Saturday, January 18, 2025

SEDONA, metode melepaskan emosi agar bisa hidup bahagia

 Pernah, nggak, kamu ngerasain atau mikir, gimana,  ya, caranya supaya nggak merasa kesepian? Atau   pernah nggak mikir, gimana cara ngatasin rasa  takut, atau rasa sedih, merasa kehilangan, duka,   atau mungkin merasa minder, atau merasa marah  terhadap sesuatu? Hari ini kita akan bahas tentang   9 emosi dasar yang kamu alami setiap hari. Saya  Eko, membantu kamu untuk melepaskan keyakinan   negatif dan perasaan-perasaan yang nggak kamu  inginkan untuk mendapatkan bahagia yang sejati. Oke, so, kamu semua seperti kita tahu memiliki  emosi, of course, ya, kan? Nah, yang kita suka lupa  bahwa kamu itu bukan emosi kamu. Kita merasa  kadang-kadang kita identifikasi dengan emosi itu.   Kalau kita merasa takut bahwa, "Oh, saya nih  yang ketakutan." Padahal sebenarnya kita yang   sadar bahwa emosi itu ada. Jadi kalau di Sedona  Method, emosi itu ada gradiennya, ada skalanya,   dari yang paling berat, yang paling susah banget  kayaknya untuk melakukan action sampai yang   paling tinggi. 

AGFLAP.

Kita akan bahas satu persatu. Yang  pertama, yang paling bawah banget adalah apathy,   rasa apatis, bahwa kayaknya udah nggak  mungkin nih hidup. Kayaknya udah nggak   mungkin melakukan sesuatu. Pokoknya semua yang  membuat kamu bikin kamu menyerah, merasa gagal,   merasa defeated, merasa dikalahin orang lain,  merasa bahwa hidup nggak adil. Pokoknya bikin   kamu mati rasa. Di situ action nggak mungkin  terjadi. Kayaknya susah kalau mau bergerak.   Jadi kayaknya kamu penginnya tidur terus,  atau nggak pengin ngapa-ngapain. Pokoknya   udah putus asa banget. Itu apathy. Lebih tinggi  lagi dari apathy adalah grief. Grief itu sedih,   ya. Artinya kalau kita kehilangan, kalau  kita duka, kalau kita merasa kesepian.   Lucunya, ada, ya, sebenernya yang lebih tinggi  daripada, bahwa grief itu lebih tinggi daripada   apathy. Kenapa sebabnya? Kalau apathy kita udah  numb, mati rasa, nggak bisa ngerasain apa pun.   Tapi di grief, kita bisa ngerasain bahwa hati  itu sakit. Nah, itu energinya lebih lebih tinggi   berarti daripada si apathy itu. Nah, ketika kita  merasa sedih, kita pengin banget dibantu sama   orang lain, bahwa masih ada kemungkinan, cuman  kita nggak bisa membantu diri sendiri, karena   rasa sakitnya itu. Nah, lebih tinggi lagi daripada  grief adalah fear. Takut. Nah, itu kita udah mulai   mau melakukan sesuatu, cuma masih takut, karena  masih takut risikonya. Kita kadang-kadang untuk   mengatasi apathy dan grief, kita butuh energi yang  lebih tinggi, tentunya. Makanya kita nonton film   horor, kita cerita-cerita film yang horor-horor,  gitu, ya, untuk membangkitkan rasa takut itu,   karena rasanya lebih enak daripada sedih  dan daripada apathy. Nah, cuman kita masih tetap ragu-ragu dalam melakukan sesuatu, dalam  melakukan action. Yang keempat, yang berikutnya   adalah lust.  Jadi apathy, grief, fear,  lust. Lust itu adalah nafsu, hawa nafsu. Ketika   kita pengin sesuatu. Itu, kan, rasanya,  kita merasa bahwa itu rasa yang paling enak   tuh, pengin-pengin. Pengin seseorang, pengin  punya duit, pengin cita-citanya tercapai. Nah,   itu kita ngerasa seneng. Cuman, masalahnya di  lust adalah pengin nggak sama sama punya. Artinya,   kita pengin tapi kayaknya gue nggak  pantas nih. Pengin, tapi ragu-ragu.   Pengin tapi kayaknya susah. Pengin, pengin,  pengin. Akhir pengin terus, pengin terus,   pengin terus. Eventhough, kita melakukan sesuatu  untuk mendapatkan yang kita mau itu, selama kita   belum melepaskan si energi nafsu itu atau lust  itu, maka kita nggak akan pernah puas.   Jadi nggak bisa bersyukur. Kayaknya kurang  terus. Itu perasaannya yang I'm not enough.   Di situ ada di lust. Nah, lebih tinggi lagi  dari lust, ketika kita sudah melepas si hawa   nafsu itu adalah marah. Anger. Yang lebih lucu  lagi adalah anger itu ternyata energi jauh lebih   positif daripada semua apathy, grief-sedih,  ketakutan, nafsu, lebih positif adalah marah.   Tapi karena masih destruktif, kita suka takut  sendiri sama si emosi itu sehingga kita tekan   lagi. Kita tekan lagi emosinya, kita suppressed  lagi. kita tahan-tahan lagi, sehingga kita jadi   depresi lagi, jadi takut lagi, jadi sedih lagi.  Karena mereka sebenarnya useful energy, selama   kita tahu bahwa itu cuman level of energy, itu  bukan kita yang sebenarnya. Nah, di situlah kita   melepaskannya, sehingga ketika kita harus asertif,  kita bisa melakukannya. Jadi kita nggak kayak,   kalau seandainya ditindas, kita bisa melakukan  sesuatu tapi bukan dari energi itu sendiri.   Kita sudah melepaskan rasa marah, sehingga  kita tahu apa yang perlu kita lakukan ketika   ada orang yang rasanya memperlakukan kita dengan  tidak adil, misalnya. Tapi kalau seandainya kamu   tidak melepas marah, either kamu expressed,  marah balik, ngamuk-ngamuk, atau kamu tekan,   sehingga akhirnya mulai lagi, sedih lagi, depresi  lagi, ngerasa nggak adil lagi, ngerasa takut lagi,   bahwa hidup kok gini, gitu. Itu adalah ketika  kita tidak melepas rasa marah itu, dan ketika kita   tidak menyadari bahwa itu hanya emosi. Nah, ketika  marah sudah dilepas, muncul energi yang lebih   tinggi, yaitu pride atau bangga. Nah, ini adalah  energi yang kita bilang sombong, kita merasa lebih   baik daripada orang lain, bahwa orang lain tuh  lebih rendah lah daripada kita, seperti itu.   Nah, pride ini, bukan berarti kita nggak boleh  punya pride, ya. Kita bisa pride terhadap negara,   pride terhadap keluarga. It's fine. Hanya saja  ketika kita pegangan sama rasa pride itu, akhirnya   kita jadi nggak bisa lagi melakukan yang harus  kita lakukan. Artinya kita sudah punya pencapaian.   Nah, kita pegangin rasa pride ini, artinya kita  jadi sombong. Nah, ketika sombong, kita pengin   orang lain tahu, pengib orang lain mengakui  hal itu. Nah, di situlah akhirnya jadi kita   nggak bisa move on, nggak bisa ke mana-mana, nggak  bisa menciptakan pencapaian-pencapaian baru lagi,   taking credit. Di situ adalah stuck place. Nah,  keenam emosi itu, mulai dari apathy, sedih-grief,   ketakutan-fear, lust atau nafsu, marah atau anger,  dan pride atau rasa sombong atau bangga ini,   adalah energi menyebabkan penderitaan.  Jadi ini penting banget untuk dilepas. 

Nah,   ketika kita sudah melepas keenam energi yang bikin  kita menderita itu, baru muncul energi yang lebih   konstruktif, yaitu keberanian-courageousness,  acceptance atau menerima, dan damai atau   peace. Nah, keberanian itu, ketika kita mulai  melakukan aksi untuk everyone's highest and   best good (kebaikan bersama). Jadi nggak  cuman mau-maunya kita. Nggak cuman takut   karena kita nggak dapat, tapi kita melakukannya  untuk kepentingan banyak orang, termasuk kita   sendiri. Nah, itu energinya lebih positif, lebih  menyenangkan, lebih open. Energi courageousness   atau keberanian ini sangat useful untuk kita  pakai dalam menghadapi kehidupan kita sehari-hari. Hanya, jangan pegangan juga di energi itu. Energi  ini penting juga untuk dilepaskannya, karena it's,   cuma energi, bukan kita yang sebenarnya. Nah,  ketika kita sudah melepas courageousness ini atau   keberanian ini, muncullah yang namanya penerimaan  atau acceptance. Acceptance ini energinya lebih   terbuka, lebih hangat, lebih menerima. Jadi  kita kalau seandainya ada sesuatu yang,   semua rasanya udah sempurna, nggak ada yang perlu  diubah, tapi ketika kita harus mengubah sesuatu,   kita melakukannya. Jadi kadang-kadang orang salah  kaprah. Yang disebut menerima, pasrah, ikhlas itu   adalah apathy. Justru energi yang, "Ah, udahlah,  gua nggak bisa ngapa-ngapain." Itu adalah apathy,   bukan acceptance. Itu adalah pengertian yang  kadang-kadang kita suka kebalik. Padahal jauh loh,   dari apathy yang paling berat, yang paling susah,  paling nggak bisa ngapa-ngapain dengan acceptance   atau penerimaan. Di acceptance ini kita bisa  mengubah kalau perlu diubah. Jadi energinya lebih   besar, jauh. Kita bisa melakukan aksi yang lebih  konstruktif. Ketika kita sudah melepas acceptance   ini, muncullah yang namanya damai. Ini adalah  state yang paling tenang. Semuanya stillness,   silence. Di situlah intuisi bisa kita akses dengan  gampang. Jadi kalau seandainya kamu pengin tahu,   gimana sih cara mengakses intuisi, gimana sih  kalau action udah bener atau nggak bener? Ya,   dilepas aja semua energi yang tadi, sehingga  kita mendapatkan state peacefulness. Di situlah kita bisa menjadi lebih ikhlas.  Jadi kayaknya semua udah sempurna, semua sama,   kita mencintai orang lain, nggak  ada ngiri-ngirian, nggak ada benci,   nggak ada apa pun. Semuanya untuk  kepentingan sama-sama. Bayangin aja   ketika kita ada di state itu, hidup kita jadi  lebih gampang, lebih mudah, lebih menyenangkan.

 Nah, gimana cara melepas semua emosi ini?  Jadi hanya diterima dulu semua emosi itu.   Diizinkan hadir secara utuh, lalu tanyakan tiga  pertanyaan dasar: Boleh nggak dilepas? Mau nggak   dilepas? Kapan mau melepasnya? Kapan ini adalah  kunciannya, karena kita hidup hanya saat ini,   in this moment, now, sekarang. Gitu. Jadi nggak,  oh, besok aja deh melepasnya Besok itu, kan,   belum terjadi. Ya, kan? Atau satu detik dari  sekarang pun masih memori. Gitu. Jadi ketika   kita ulang-ulang, oh, nanti aja, menunda-nunda,  itu kita sebenarnya holding on sama emosi itu,   menyebabkan hidup kita jadi spinning lagi,  spinning lagi. Ketika kita sudah melepas   9 emosi dasar itu, dari mulai AGFLAP yang bikin  menderita, even yang konstruktif, courageousness,   acceptance, dan peace, itu sudah kita lepas,  akhirnya muncullah bahagia kita yang sejati itu,   diri kita yang sejati, yang sudah whole,  complete, enough, perfect as You are. Sudah   sempurna. Ketika kita menghadapi hidup dari  situ, semuanya jadi gampang. Jadi kalau kita   selalu bilangnya mestakung, semesta mendukung.  Di situlah segala sesuatu menjadi mungkin.   Bingung? Kita sama-sama, yuk, latihan.  Boleh, nggak, sekarang tenang dulu? Oke, sekarang rasakan, boleh  enggak, lihat, review your life,   dari ujung lahir sampai saat ini, ada, nggak,  perasaan apathy, apatis? Merasa udah gagal,   merasa nggak mungkin lagi, merasa dikalahkan.  Kalau ada, boleh, nggak, izin hadir secara utuh? Boleh, nggak, kalau dilepas? Mau, nggak, kalau melepas itu? Kapan? Remember, ini semua cuman keputusan  kamu. Nggak perlu nanya sama feeling,   nggak perlu nanya sama pikiran. Kamu  yang mutusin, mau atau nggak dilepas? Coba lihat lagi, masih ada, nggak, rasa  apatis itu, apatis, apathy? Merasa gagal.   Merasa segala sesuatu udah nggak mungkin. Merasa  mati rasa. Kalau ada, izinkan hadir, boleh, nggak? Boleh, nggak, kalau itu  dilepas? Mau, nggak, dilepas? Kapan? Oke, sekarang, apa pun yang kamu rasakan saat  ini, boleh, nggak, perhatiin aja, izinkan hadir? Sekarang lihat. Apakah emosi itu kamu  atau kamu yang sadar terhadap emosi itu? Ketika kita menyadari bahwa kita bukan emosi itu,  tapi yang sadar, itu udah changes everything.   Semuanya jadi gampang. Kita tidak lagi terkontrol,  tidak lagi dikontrol oleh emosi itu. Oke? Sekarang   kita move on ke energi yang lebih tinggi, grief  atau sedih. Lihat, review your life, dari ujung,   dari sejak lahir sampai sekarang, ada, nggak,  pilih aja satu, yang bikin kamu merasa sedih? Boleh, nggak, kalau diizinkan  hadir emosinya, rasa sedihnya,   yang bikin kamu merasa berduka, kehilangan, merasa sakit hati? Izinkan hadir, boleh, nggak? Sekarang, boleh, nggak, kalau dilepas? Mau, nggak, ngelepas itu? Kapan? Lihat lagi, masih ada, nggak, rasa sedihnya?   Kalau masih ada, boleh, nggak, diizinkan hadir  secara utuh? Izinkan dia seperti apa adanya. Lalu tanyakan ke diri sendiri,  boleh, nggak, kalau ini dilepas? Mau, nggak, melepas ini? Kapan? Dan apa pun yang kamu rasakan saat ini,  perhatikan. Apakah feeling itu atau perasaan itu   adalah kamu? Atau kamu yang sadar bahwa  feeling itu ada atau perasaan itu ada? Oke, kita move on lagi ke energinya  lebih tinggi, yaitu fear atau rasa takut.   Coba inget-inget hidupnya, ada, nggak,   yang bikin kamu ngerasa takut? Situasi  yang bikin kamu ngerasa pengin lari,   deg-degan, anxious, khawatir, cemas?  Kalau ada, izinkan hadir, boleh, nggak? Sekarang, kalau dilepas, boleh,  nggak? Mau, nggak, ngelepas ini? Kapan mau dilepasnya? Kalau ragu-ragu melepas rasa takut, kadang-kadang  kita pegangan sama rasa takut, karena kita merasa   bahwa rasa takut itu bikin kita aman. Ya,  nggak? Sekarang tanyain ke diri sendiri,   mendingan ketakutan kayak gini terus  seumur hidup, atau mendingan bebas? Kalau mendingan bebas, boleh,  nggak, dilepas rasa takutnya? Mau, nggak, dilepas? Kapan? Lihat lagi, masih ada, nggak, sisa rasa  takut? Kalau masih ada, izinkan hadir. Oke, sekarang, boleh, nggak, kalau dilepas? Mau, nggak, melepas emosi itu? Kapan? Oke, apa pun yang kamu rasakan  saat ini, boleh, nggak, perhatiin,   apakah kamu emosi itu atau perasaan itu?  Atau kamu yang sadar bahwa emosi itu ada? Oke, sekarang kita move on ke energi  yang lebih tinggi, lust atau hawa nafsu. Sekarang coba lihat. Ada, nggak, kamu  pengin sesuatu yang belum tercapai,   yang belum kesampaian? Kalau ada, boleh,  nggak, izinkan hadir keinginannya,   rasa kekurangannya bahwa kamu belum punya itu?  Apa pun itu — bisa uang, bisa pacar, pasangan,   bisa waktu, pengin sesuatu itu terjadi.  Izinkan hadir boleh, nggak, keinginannya? Sekarang, boleh, nggak, kalau dilepas? Mau, nggak, dilepas? Kapan? Oke, lihat lagi. Masih ada, nggak,  keinginan yang belum tercapai,   tapi sampai sekarang belum kesampaian, karena kamu  belum melakukan apa pun, baru pengin-pengin aja?   Boleh, nggak, izinkan hadir? Sekarang, boleh, nggak, kalau dilepas? Mau, nggak, melepas itu? Kapan? Kalau kamu ragu-ragu melepas keinginan, tanyakan  ke diri sendiri, mendingan pengin-pengin terus,   tapi nggak dapet-dapet, atau mendingan punya?  Mendingan menikmati beneran atau mendingan cuma   ngarep-ngarep? Kayaknya jawabannya udah jelas.  Ya, nggak? Boleh, nggak, kalau gitu, dilepas kalau   masih ada sisa-sisa keinginan, saat ini aja, as  best you can, sebisanya? Mau, nggak, ngelepas itu? Kapan? Oke, apa pun yang kamu rasakan saat ini, emosi  apa pun, perhatikan, apakah kamu adalah emosi itu,   atau kamu yang sadar terhadap emosi itu? Sekarang kita move on ke energi yang  lebih tinggi lagi, yaitu marah atau anger.   Sekarang perhatiin, ada, nggak, situasi yang  bikin kamu marah, teriritasi, pengin nyerang,   pengin... pengin ngamuk deh, pokoknya kesel?  Bisa juga nggak perlu, nggak perlu yang intens,   bisa juga merasa terganggu terhadap sesuatu,  seperti kereta lewat mungkin barusan,   karena studio saya dekat rel kereta api. Mungkin  itu bikin terganggu. Boleh, nggak, izinkan hadir? Sekarang, boleh, nggak, dilepas? Mau, nggak, ngelepas itu? Kapan? Oke, lihat lagi, ada, nggak, sesuatu yang bikin  kamu merasa terganggu atau bikin kamu marah,   bikin kamu teriritasi? Kalau diizinkan hadir  secara utuh, saat ini aja, boleh, nggak? Sekarang, boleh, nggak, kalau itu semua dilepas? Mau, nggak, ngelepas itu? Kapan? Oke, sekarang apa pun emosi yang saat  ini kamu rasakan, perhatikan lagi,   apakah kamu emosi itu atau kamu  yang sadar terhadap emosi itu? Sekarang kita move on ke energi yang  lebih tinggi, pride atau bangga,   atau sombong, atau merasa lebih baik  daripada orang lain, merasa special,   merasa lebih tahu, merasa lebih benar.  Kalau ada, izinkan hadir, boleh, nggak? Boleh, nggak, kalau itu semua dilepas? Mau, nggak, ngelepas itu? Kapan? Oke, lihat lagi. Masih ada, nggak, energi sombong  itu, rasa sombong, rasa bangga, merasa lebih tahu,   merasa lebih spesial, merasa lebih benar daripada  orang lain, menganggap orang lain lebih rendah?   Kalau ada, izinkan hadir. Be honest with  yourself. Nggak ada yang tahu. Proses ini   hanya kamu dan diri kamu sendiri. Jadi izinkan  diri sendiri untuk jujur, izinkan emosinya hadir. Sekarang, boleh, nggak, kalau emosi itu dilepas? Mau, nggak, melepas itu? Kapan? Oke, sekarang apa pun emosi yang saat  ini kamu rasakan, perhatikan lagi,   apakah kamu emosi itu atau kamu  yang sadar bahwa emosi itu ada? Makin kita berlatih bahwa kita bukan emosi  itu, dan menyadari bahwa kita yang sadar,   kita nggak lagi attached, nggak lagi melekat,  nggak lagi mengidentifikasi diri dengan emosi   itu. Emosi apa pun bisa dilepas. Jadi kita nggak  perlu drama-drama, nggak perlu galau-galau,   sedih-sedih, nggak perlu lagi. Kecuali kamu  memang menikmati untuk melakukan hal itu,   nggak apa-apa, silakan. Tapi kalau itu bikin  kamu menderita, bikin hidup kamu berantakan,   bikin kamu nggak bisa melakukan aksi apa pun,  sebaiknya dilepas. It's your choice, though. Oke,   sekarang kita move on ke energi yang lebih  tinggi, yaitu courageousness atau keberanian.   Ini lebih baik, lebih open,  energinya lebih konstruktif.   Boleh, nggak, kalau kamu melihat ke dalam diri  sendiri? Izinkan keberanian yang ada, selalu ada   di dalam kamu untuk hadir  secara utuh? Bahwa aku bisa. Izinkan hadir, boleh, nggak? Inner clarity, bahwa kita tahu,  bahwa kita mampu. Izinkan hadir aja. Sekarang, boleh, nggak, izinkan dia expand?  Izinkan hadir secara utuh dan izinkan expand. Dilepaskan, dibebaskan, biarkan dia expand,  boleh, nggak? Mau, nggak, membebaskan dia? Membebaskan emosi itu? Kapan? Izinkan lagi, saat ini, your inner courgeousness,   keberanian yang selalu ada dalam hati kita,  bahwa saya bisa, bahwa saya bisa melakukan ini,   bahwa semuanya baik-baik aja,  izinkan hadir, boleh, nggak? Keyakinan itu, rasa yakin itu izinkan hadir. Sekarang, boleh, nggak,  izinkan dia bebas, dilepas? Mau, nggak, membebaskan dia? Kapan? Dan perhatikan, even dengan keberanian atau  courageouness, cek lagi, apakah kamu emosi itu,   atau kamu yang sadar bahwa emosi itu ada? Oke, sekarang kita move on lagi ke energi yang  lebih tinggi, yaitu acceptance atau penerimaan.   Sekarang, boleh, nggak, izinkan penerimaan  itu hadir, bahwa semuanya baik-baik aja,   all is well, semua terurai seperti apa  adanya? Izinkan hadir, boleh, nggak? Rasa cinta itu, love, acceptance,  izinkan dia ada saat ini. Oke, sekarang, boleh, nggak,  kalau dia dibebaskan, dilepaskan? Mau, nggak, membebaskan emosi itu? Kapan? Izinkan lagi, sekarang, acceptance  untuk hadir secara utuh. Penerimaan, bahwa semuanya baik-baik aja,  saat ini semua baik-baik aja,   izinkan hadir, boleh, nggak,  knowingness itu? Ngeh-nya. Oke, sekarang, kalau dilepaskan, boleh, nggak? Mau, nggak, melepas itu? Kapan? Cek lagi. Saat ini, apa pun yang kamu  rasakan, perhatikan. Apakah kamu adalah   perasaan itu atau feeling itu? Atau kamu yang  sadar bahwa feeling atau perasaan itu ada? Oke, sekarang energi yang terakhir, yang paling  tinggi, kedamaian atau peace atau ketenangan. Izinkan hadir secara utuh, boleh, nggak,  walaupun rasanya cuma sedikit? Kalau kamu   udah let go dari apathy, grief, fear,  lust, anger, pride, courageousness,   sampai acceptance, peace pasti udah muncul.  Kenapa sebabnya? Karena semuanya itu layer.   Di bawah itu selalu ada courageousness, selalu ada  penerimaan, selalu ada damai. Tapi kita sendiri   yang nutup-nutupin dengan semua depresi, anxiety,  ketakutan, dan lain-lain — energi-energi yang   di atas itu, marah, pride, keinginan-keinginan.  Padahal sebenarnya, yang di bawah ini yang akan   support hidup kamu. Izinkan hadir boleh,  nggak, ketenangan atau kedamaian itu? Sekarang, dibebaskan, boleh, nggak? Mau, nggak, ngelepas itu?   Kapan? Oke, sekarang, izinkan lagi kedamaian atau  ketenangan untuk hadir secara untuk saat ini. Boleh, nggak, kalau dilepas? Mau, nggak, melepas itu? Kapan? Sekarang, apa pun yang kamu rasakan saat ini, boleh, nggak, diizinkan hadir secara utuh? Perhatikan. Apakah kamu emosi itu atau perasaan  itu? Atau kamu yang sadar bahwa dia ada? Oke, inilah 9 emosi dasar yang kita  rasain setiap hari, setiap saat. Nah,   ini dilepas aja. 

Karena kenapa kita lepas?  Karena ketika kita melepas semua ini,   kita jadi tahu apa yang harus kita lakukan saat  ini dengan lebih jelas, lebih clear, lebih jernih. Oke? Nanti semuanya ini sangat bermanfaat.  Jadi diulang lagi, di baca lagi dari   pertama sampai akhir, dari sejak melepas  apathy sampai peace. Silahkan diulang lagi   terus-terusan. Use this reading. Itu akan sangat  bermanfaat untuk hidup kamu nantinya. 

Oke,   saat ini cukup dulu. Kita ketemu lagi.  Love to you all. And have a lovely day.

No comments:

Post a Comment

Kisah-legenda

Dahulu, wilayah bangsa Indonesia pernah menguasai lebih 2/3 Muka Bumi?

Misteri Candi Cetho, Candi Sukuh dan Candi Penataran Candi Cetho •  Cetho Temple ( lat=-7.5957324 ; lon=111.1582518)  • * Candi Sukuh •  Suk...