga sedikit mengurangi perkembangan agama Hindu sebab banyak juga orang Jawa yang memeluk agama Islam hanya saja agama Islam tidak mempunyai ilmu Samadi sebagaimana tersebut di atas ketika Islam telah berkuasa dengan berhasil mendirikan kerajaan Demak Bintara kemudian negara melarang orang jawa untuk menyebar luaskan ilmu Samadi demikian juga dipaksa berganti agama untuk memeluk agama Islam namun tidak semua orang Jawa mau masuk untuk memeluk agama Islam walaupun telah memeluk agama Islam namun tidak sepenuhnya menjalankan syariatnya hanya sebatas karena takut pada hukuman Raja saja sehingga agama Islam yang dianut hanya sebatas luar atau di lahir saja, dalam jiwa dan batin mereka masih tetap beragama Hindu sehingga ilmu sama di masih tetap dijalankan hanya saja dengan cara sembunyi-sembunyi dan dilakukan pada malam hari di atas jam 12 malam Sedangkan tempat untuk bertapa di tempat yang tidak terhalang apapun yaitu di tempat terbuka yang luas seperti di dalam hutan di sungai dan sebagainya asal saja tempat yang benar-benar sepi di ajarkan dengan cara bisikan tidak boleh terdengar oleh siapapun walaupun oleh dedaunan rumput hewan dan juga hewan kecil yang merayap di tanah juga tidak boleh mendengar jika ikut mendengar maka mereka yang mendengar akan berubah menjadi manusia [Musik] sehingga diajarkan dengan cara guru duduk berhadapan dengan cara beradu dan murid dan guru berpesan bahwa apa yang diajarkan tidak boleh Diberitahukan kepada siapapun juga tanpa izin dari Sang Guru jika dilanggar maka sang murid akan mendapat celaka karena akan mendapat hukuman dari Tuhan cara yang demikian bertujuan agar ajaran ilmu Samadi tidak bisa diketahui oleh pemerintah yang berpedoman pada ajaran agama Islam sebab apabila sampai ketahuan akan mendapat hukuman yang sangat berat sampai dengan zaman sekarang walaupun negara sudah tidak melarang dengan adanya ilmu Samadi namun cara menyebar luaskan ajaran tersebut masih tetap sama dengan cara sembunyi-sembunyi seperti dijelaskan di atas sehingga mendapat julukan oleh orang yang tidak suka ajaran tersebut atau oleh orang yang beragama Islam bahwa ajaran ilmu Samadi tersebut disebut ilmu klenik berasal dari kata klonik sehingga di tanah Jawa ada sebutan lapangan dan putihan merah dan putih yang diberi julukan abangan adalah orang Jawa Islam yang tidak menjalankan syariat agama Islam sedangkan putihan adalah sebutan bagi orang Jawa yang menjalankan sepenuhnya Syariat agama Islam disebut Santri sehingga santri disebut juga putihan sebab pada umumnya pakaian yang digunakan oleh santri yang beragama Islam itu lebih bersih dibanding dengan orang Jawa yang tidak beragama Islam kembali kepada ilmu Samadi bahwa disebut ilmu rahasia Dikarenakan seperti Keterangan tersebut di atas sedangkan yang sesungguhnya nama ajaran rahasia itu sebetulnya tidak ada sehingga boleh-boleh saja diajarkan kepada siapa saja baik kepada yang mudah atau juga kepada yang sudah berumur tua dan juga boleh diajarkan sewaktu-waktu Kapan saja apabila ada seseorang yang benar-benar sangat membutuhkan ilmu sama di tersebut sebab tata cara yang demikian itu agar ajaran tersebut bisa diketahui oleh orang banyak lebih-lebih bahwa ilmu Samadi tersebut ternyata menjadi pembuka dari semua ilmu sehingga wajib disebarluaskan agar menjadi pengetahuan bagi generasi muda ataupun juga yang sudah tua [Musik] tanpa melihat tinggi rendah dari martabat dan derajat seseorang tibalah Pada suatu masa ada cerita kejadian yang tidak disangka-sangka di belakang hari ilmu Samadi atau Hening tersebut bisa diterima oleh orang Islam Sebab mereka percaya bahwa ilmu sama dia atau Hening tersebut memang benar sebagai puncak ilmu yang bisa menghantarkan kepada keselamatan kehormatan ketentraman dan sebagainya sehingga ilmu Samadi atau Hening tersebut oleh seorang yang telah terbuka pintu hatinya dengan kebenaran yang bernama Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang yang nama aslinya San Ali Anshar ada juga yang menyebut kawasan Ali Anshar yang kedudukan tingkat ilmunya juga sebagai pemuka agama setingkat Wali kemudian digubah olehnya di kitabuatannya yang disebut Daim mengambil dari asal kata daiwan yang kemudian digunakan sebagai tata cara dalam melakukan ibadah [Musik] dengan cara dirubah susunan katanya menjadi sholat Daim sholat yang tiada terputus sehingga oleh ajaran Syekh Siti Jenar salat terbagi menjadi dua yaitu salat lima waktu disebut salat syariat salat lahir yang kedua sholat Daim sholat ini adalah sholat di dalam batin mengandung maksud juga menyatukan rasa diri pribadi dengan Tuhan atau dalam bahasa Jawa disebut Manunggaling kawulo Gusti atau loro neng a tunggal 2 menjadi satu kita buatan Syekh Siti Jenar kemudian digunakan sebagai pedoman dalam ajaran tersebut setelah berhasil mendapatkan perhatian oleh orang banyak disitu sholat 5 waktu dan Syariat agama Islam oleh pengikut Syekh Siti Jenar [Musik] acaranya banyak yang ditinggalkan ataupun tidak di ajarkan lagi Perhatian para penyebar ilmu murid Syekh Siti Jenar hanya mengajarkan sholat Daim saja [Musik] sehingga orang Jawa yang semula sudah memeluk agama Islam terlebih lagi yang belum semua condong dan berguru kepada Syekh Siti Jenar [Musik] sebab acaranya lebih mudah terang dan nyata Sedangkan ilmu Samadi yang dikembangkan oleh Syekh Siti Jenar berasal dari Ki Ageng Pengging sebab Syekh Siti Jenar adalah Masih saudara dari Ki Ageng Pengging. ilmu Samadi oleh Syekh Siti Jenar di ajarkan kepada Raden watiswara juga bernama Pangeran panggung yang juga dia mempunyai derajat Wali kemudian diajarkan kepada Sunan Geseng yang juga bernama kicak Raja ya yang berasal dari daerah pageland yang dalam cerita ketika dia belum menjadi wali mempunyai pekerjaan deres mengambil air sari bunga pohon kelapa untuk dibuat menjadi gula kelapa kemudian olehnya di acara kan kepada orang banyak [Musik] demikian juga para sahabat Syekh Siti Jenar yang telah terbuka hatinya oleh ajaran Syekh Siti Jenar disuruh mendirikan perguruan untuk menyebarkan ilmu Samadi tersebut. 

Semakin lama semakin banyak dan berkembang sehingga berhasil menyaingi bahkan melemahkan kekuasaan Wali yang lain dalam hal menyebarkan ilmu agama Islam, sehingga banyak masjid yang kosong untuk menanggulangi keadaan yang demikian agar tidak semakin berkembang luas maka Ki Ageng Pengging dan juga Syekh Siti Jenar beserta pengikutnya semuanya dihukum penggal oleh para wali yang mendapat perintah dari Sultan Demak demikian juga pangeran panggung tidak ketinggalan pula dihukum dengan cara dibakar di tengah alun-alun Demak untuk dijadikan contoh agar supaya orang-orang dan para pengikutnya menjadi takut dengan harapan supaya bersedia meninggalkan ajaran Syekh Siti Jenar dalam cerita tersebut tubuh Pangeran panggung tidak bisa terbakar api kemudian dia keluar dari dalam api dan meninggalkan kerajaan Demak ada salah satu kisah cerita bahwa pada saat Pangeran panggung sedang berada di dalam api Pangeran panggung mengarang kitab yang diberi nama suluk Malang sumirang, tembang macapat yang termuat di dalam buku suluk walisanga karangan Sunan Giri Kedua jenis lagu Jawa sebelum meninggalkan Demak buku itu diserahkan kepada Raja Demak dan pada saat Pangeran panggung pergi meninggalkan api. Sultan Bintara dan para punggawa kerajaan beserta para wali kalah Wibawa oleh kesaktian Pangeran panggung sehingga termangu dan tidak bisa berbuat apa-apa bagaikan tersihir setelah Pangeran panggung berkicau barulah Sultan Demak dan para wali sadar bahwa Pangeran panggung selamat dari hukuman bakar sehingga mereka merasa kalah oleh kesaktian Pangeran panggung yang mendapat Anugerah kasih sayang dari Tuhan Kemudian datang tunggal kerajaan melapor bahwa Sunan Geseng atau Cakra Jaya pergi juga menyusul langka Pangeran panggung kemudian setelah sadar barulah muncul kemarahan Sultan Demak sehingga kemudian menyuruh prajuritnya untuk membunuh sahabat dan semua murid Syekh Siti Jenar yang telah berhasil ditangkap sedangkan yang tidak tertangkap melarikan diri mencari selamat para sahabat dan murid Syekh Siti Jenar yang masih hidup di dalam pelariannya kemudian mendirikan perguruan dan terus melestarikan ajaran ilmu Samadi namun dengan cara ditutupi dengan ajaran syariat Islam seperti pada umumnya agar tidak diganggu ataupun dilarang oleh para wali pembela Kerajaan Demak sedangkan isi acaranya sebagai berikut cara pengajaran ilmu Samadi yang kemudian disebut salat tahim dibarengi dengan pengajaran sholat 5 waktu juga rukun Islam lainnya ajaran salat jaim kemudian diberi nama tarekat sedangkan isi ajaran diberi nama tafakur cara yang lain tata cara dalam cara mengajarkan ilmu tersebut sebelum para murid diberi ajaran salat Daim terlebih dahulu para murid dilatih menjalankan beberapa macam jenis dzikir dan juga membaca ayat-ayat suci Sejak saat itu ajaran ilmu Samadi ada dua macam yaitu 1 ilmu Samadi yang sesuai dengan ajaran yang diajarkan oleh para murid Syekh Siti Jenar yang ditutupi atau oleh ajaran rukun Islam ajaran tersebut pada zaman selanjutnya mengalami perubahan karena tidak sesuai lagi dengan ajaran pada awal ilmu itu ada sehingga para guru pada zaman sekarang dalam menyampaikan pengajaran ilmu Samadi yang telah berganti nama menjadi tarekat mengira bahwa ilmu tersebut berasal dari Jabal kuber atau Mekah walaupun acara tarekat yang asli itu ada dan cara pengajarannya tidak sama seperti tersebut di atas sehingga para Kyai guru agama Islam memberi julukan guru Leni kepada para guru yang mengajarkan ilmu Samadi yang berpedoman pada ajaran Jawa yang bersumber dari ajaran Syekh Siti Jenar dan para Kyai guru tersebut memberi julukan nama giniai mengandung maksud guru yang mengajarkan ilmu setan sedangkan sebutan Kyai adalah hanya untuk guru yang mengajarkan ilmu Nabi dua ajaran ilmu sama di cara Jawa yang bersumber dari Ki Ageng Pengging yang dikembangkan oleh Syekh Siti Jenar [Musik] jaman sekarang diberi julukan klenik tersebut pada awalnya berdasar pada lima pedoman sebagaimana berikut sangat bersungguh-sungguh dan jujur 2 Santosa berbuat adil tanggung jawab tidak berbuat semaunya sendiri 3 benar dalam semua pekerjaan sabar kasih sayang pada sesama tidak mengumpulkan dirinya sendiri tidak berwatak kejam [Musik] 4 pintar saliring dalam banyak ilmu terlebih lagi pandai menjaga perasaan sesama serta bisa mengendalikan Nafsu amarah dalam diri tidak serakah terhadap harta benda 5 susilaan olahraga selalu bersikap sopan santun serta bersikap yang bisa menyenangkan orang lain dan juga indah dalam berkata-kata apalagi terhadap orang yang sedang menderita kesusahan tindakan lima macam tersebut harus dilakukan bersama saat ketika menjalankan sama di yaitu mengendalikan Cipta Mengheningkan Cipta Oleh karena itu menurut ajaran Jawa tentang ilmu Samadi dan juga lima macam tindakan tersebut di atas akan diajarkan kepada semua anak muda atau orang tua tidak memandang tinggi rendahnya kelas dalam masyarakat sebab inti ilmu dan tinggi tingkatan ilmu seseorang apabila tetap dalam menjalankan sama di dan mampu menjalankan 5 ajaran tersebut di atas maka manusia akan mendapatkan ketentraman sedangkan dengan adanya ketentraman menyebabkan hidup merdeka dalam rasa jika tidak demikian sampai dengan akhir zaman seseorang akan mengalami nasib sangsara tergilas oleh roda zaman sebab rusak hati nurani diri [Musik] tentang Ajaran ilmu Samadi yang diberi nama ajaran tarekat yang berasal dari Syekh Siti Jenar telah dijelaskan di muka namun Tata caranya tidak dijelaskan di sini hanya akan menjelaskan tata cara melakukan sama di cara Jawa sebelum tercampur dengan agama lain sebagai berikut semoga para pembaca tidak salah terima [Musik] bahwa Samadi itu akan menghilangkan rasa hidup manusia ataupun akan mengeluarkan roh dari badan pemahaman yang demikian berasal dari pemahaman yang terkandung dalam cerita Sri Kresna raja duarawati atau Arjuna yang sedang menjalankan raga Sukma agar diketahui di sini bahwa cerita demikian hanya sebatas ibarat saja tata cara sama di Jawa adalah sebagai berikut kata Samadi Satu Rasa memusatkan rasa rasa Jati Rasa ketika rasa belum bekerja sedangkan berjalannya rasa disebabkan oleh hasil pengalaman-pengalaman yang diterima atau kejadian-kejadian yang diterima dalam hidup sehari-hari itulah kerja rasa yang disebut berpikir berasal dari kekuatan ilmu pengalaman dan peristiwa hidup sehari-hari Sehingga pikiran manusia bisa menganggap baik dan buruk yang bisa menjadi penyebab tata cara tindakan sikap dan sebagainya yang kemudian akan menjadi kebiasaan [Musik] sedangkan anggapan tentang baik dan buruk yang telah menjadi kebiasaan tersebut apabila buruk memang benar-benar buruk dan apabila baik memang benar-benar baik itu sebetulnya belum tentu benar Hal ini karena hanya disebabkan oleh kebiasaan cara berpikir saja atau anggapan diri sendiri saja anggapan yang demikian tidak mesti benar tetap hanya sebatas kebiasaan tata cara berpikir saja sehingga hal itu bukan yang sebenarnya sedangkan maksud dan tujuan sama dia adalah bertujuan untuk mengetahui dan memahami kenyataan yang sebenarnya atau kacaten sedang Tata caranya adalah dengan memahami dan menghilangkan segala anggapan dari kekuatan daya Pikir sendiri disebut hilangnya tempat dan tulisan setelah berhasil menguasai daya pikir yang demikian maka itu wujud rasa yang sesungguhnya rasa jati yang bisa mengetahui segala sesuatu tanpa petunjuk dalam bahasa Jawa disebut Tanpo tinulis bisa diwoco sedangkan hal demikian akan bisa dicapai dengan cara menghentikan segala pengaruh gerak pikiran dengan cara mengendalikan segala gerak anggota badan mengendalikan pengaruh dari gerakan badan yang paling maksimal adalah dengan cara tidur terlentang tangan bersedap melipat kedua tangan atau kedua tangan diluruskan Kedua telapak tangan ditempelkan di kedua paha kanan dan kiri kaki diluruskan telapak kaki yang kanan di atas telapak kaki kiri sikap yang demikian disebut tidak berkaki satu dan juga memusatkan pandangan atau menghentikan gerak mata tindakan demikian disebut meleng memusatkan mata sikap demikian akan bisa mengendalikan gerak pikiran serta mengendalikan gerak rasa sedangkan pusat titik mata diarahkan dan dipusatkan memandang ujung hidung dengan menyatukan dua titik pandangan mata menjadi satu dengan cara memejamkan kedua mata langkah selanjutnya adalah menata keluar masuknya nafas dengan cara mengendalikan jalannya nafas dimulai nafas berjalan dari puser perut ditarik ke atas melewati pangkal mulut cetak terus dinaikkan ke atas hingga masuk ke dalam otak kemudian ditahan semampunya di dalam kota dalam melakukan tarikan nafas yang demikian dilakukan sampai dengan badan merasa tidak punya daya kekuatan untuk mengangkat apapun sedangkan yang dikendalikan adalah jalannya rasa apabila telah terasa berat dalam menahan nafas kemudian nafas dilepaskan dengan perlahan-lahan sikap yang demikian yang disebut sastra jeda arti dari cetak penempatan ilmu Jeddah suara cetak pangkal mulut yang berat disebut demikian sebab ketika sedang melakukan tarikan nafas dari pusat perut melewati dada terus naik melewati cetak pangkal mulut sampai masuk ke pusat otak apabila jalannya pernapasan tidak dikendalikan maka nafas hanya akan mengikuti jalan nafas Sendiri Saja [Musik] cara nafas yang demikian tidak akan sampai naik masuk ke dalam otak [Musik] sebab nafas baru sampai di Pangkal mulut atau jeda akan turun kembali dan keluar lagi langkah demikian disebut juga Taiwan atau dhawan maksudnya mengendalikan perjalanan nafas yang panjang dan dengan tenang dengan mengucapkan mantra di dalam hati yaitu yang berbunyi hu bersama dengan maksudnya nafas yang berjalan dari puser Jeddah sampai ke pusat otak kemudian mengucapkan ya bersama-sama saat melepaskan nafas yang berjalan dari Pusat Otak sampai ke perut naik dan turunnya perjalanan nafas akan selalu melewati hal demikian disebut sastra Citra sebab ketika mengucapkan mantra sastra dua macam saja akan terasa di dalam cetak pangkal mulut mantra buah macam tersebut dan ya di dalam ajaran tarekat dirubah menjadi berbunyi juga bersamaan dengan perjalanan nafas sedangkan dalam ajaran tarekat sebutan tersebut menjadi H ilaha illallah namun tidak digabung dengan pernapasan pada saat melakukan pernafasan demikian usahakan mengendurkan urat wajah srile-rileknya atau sesanti mungkin dibarengi seolah-olah tersenyum dan mengendurkan erat otak sesanti-santainya dan yang terpenting jangan dibarengi menelan ludah kebiasaan yang biasa terjadi dalam melakukan pernafasan Dengan cara demikian dalam satu angkatan bernapas hanya mampu mengulang sebanyak tiga kali pernapasan biasanya sudah terengah-engah apabila sudah tenang maka diulang lagi tindakan demikian dilakukan berulang-ulang hingga jika semakin lama dan makin banyak dilakukan akan semakin baik sedangkan dalam satu kali angkatan tindakan yang demikian disebut Tri pandurata yang artinya Tri 3 Pandu Suci erat dunia tubuh dan tempat  yang bermakna juga tiga kali tarikan nafas maka itu berarti telah bisa sampai di hadapan yang maha suci yang bertempat di dalam otak atau susunan yang disusun tempat permohonan yaitu yang disebut kawulo Gusti maksudnya ketika kita menarik nafas kita sebagai ibarat Gusti atau Tuhan dan ketika melepas nafas kita kembali sebagai Kawula atau makhluk hal yang demikian diharapkan para pembaca tidak salah menafsirkan bahwa yang disebut kawulo Gusti mahluk dan Tuhan itu bukan nafas kita namun hanya daya kekuatan dari pikiran dan Cipta kita Sehingga dalam inti melakukan Samadi adalah kita harus dengan cara memanjangkan masuk dan keluarnya nafas dengan menjernihkan penglihatan sebab penglihatan adalah terjadi dari pengaruh rasa sedangkan sikap Samadi seperti yang telah dijelaskan di atas juga bisa dengan jalan dipercepat asal dilakukan dengan cara tidak terputus secara mengendalikan jalannya pernafasan bisa dilakukan pada saat duduk berjalan ataupun pada saat bekerja juga Sebaiknya dalam melakukan pernafasan dengan cara tersebut dengan jalan mengucapkan mantra yang berbunyi seperti dijelaskan sebelumnya ataupun juga bisa diganti sesuai dengan keyakinannya masing-masing Selain itu berdasarkan ada Iwan juga masih mempunyai arti yang lain yaitu panjang tidak berujung atau bermakna langgeng [Musik] yang mempunyai maksud bahwa nafas kita adalah sebagai tanda hidup tiap diri pribadi sedangkan bahwa nafas itu ada ditandai dengan adanya keluar dan masuknya angin tanpa berhenti yang bersamaan juga dengan berjalannya detak jantung yang seiring juga dengan perjalanan peredaran darah atau bahwa apabila keduanya berhenti tidak bekerja maka disebut meninggal dunia yaitu rusaknya jasad manusia yang akan kembali kepada asalnya sehingga Sebaiknya dalam bernafas diusahakan dipancangkan juga agar umur kita bisa panjang untuk hidup di dunia dengan adanya uraian di atas menunjukkan bahwa ilmu Samadi ternyata besar manfaatnya sehingga disebut juga Sastra Jendra hayuningrat artinya sastra atau ilmu Jendra berasal dari kata Harja dan Endra artinya Harja bahagia Hendra Raja Yu selamat ningrat Dunia tempat atau badan mengandung maksud mustika dari ilmu yang bisa menyebabkan keselamatan hidup kebahagiaan hidup ketenangan hidup dan lain sebagainya sedangkan makna dari bangun ruang Asura sebagai lambang dari kejahatan penyakit kotoran bahaya pikiran gelap kebodohan dan sebagainya sehingga sifat hiu itu berlawanan dengan Tuhan yaitu pandai indah selamat dan sebagainya mengandung maksud juga bahwa bagi siapa saja yang bisa mengalahkan segala kejahatan dan segala penghalang hidup artinya bagi siapa saja yang selalu menjalankan sama dia yang tiada henti maka apabila dilakukan oleh manusia jahat akan hilang sifat jahatnya dan akan berubah menjadi orang baik orang yang sedang sakit akan hilang sakitnya orang Angkara Murka orang kejam akan menjadi orang sabar menerima apa adanya dan jadi orang yang penyayang jika dilakukan oleh pembohong akan berubah menjadi orang jujur bodoh akan menjadi pintar dan sebagainya bisa juga untuk menghilangkan segala macam bencana dan segala rencana jahat bahaya dan halangan apapun yang tumbuh dari kegelapan jiwa diri pribadi semuanya akan hilang musnah lebur dening pangastuti karena menjalankan ulah sama di demikian juga bisa membentengi diri dari serangan bahaya yang berasal dari perbuatan orang lain dan juga makhluk lainnya baik yang berupa hewan yang jahat atau juga makhluk halus yang jahat akan musnah terbakar dari kewibawaan ahli Samadi atau hening harapan penyunting bahwa akan lebih sempurna apabila menjalankan ajaran kebaikan dari teori yang didapat dari luar diri apabila diimbangi dengan keadaan sucinya hati karena ulah Samadi yang dilakukan dengan olah rasa Tafakur dan Samadi apabila melakukan ajaran kebaikan akan semakin sempurna dan tidak kaku karena bukan hanya berdasar teori dalam ilmu syariat saja tapi juga dengan olah rasa sehingga kebenaran mutlak akan menjadi pedoman dalam segala tindak perbuatan dirinya.

Sebuah pemahaman tentang tatanan jagad raya

*Menuturkan tentang proses terciptanya Kahyangan, digelarnya Alam Semesta, Penciptaan Bumi dan Manusia, juga struktur pengelolaan serta hirarki dalam Alam Semesta. Tulisan ini dimaksudkan agar kita lebih paham akan tatanan alam Jagad Raya, lebih menghargai semesta dan menghargai proses penciptaan dalam versi Pakem yang termasuk dalam kategori 'Sastra Jendra'.*

Babaran ini merupakan penggal kecil dari Serat Praniti Radya yang dibuat oleh Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya, Maharaja Nuswantara dari Kerajaan induk Dahana Pura.

Awalnya Kahyangan

Pada awalnya, saat Alam Semesta ini masih suwung [kosong], belum ada kehidupan, tidak ada

bintang, tidak ada planet-planet, dan tidak ada unsur apapun, hanya terdapat sebuah sosok yang bernama Sang Hyang Ogra Pesti, wujud Beliau tidak kelihatan karena diselimuti oleh cahaya yang sangat berkilau.

01. Sang Hyang Ogra Pesti yang tak lain adalah Sang Maha Pencipta Sang Hyang Ogra Pesti kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Bramana Wasesa.

02. Sang Hyang Bramana Wasesa

Sang Hyang Bramana Wasesa kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Toya Wasesa.

03. Sang Hyang Toya Wasesa

Sang Hyang Toya Wasesa kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad.

04. Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad

Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Jagad Pramana.

05. Sang Hyang Jagad Pramana

Sang Hyang Jagad Pramana kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana.

06. Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana

Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Jagad Kitaha.

07. Sang Hyang Jagad Kitaha

Sang Hyang Jagad Kitaha kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Atmana.

08. Sang Hyang Atmana

Sang Hyang Atmana kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Atmani.

09. Sang Hyang Atmani

Sang Hyang Atmani kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Arta Etu. 10. Sang Hyang Arta Etu

Sang Hyang Arta Etu kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wilangan.

11. Sang Hyang Wilangan

Sang Hyang Wilangan kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Kasaha Etu Jagad.

12. Sang Hyang Kasaha Etu Jagad

Sang Hyang Kasaha Etu Jagad kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Tunggal.

13. Sang Hyang Tunggal

Sang Hyang Tunggal kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wenang atau yang dikenal juga dengan nama Sang Hyang Pada Winenang.

14. Sang Hyang Wenang

Sang Hyang Wenang kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wening.

15. Sang Hyang Wening

Semua Sang Hyang mulai dari Sang Hyang Ogra Pesti sampai Sang Hyang Wening tinggal di Kahyangan Alang-Alang Kumitir.

Mulai dari Sang Hyang Ogra Pesti sampai dengan Sang Hyang Tunggal tinggal di Kahyangan Alang-Alang Kumitir bagian atas yang disebut dengan Kahyangan Puncak Pemalang, sedangkan Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Wening tinggal di Kahyangan Alang-Alang Kumitir bagian bawah yang disebut dengan Kahyangan Ondar-Andir Bawana. Di antara Kahyangan Puncak Pemalang dengan Kahyangan Ondar-Andir Bawana terdapat gerbang pembatas yang disebut Kori Pengapit.

Sang Hyang Wening atas seijin dari sang rama yaitu Sang Hyang Wenang kemudian menciptakan

Kahyangan Manik Maninten yang letaknya di bawah Kahyangan Alang-Alang Kumitir dan juga menciptakan sebuah telur. Kemudian telur diremas dan pecah menjadi 3 bagian, dan semua bagian melayang-layang.

Bagian pertama adalah kulit atau cangkang telur yang walaupun remuk dan retak-retak tetapi tetap melayang-layang, begitu juga bagian isi yaitu putih telur dan kuning telur, akan tetapi pada awalnya bagian putih telur dan kuning telur masih menyatu dan tersambung.

Kemudian oleh Sang Hyang Wening, bagian cangkang telur disabda menjadi sosok yang bernama Sang

Hyang Batara Antiga atau nama lainnya adalah Teja Mantri. Setelah itu putih telur dan kuning telur dipisah oleh Sang Hyang Wening, dari putih telur disabda menjadi sosok yang bernama Sang Hyang Batara Ismaya sedangkan bagian kuning telur yang masih melayang-layang kemudian ditangkap dan disabda menjadi sosok yang bernama Sang Hyang Batara Manik Maya.

Ketiganya; yaitu Sang Hyang Batara Antiga, Sang Hyang Batara Ismaya dan Sang Hyang Batara Manik

Maya berparas sangat tampan dan tinggal rukun di Kahyangan Manik Maninten dan setelah itu Sang Hyang Wening kembali ke Kahyangan Alang-Alang Kumitir. Sang Hyang Batara Antiga adalah Dewa yang pertama kali mencoba untuk keluar dari Kahyangan Manik Maninten dan mencoba meniru kebisaan dari Sang Hyang Wening dengan melakukan berbagai sabda, karena kesalahan sabda maka terciptalah para lelembut yang jumlahnya sangat banyak.

Para lelembut yang terdiri dari para drubiksa (raksasa) dan brekasakan itu berjumlah sangat banyak dan karena terwujud dari sabda yang salah maka mereka tidak mempunyai logika, dikarenakan para lelembut itu membutuhkan tempat, maka Sang Hyang Wening kemudian menciptakan Kahyangan Setra Ganda Layu yang letaknya ada di bawah dari Kahyangan Manik Maninten.

Kemudian, Sang Hyang Wening merasa sudah tiba saatnya ketiga anak-nya dibuatkan pasangan

sehingga dapat mempunyai keturunan, maka ditawarkanlah kepada mereka untuk dibuatkan pasangan

hidup.

Sebagai putra tertua, Sang Hyang Batara Antiga memilih untuk menjadi wadat [tidak mempunyai

pasangan], sementara kedua adiknya bersedia. Maka Sang Hyang Wening mengambil bagian dari Sang

Hyang Batara Ismaya dan disabda menjadi Sang Hyang Batari Kanestren yang kemudian menjadi

pasangan hidup [istri] dari Sang Hyang Batara Ismaya, juga kemudian mengambil bagian dari Sang

Hyang Batara Manik Maya dan disabda menjadi Sang Hyang Batari Uma yang kemudian menjadi istri

dari Sang Hyang Batara Manik Maya.

Dari pasangan Sang Hyang Batara Ismaya dengan Sang Hyang Batari Kanestren dan Sang Hyang

Batara Manik Maya dengan Sang Hyang Batari Uma inilah awal terjadinya proses reproduksi atau

mempunyai keturunan.

Keturunan atau anak dari Sang Hyang Batara Ismaya dengan Sang Hyang Batari Kanestren adalah :

Sang Hyang Batara Wungkuam

Sang Hyang Batara Yamadipati

Sang Hyang Batara Surya

Sang Hyang Batara Kuwera

Sang Hyang Batara Kamajaya

Sang Hyang Batari Darmanastiti

Sang Hyang Batara Hananta Boga

Sang Hyang Batara Baruna

Sang Hyang Batara Wisnu

Sang Hyang Batara Platuk Temboro

Keturunan atau anak dari Sang Hyang Batara Manik Maya dengan Sang Hyang Batari Uma adalah :

Sang Hyang Batara Sambo

Sang Hyang Batara Brama

Sang Hyang Batara Indra

Sang Hyang Batara Bayu

Kelak kemudian Sang Hyang Wening menciptakan pasangan buat putra-putri para Batara dan Batari itu

dan menciptakan Kahyangan untuk mereka yang letaknya di bawah Kahyangan Manik Maninten tetapi

di atas Kahyangan Setra Ganda Layu. Lalu dari para Batara dan Batari itu lahirlah putra-putri mereka yaitu para Dewa dan Dewi, kemudian

dibuatkanlah Kahyangan oleh Sang Hyang Wening untuk para Dewa-Dewi itu yang letaknya di bawah

Kahyangan dari para Batara-Batari dan di atas Kahyangan Setra Ganda Layu.

Para Dewa dan Dewi kemudian saling berpasangan dan lahirlah putra-putri mereka yaitu para Widadara

dan Widadari, kemudian dibuatkanlah Kahyangan oleh Sang Hyang Wening untuk para Widadara-

Widadari itu yang letaknya di bawah Kahyangan dari para Dewa-Dewi dan di atas Kahyangan Setra

Ganda Layu.

Para Widadara dan Widadari kemudian saling berpasangan dan lahirlah putra-putri mereka yaitu para

Hapsara dan Hapsari, kemudian dibuatkanlah Kahyangan oleh Sang Hyang Wening untuk para

Hapsara-Hapsari itu yang letaknya di bawah Kahyangan dari para Widadara-Widadari dan di atas

Kahyangan Setra Ganda Layu. Para Hapsara dan Hapsari tinggal di Kahyangan yang bernama

Kahyangan Suralaya, mereka dikenal juga dengan sebutan Dang Hyang atau Danyang.

Saat itu para penghuni di Kahyangan Setra Ganda Layu sudah terlalu banyak, banyak lelembut dan

drubiksa [raksasa] yang memang tidak mengetahui nilai-nilai tataran mulai jahil dengan seenaknya

mengunjungi Kahyangan Suralaya maupun Kahyangan lainnya.

Hal itu yang kemudian membuat Sang Hyang Wening merencanakan untuk mulai menggelar jagad

raya, dengan menciptakan Sela Matangkep atau Pintu Pengarip sebagai batasan dunia, jadi para

penghuni Kahyangan Setra Ganda Layu tidak dapat lagi dengan seenaknya naik ke Kahyangan

Suralaya dan Kahyangan-Kahyangan lain yang lebih tinggi.

Sela Matangkep dijaga oleh Cingkara Bala dan Bala Upata yang tidak memperbolehkan sesiapapun

dapat memasuki dunia luhur tanpa menyebutkan kata sandi yang benar. Gelar Jagad

Atas sabda dari Sang Hyang Wening, kemudian diutuslah Sang Hyang Batara Ismaya, Sang Hyang

Batara Brama, Sang Hyang Batara Indra, Sang Hyang Batara Surya, Sang Hyang Batari Ratih, Sang

Hyang Batara Bayu, Sang Hyang Batara Hananta Boga, Sang Hyang Batara Baruna dan Sang Hyang

Batara Wisnu untuk menciptakan tempat di luar Sela Matangkep.

Saat itulah baru terciptanya dunia, dimulai dengan adanya Bintang yang diciptakan oleh Sang Hyang

Batara Ismaya atau dikenal juga dengan nama Sang Hyang Batara Kartika. Sang Hyang Batara

Brama bersama-sama dengan Sang Hyang Batara Hananta Boga dan Sang Hyang Batara Wisnu

menciptakan Bumi dan planet-planet yang lain.

Bumi sendiri diciptakan awalnya dari sebuah gumpalan api yang dibuat oleh Sang Hyang Batara Brama yang kemudian dilapisi oleh jangkar bumi dan cangkang bumi oleh Sang Hyang Batara Hananta Boga dan Sang Hyang Batara Surya memindahkan kaki Kahyangan Ekacakra mendekati Bumi yang sekarang kita kenal dengan nama Matahari.

Kemudian Sang Hyang Batari Ratih juga memindahkan kaki Kahyangan Cakra Kembang ke dekat Bumi yang kita kenal dengan nama Bulan, Sang Hyang Batara Bayu menciptakan atmosfir serta Sang Hyang Batara Indra menciptakan hujan. Bumi pada waktu itu masih panas karena belum ada lautan.

Baru setelah itu diturunkanlah para lelembut dan drubiksa ke Bumi atau Arcapada, akan tetapi ternyata setelah itu terjadi saling serang antara mereka untuk memperebutkan wilayah yang mereka sukai.

Sehingga kemudian diturunkan juga para Hapsara dan Hapsari serta para Widadara dan Widadari ke Arcapada untuk membuat hirarki di Arcapada agar terjadi kestabilan dan keamanan di Arcapada.

Kemudian oleh Sang Hyang Wening diciptakanlah Dang Hyang Jagad Penjuru Bumi :

- Untuk Jagad Wetan [timur] ditempati oleh Pecuk Pecu Kilan.

- Untuk Jagad Kulon [barat] ditempati oleh Cakrawangsa.

- Untuk Jagad Lor[utara] ditempati oleh Kaneka Putra.

- Untuk Jagad Kidul [selatan] belum terisi, tapi kemudian ditempati oleh Andana dan Andini.

- Untuk Jagad Awang-Awang [angkasa] dipercayakan kepada Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara. 

 Setelah situasi di Arcapada cukup aman, baru kemudian oleh Batara-Batari yang ditugaskan [tanpa Sang Hyang Hananta Boga] diciptakanlah tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan. Biji dan benih untuk daratan dibawa oleh Sang Hyang Batari Pertiwi, biji dan benih untuk dasar samudera dibawa oleh Sang Hyang Batari Urang Ayu, serta para hewan di bawa oleh Sang Hyang Batara Gana. . 

Manusia Tercipta

Adalah Sang Hyang Batara Brama yang pertama kali menciptakan manusia, diambil dari tanah dan dibuat dengan kepalan tangannya, karena Sang Hyang Batara Brama adalah Dewa Api maka wujud manusia yang dibuat terlalu gosong, makanya kemudian disebut dengan Bangsa Keling. Proses penciptaan manusia pertama itu terjadi di daratan Jawa di Gunung Bromo, dan manusia yang diciptakan saat itu suhunya sangat panas untuk tinggal di dataran rendah sehingga mereka hanya dapat hidup di ketinggian yang suhunya lebih dingin.

Kemudian Sang Hyang Batara Wisnu juga menciptakan manusia dan terwujudlah sosok manusia yang lebih baik dan sempurna [seperti manusia sekarang ini], kejadian itu masih di daratan Jawa di Gunung Pawinihan [sekarang Gunung Wilis]. Tetapi saat itu manusia ciptaan Sang Hyang Batara Wisnu kondisi suhunya masih sama karena hanya mampu tinggal di tempat dingin. Manusia ciptaan itu menjadi rebutan dari para Hapsara dan Hapsari untuk dimomong oleh mereka.

Maka diaturlah agar manusia mempunyai keturunan dulu dan kemudian anak-anak mereka langsung di bawa oleh para Hapsara dan Hapsari untuk kemudian wajahnya dibentuk sesuai dengan wajah dari para Hapsara dan Hapsari yang memomongnya. 

Hal ini dilakukan atas sabda dari Sang Hyang Wening agar Arcapada dapat dipenuhi oleh manusia untuk keseimbangan alam semesta.

Delapan Batara dan Batari yang ikut dalam proses penciptaan manusia dan Prawita Sari [air suci keabadian], yaitu Sang Hyang Batara Ismaya, Sang Hyang Batara Brama, Sang Hyang Batara Indra, Sang Hyang Batara Surya, Sang Hyang Batari Ratih, Sang Hyang Batara Bayu, Sang Hyang Batara Baruna dan Sang Hyang Batara Wisnu inilah yang disebut dengan Hasta Brata, Hasta berarti delapan dan Brata berarti laku, watak, atau sifat utama yang di ambil dari sifat alam.

- Sang Hyang Batara Ismaya/ Sang Hyang Batara Kartika mewakili sifat Bintang

- Sang Hyang Batara Brama mewakili sifat Api

- Sang Hyang Batara Indra mewakili sifat Langit/ Angkasa

- Sang Hyang Batara Surya mewakili sifat Matahari

- Sang Hyang Batari Ratih mewakili sifat Bulan

- Sang Hyang Batara Bayu mewakili sifat Angin

- Sang Hyang Batara Baruna mewakili sifat Air

- Sang Hyang Batara Wisnu mewakili sifat Bumi/ Tanah

Kemudian para Batara-Batari dan Dewa-Dewi turun ke bumi dan mulai mengajarkan pola kehidupan kepada umat manusia, hal itu dilakukan agar manusia kemudian secara otomatis dan naluri akan mengajarkan kepada keturunannya juga, sehingga tidak perlu setiap generasi berikutnya dari keturunan manusia yang lahir, para Batara-Batari dan Dewa-Dewi harus turun ke Arcapada untuk mengajarkan pola yang sama.

Beberapa pola kehidupan yang diajarkan kepada manusia itu antara lain :

- Sang Hyang Batara Brama mengajarkan manusia cara membikin perkakas.

- Sang Hyang Batara Wisma Karma mengajarkan manusia cara membikin rumah tinggal.

- Sang Hyang Batara Iswara mengajarkan manusia cara berbicara dan manembah.

- Sang Hyang Batara Wisnu mengajarkan aturan antar manusia, aturan-aturan berkehidupan untuk tidak saling menjegal.

- Sang Hyang Batara Mahadewa mengajarkan manusia caranya membuat perhiasan dan pakaian.

- Sang Hyang Batara Cipta Gupta mengajarkan manusia caranya mengenal dan membuat warna-warni.

- dan lain-lain

Manusia-manusia awal yang tercipta di Arcapada ini baik yang di Gunung Bromo maupun yang di Gunung Pawinihan dinamakan Bangsa Keling dari kata 'kelingan' yang mengingatkan tentang awal penciptaan, struktur komunal pertama manusia dinamakan Kerajaan Keling dengan Kraton-nya beradadi lereng Gunung Pawinihan yang dipimpin oleh Sang Maha Prabu Radite yang merupakan wujud lain dari Sang Hyang Batara Surya yang ngejawantah. Semua peristiwa sebagai bagian dari awal peradaban ini terjadi di jaman sedang Kala Kukila pada jaman besar Kali Swara, di mana saat itu putaran Bumi masih belum stabil. Tri Loka Buana. Sang Hyang Wening merasa sudah saatnya setelah jagad di gelar harus ada hirarki keseluruhan untuk menata alam semesta ini. Untuk memimpin jalannya kehidupan Alam Semesta akan dipilih seorang pimpinan yang bergelar Ratu Tri Loka Buwana [Tri = tiga, Loka = tempat, Buwana = dunia] yang menguasai 3 dunia; Arcapada [Bumi, dunia di mana manusia tinggal], Madyapada [dunia gaib], dan Mayapada [Kadewatan, dunia luhur tempat mulai dari Hapsara-Hapsari sampai Batara-Batari].

Maka sebelum dipilih siapa yang layak untuk menjadi Ratu Tri Loka Buwana, Sang Hyang Wening mencipta Kahyangan Jong Giri Saloka tempat bakal Ratu Tri Loka Buwana menetap dan mengatur Alam Semesta. Kahyangan Jong Giri Saloka ini terletak di bawah Kahyangan Alang- Alang Kumitir dan di atas Kahyangan Manik Maninten.

Dua putra dari Sang Hyang Wening, yaitu Sang Hyang Batara Antiga dan Sang Hyang Batara Ismaya sangat meminati posisi Ratu Tri Loka Buwana tersebut, maka kemudian disepakatilah antar mereka berdua untuk adu kesaktian guna menunjukkan siapakah yang lebih layak menjadi Ratu Tri Loka Buwana.

Proses adu kesaktian itu adalah barang siapa yang dapat memakan atau menelan Jamur Dipa [bentuk gunung yang sangat besar] maka dialah yang layak menjadi Ratu Tri Loka Buwana. Sang Hyang Batara Antiga menelan Jamur Dipa, tetapi gagal dan mulut dari Sang Hyang Batara Antiga malah sobek, kemudian giliran Sang Hyang Batara Ismaya mencoba menelan Jamur Dipa, ternyata berhasil ditelan tetapi tidak dapat dimuntahkan kembali. Pada saat itulah Sang Hyang Wening rawuh dan sangat tidak berkenan dengan adu kesaktian yang dilakukan oleh Sang Hyang Batara Antiga dan Sang Hyang Batara Ismaya.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban dari apa yang telah mereka lakukan, maka kemudian Sang Hyang Wening mengeluarkan sabda yang mengunci bentuk mereka di mana kondisi mulut dari Sang Hyang Batara Antiga sobek dan perut dari Sang Hyang Batara Ismaya membesar karena terisi Jamur Dipa.

Dalam wujud seperti itulah maka Sang Hyang Batara Antiga juga dikenal dengan nama Togog atau Ki Lurah Togog; sedang Sang Hyang Batara Ismaya dikenal dengan nama Semar atau Ki Lurah Semar Badranaya. Kemudian Sang Hyang Wening menunjuk Sang Hyang Batara Manik Maya yang karena tidak ikut dalam adu kesaktian dan hanya menjadi penonton saja itu menjadi Ratu Tri Loka Buwana. Sang Hyang Batara Manik Maya merasa kegirangan apalagi dari antara tiga bersaudara Sang Hyang Batara Manik Maya yang sekarang wajahnya paling tampan, karena kakak-kakaknya sudah berubah wujud semua. Hal itu tak luput dari perhatian Sang Hyang Wening, maka kemudian disabdalah wajah dari Sang Hyang Manik Maya menjadi buruk rupa, sebagai penanda untuk tidak mempunyai sifat sombong hati.

Sebagai Ratu Tri Loka Buwana, Sang Hyang Batara Manik Maya kemudian bergelar Sang Hyang Batara Guru, dikenal juga dengan nama Sang Hyang Jagadnata atau Sang Hyang Jagad Pratingkah atau Sang Hyang Syiwa. Kemudian Sang Hyang Batara Guru bersama dengan Sang Hyang Batari Uma menempati Kahyangan Jong Giri Saloka dan bertugas sebagai Ratu Tri Loka Buwana.

Sang Hyang Wening kemudian menugaskan Ki Lurah Togog dan Ki Lurah Semar untuk menjadi pamomong bagi umat manusia di Arcapada. Ki Lurah Togog menjadi pamomong umat manusia di belahan Barat dan Utara dari Arcapada, sedangkan Ki Lurah Semar menjadi pamomong untuk umat manusia di belahan Timur dan Selatan dari Arcapada.

Karena mereka berdua masing-masing memerlukan teman dalam perjalanan mereka menjadi pamomong di Arcapada, maka kemudian Ki Lurah Togog menciptakan teman seperjalanannya yang bernama Sarawita atau dikenal dengan nama lain Bilung.

Sedang Ki Lurah Semar juga menciptakan teman seperjalanan yang diambil dari bayangannya sendiri yang diberi nama Bagong. Berita tentang terpilihnya Sang Hyang Batara Manik Maya menjadi Ratu Tri Loka Buwana ternyata membuat gerah para Dang Hyang penunggu Bumi, mereka merasa bahwa Sang Hyang Batara ManikMaya tidak pantas menjadi Ratu Tri Loka Buwana karena dianggap kalah wibawa dan kurang sakti dari kakak-kakaknya. Para Dang Hyang penjuru Bumi merencanakan untuk melakukan protes dengan mengadakan penyerbuan ke Kahyangan Jong Giri Saloka.

Pertama kali yang menyerbu ke Kahyangan Jong Giri Saloka adalah Kaneka Putra sang Dang Hyang Jagad Lor. Dalam perjalanannya ke Kahyangan Jong Giri Saloka dan baru sampai di Sela Matangkep, Dang Hyang Jagad Lor Kaneka Putra bertemu dengan rombongan Ki Lurah Semar bersama dengan Bagong dan Ki Lurah Togog bersama dengan Sarawita yang akan turun ke Arcapada untuk melaksanakan tugas sebagai pamomong umat manusia.

Terjadilah pertempuran sengit antara Ki Lurah Semar dengan Kaneka Putra, akhirnya Kaneka Putra tunduk terkena Aji Kemayan dari Ki Lurah Semar sehingga bentuknya menyerupai wujud pendek seperti yang sekarang kita kenal.

Karena kepandaian dan kepintarannya dalam bertempur, maka oleh Ki Lurah Semar, Dang Hyang Jagad Lor Kaneka Putra kemudian ditugaskan untuk menjadi penasehat utama Kahyangan Jong Giri Saloka untuk mendampingi Sang Hyang Batara Guru dalam mengelola Alam Semesta dan bergelar Sang Hyang Batara Narada atau Resi Kaneka Putra menempati Kahyangan Suduk Pangudal-udal.

Kemudian secara bersamaan naiklah Dang Hyang Jagad Wetan Pecuk Pecu Kilan dan Dang Hyang Jagad Kulon Cakrawangsa untuk menyerbu Kahyangan Jong Giri Saloka. Di Sela Matangkep, mereka bertemu dengan rombongan Ki Lurah Semar dan rombongannya yang baru saja bertempur dengan Dang Hyang Jagad Lor Kaneka Putra.

Oleh Ki Lurah Semar kedatangan kedua Dang Hyang Jagad itu disambut secepat kilat dengan cara menjambak rambut Pecuk Pecu Ki lan dan rambut Cakrawangsa serta dibenturkan satu sama lain sehingga mereka berubah wujud dan langsung tunduk kepada Ki Lurah Semar. Setelah berubah wujud, Pecuk Pecu Kilan berubah nama menjadi Petruk dan Cakrawangsa berubah nama menjadi Gareng, serta mereka berdua akan mengiringi kemanapun Ki Lurah Semar Badranaya dan Bagong akan menempuh perjalanannya dalam memomong umat manusia di belahan Timur dan Selatan Arcapada ini.

Dang Hyang kembar Jagad Kidul yaitu Andana dan Andini melakukan penyerbuan pula ke Kahyangan Jong Giri Saloka, setelah melihat cara Ki Lurah Semar menaklukkan Pecuk Pecu Kilan dan Cakrawangsa, Sang Hyang Batara Guru melakukan hal yang sama pula kepada Andana dan Andini. Begitu Andana dan Andini tiba di Kahyangan Jong Giri Saloka, maka secepat kilat dibenturkanlah kepala dari Andana dan Andini sehingga mereka langsung takluk. Oleh Sang Hyang Batara Guru, Andana dan Andini kemudian disabda menjadi Lembu Nandini dan menjadi Dampar Kencana Kahyangan Jong Giri Saloka.

Dang Hyang Awang-Awang yaitu Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara juga melakukan penyerbuan ke Kahyangan Jong Giri Saloka, tetapi di tengah perjalanan dia bertemu dengan Sang Hyang Batara Wisnu. Terjadilah pertempuran yang berakhir dengan tunduknya Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara kepada Sang Hyang Batara Wisnu, sejak saat itulah Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara dijadikan tunggangan dari Sang Hyang Batara Wisnu.

Setelah semua berjalan normal kembali, sebagai Ratu Tri Loka Buwana, Sang Hyang Batara Guru kemudian membentuk beberapa formasi jagad baru, dengan beliau sendiri sebagai Pusat :

- Sang Hyang Batara Syiwa di Pusat

- Sang Hyang Batara Brama di penjuru Selatan [Kidul]

- Sang Hyang Batara Wisnu di penjuru Utara [Lor]

- Sang Hyang Batara Maheswara di penjuru Timur [Wetan]

- Sang Hyang Batara Mahadewa di penjuru Barat [Kulon]

- Sang Hyang Batara Sambu di penjuru Timur Laut [Wetan Lor]

- Sang Hyang Batara Kartika di penjuru Tenggara [Kidul Wetan]

- Sang Hyang Batara Antiga di penjuru Barat Daya [Kidul Kulon]

- Sang Hyang Batara Narada di penjuru Barat Laut [Kulon Lor] 


Disusun oleh Agung Bimo Sutejo

Kisah-legenda

Dahulu, wilayah bangsa Indonesia pernah menguasai lebih 2/3 Muka Bumi?

Misteri Candi Cetho, Candi Sukuh dan Candi Penataran Candi Cetho •  Cetho Temple ( lat=-7.5957324 ; lon=111.1582518)  • * Candi Sukuh •  Suk...