Sunday, December 25, 2022

Aji Sirep Begananda

           Turunnya Aji Gineng

      Naga Pratala berangkat ke kerajaan Malwapati untuk  membunuh Prabu Angling Dharma karena sakit hati Prabu Angling Dharma aku  akan membalaskan sakit hatiku kamu pasti akan mati di tanganku Jika  kamu melawan aku akan menghadapimu. 
Sang Naga tampak bagaikan gunung  taringnya dua Depa sangat menakutkan   kakinya bagaikan alat pencukur bisanya meleleh  merah matanya bagai matahari lidahnya seperti api   gigi-giginya Bagai Bintang beralih  sebesar pohon ekornya berkibas-kibas   taringnya seperti pedang yang terhunus mulutnya  mengeluarkan suara yang sangat menakutkan   kedua lubang hidungnya bagaikan gua kembar  menghembuskan nafas dengan suara mengerikan naga Pratala berjalan menuju Malwapati dengan  terus sesumbar akan membunuh Prabu Angling Dharma.
   Hilang semua rasa sayangnya sebagai saudara  dan menuduh Angling Dharma ingkar janji  ia berjalan sangat cepat bagai kilat sehingga  tidak lama kemudian sampailah Ia di kota kerajaan Saat memasuki tempat pisawanan ia melihat banyak  sekali prajurit yang berjaga, memang ki Patih   madrim telah memerintahkan para punggawa Mantri  untuk bersiap-siap dengan busana keprajuritan.  Kalian harus tetap waspada dan berhati-hati karena  naga Pratala sangat Sakti. demikian perintah ki  patih naga Pratala tersenyum melihat semua itu  semua ini pertanda sang prabu telah hilang   rasa sayangnya padaku sebagai saudara. banyak sekali prajurit yang disiapkan untuk   berjaga-jaga menghadapiku jika aku mau  mereka semua pasti dapat Aku bunuh dengan   mudah tetapi Hyang Guru pasti akan sangat  marah padaku karena mereka tidak berdosa   Ia lalu berhenti untuk membaca Aji sirep  Megananda dan haji pali monan para penjaga   tidak ada satupun yang mengetahui kehadirannya  karena ia berjalan tanpa bekas dan tanpa suara   Sementara itu di dalam Putri sang prabu  sedang berdua memadu Kasih dengan istrinya   sang prabu sedang merayu-rayu istrinya  yang pura-pura tidak mau melayaninya   naga pratala telah tiba di bangsa pangrawih Ia  berpikir dalam hati Bagaimana caraku membunuh   Angling Dharma tubuhku sangat besar dan tidak  mungkin masuk Bangsal dengan tubuh sebesar ini   Baiklah aku akan merubah bentukku Ia pun mengubah  bentuk tubuhnya menjadi seekor ular kali dengan   mudah ia memasuki pangsal lalu menyusup di bawah  guling tanpa diketahui oleh siapapun . dengan posisi itu dengan mudah ia dapat membunuh  raja akan tetapi ketika ia hendak menggigit ada   cobaan dari dewa Prabu Angling Dharma berhenti  merayu istrinya ia mengelus dada karena teringat   kejadian di taman dan menyesal atas  apa yang dilakukan kepada naga kini   sang permaisuri bertanya ada apa ganda  saya lihat sekembalinya dari taman Kandas   sering mengelus dada tidak makan dan juga tidak  tidur apa yang terjadi Kanda Katakanlah padaku   Angling Dharma menjawab Dinda saat  aku bertamassa ke Taman aku melihat   anakku naga kini sedang bercinta di  tengah jalan dengan seekor ular tampar   aku saat itu sangat marah melihatnya dan  bermaksud membunuh ular tampar dengan anak panah   tetapi anak panahku meleset dan mengenai  ekor naga gini Aku sangat menyesal Jika   ia melaporkan Pada ayahnya dan Kakang Naga  pratawa tidak bijaksana apa jadinya Dinda naga pratawa yang berada di bawah guling  tertegun dalam hati ia berkata untuk aku   belum jadi menggigit mau Dinda Angling  Dharma jika terlanjur aku membunuhmu   aku yang rugi kehilangan saudara dan  menyesal membunuh orang yang tak berdosa   aku yang tidak waspada dan aku yakin  naga kini yang telah berbuat tidak benar   ia segera keluar dari persembunyiannya  Sesampai di halaman ia mengubah dirinya   menjadi bentuknya semula lalu  berteriak memanggil Angling Dharma   Dinda Angling Dharma aku yang datang Aku rindu  padamu karena sudah lama kita tidak bertemu   Prabu Angling Darma bertanya kepada suara  yang memanggilnya Siapakah yang memanggilku   Masa kamu lupa padaku Dinda aku nakal adalah  keluarlah Sang Prabu Aku sudah sangat rindu   padamu Samudra kakakmu ini sejenak sang prabu  terlihat gugup saat mau keluar permaisuri   menahannya sambil Matanya berkaca-kaca jangan  keluar ganda Siapa tahu ia memanggil karena   ingin membunuh Kanda Prabu Angling Darma  berkata Aku pasrahkan hidup dan matiku pada   Dewa Dinda dan aku rasa jika Kakang menangkap  peratarah ingin membunuhku Aku tidak akan bisa   bersembunyi di manapun Kakak menanggap ratalah  lebih Sakti dari aku sekarang aku akan menemuinya   sang prabu memaksa keluar walaupun permaisuri  terus tidak mengizinkannya ditepiskannya tangan   istrinya lalu buru-buru keluar ke halaman  naga Pratama memeluknya sambil berkata Dinda   malah mungkin aku tega membunuhmu Hanya  kamulah Saudaraku di dunia dan akhirat   apa jadinya Jika Aku Jadi membunuhmu kamu mati  tanpa dosa dan aku akan menyesal sepanjang masa   tetapi sudah menjadi kodrat bahwa orang yang  baik akan selalu mendapat keselamatan Maafkan aku   yang telah hilang apa jadinya jika aku terlanjur  menggigitmu Angling Darma menjawab Aku tidak bisa   memberi jawaban Kakak aku juga minta maaf Dinda  aku merasa berhutang Budi padamu telah menjadi   kehendak Dewa aku harus memberimu ilmu berupa  Aci gaib Inang aku akan mengajarkannya padamu   kuasailah ajian itu karena sangat besar manfaatnya  selagi aku masih hidup Jika kamu mengucapkannya   kamu akan mengetahui bahasa apapun hewan dan juga  semua benda yang berbunyi yang ada di bumi ini   tetapi pesanku jangan sekali-kali Dinda  mengajarkan ilmu ini kepada siapapun   termasuk kepada anak maupun istri sekarang  Nayla ke punggungku aku akan membawamu pergi   Prabu Angling Dharma menghaturkan sembah  Lalu naik ke punggung naga Pratama   naga Pratama segera berjalan membawa Prabu  Angling Dharma ke dalam gua di tengah hutan setelah berada di dalam gua segera Prabu  Angling dharmadiwejang mantra jika Ibu   setelah mendapat bisikan tiga kali Prabu Angling  Darma dapat menguasai dengan baik ajian tersebut   naga Pratama berkata Hanya kamulah saudaraku Aku  bersyukur kepada dewa karena Dinda telah mampu   menguasai ajian tersebut tetapi Ingatlah pesanku  jangan sekali-kali Dinda mengajarkannya kepada   siapapun termasuk anak atau istrimu aku tidak rela  jika kamu melakukan itu dan aku akan mengutukmu   Angling Dharma menghaturkan sembah  naga pratawa lalu kembali ke Kahyangan dalam sekejap mata Angling Darma telah sampai di  istana malwapati ia berdiri lama di halaman karena   banyak semut gatal datang mendekat karena mencium  bau harum tubuhnya dalam hati ia sangat heran para   semut mengeruputinya sambil berkata tidak biasanya  sang prabu berbau harum seperti ini sang prabu   berpikir dalam hati sementara itu Dewi sejak  masih menangis tersedu-sedu di dalam kamar Duh   Kanda lama sekali tanda pergi Apakah dibunuh oleh  suara yang memanggil tadi wong Agung jika batuka   mati hambamu ini akan ikut mati tiba-tiba  Prabu Angling Dharma datang dan memeluknya   Aduh Dinda jangan menangis putri yang cantik  tanda tidak mati Mutiara Hati pujaanku Apa   yang membuatmu bersedih Sang Putri menjawab hamba  menangis karena khawatir tanda mati hamba sangat   takut sang prabu memeluk leher lalu mencium  Sang Putri [Musik] Prabu Angling Dharma tidak   jemu-jemuk merayu istrinya semalam suntuk Mereka  bercinta memadu kasih sang rembulan telah kembali   ke peraduan digantikan Sang Hyang Bagaskara  Sang Putri dibawa keluar ke tempat pemandian   mandi berdua diiringi oleh para dayang yang siap  melayani semua keperluan rumah tangga sang prabu   terbina dengan baik saling mengasihi dan saling  mencintai mereka seakan tak bisa berpisah walau   sehari bagaikan Mimi dan mintuno Bahkan sang  prabu sampai lupa tidak keluar kepisowangan pada suatu saat Ketika sang prabu dan Dewi  sejak sedang tidur-tiduran di dalam kamar   ada sepasang cicak di atas mereka bernama Kiser  panah dan yiservani yang berkulit putih mulus   Kisar panah berkata kepada  istrinya Nyai layanilah aku   sebentar saja Aku ingin seperti sang  prabu dan permaisuri dalam bercinta   Nyai jawab perutku sedang ada telurnya Kakak  nanti bisa pecah jika kamu ganggu tunggulah   Sampai lahir Sekarang aku sedang hamil tua  Kisar panah terus memaksa istrinya Ayolah nih   Jangan takut aku akan berhati-hati kamu tidak  akan mati biarkan kubra perutmu agar telurnya   cepat keluar niserbani menyahut Jangan memaksa  Kakak kapal aku menolak melayanimu tetapi aku   sekarang tidak bisa tunggulah setelah telur ku  keluar setahun pun aku akan bersedia melayanimu viser panah tidak mau tahu dengan Alasan istrinya   yang tidak mau diajak tidur dan  diserbani tetap ngotot menolak kisah Panah memaksa dan mengejar istrinya yang  berlari lalu menggigitnya hingga ekornya putus   niserpani menangis kesakitan dasar laki-laki tidak  tahu diri buruk sekali kelakuanmu tidak punya   belas kasihan pada istri bunuhlah aku daripada aku  hidup nanggung malu karena tidak punya ekor sang   prabu Angling Dharma yang melihat tingkah pola  binatang Dadi tersenyum sambil menutupi mulutnya   Dewi sejak salah paham dan menyangka sang prabu  menertawakannya karena tidak bisa memuaskan suami   dengan wajah cemberut Sang Dewi  bangkit Kenapa ganda tertawa   sambil menutup mulut Apakah anda  tidak sudi lagi dengan tubuhku ini   apakah karena aku hanya orang gunung yang  beruntung menikah dengan raja pulangkan saja   Hamba ke gunung jika anda sudah tidak Sudi banyak  istri Kanda yang merupakan putri-putri yang cantik   sang prabu berkata dengan lembut sambil memeluk  dan menciumi istrinya Meskipun banyak Putri Raja   tetapi tidak sama denganmu dalam olah Asmara  jangan Dinda salah paham aku tersenyum karena   melihat tingkah disertana dan disertai mengajak  istrinya bercinta tetapi Nizar Fanny menolak   suaminya terus memaksa dan menggigitnya hingga  ekornya putus Dewi sejak menjawab tumben ganda   bisa mengerti bahasa jejak jantan dan betina  Sakti sekali ke kandang sang prabu berkata   Dinda aku bisa mengetahui semua ucapan dan bahasa  makhluk karena diwejang oleh Kakang naga Pratama Dewi sejak memohon dengan suara lembut  tanda kalau begitu ajarilah hamba ajian   itu hamba sangat ingin memilikinya Paduka  ajarilah hamba ilmu itu hamba ingin tahu   bahasa semua makhluk yang berbunyi ajarilah jika  anda benar-benar tulus Mengasihiku Prabu Angling   Dharma menjawab Dinda Apapun yang kamu minta akan  aku kabulkan kecuali minta diajari ajigai begini   Mintalah perhiasan yang indah emas atau  Permata tetapi jangan ajikineng karena itu   menjadi larangan [Musik] aku takut karena sudah  berjanji pada guru dan aku takut karena kutukannya   perhiasan mutiara buat apa hamba sudah tidak  kekurangan jika Paduka benar-benar mencintaiku   hanya ilmu itu yang hamba minta tuh Dinda  Aku sangat mencintaimu Aku akan mengajari   ilmu yang bisa untuk merasuk ke benda lain tidak  tanda hamba tidak senang ilmu itu baik Aku akan   mengajarimu ilmu mana Bukan itu kandang yang  hamba minta hamba ingin ilmu gaib yang tinggi   sang prabu berkata lagi tidak boleh  murid menghianati guru kutukannya   akan benar-benar terjadi dengarlah Dinda aku  takut pada guruku yang pernah kamu lihat dulu   Nanti Dinda aku ajari Aji mancala Putra yang bisa  merubah Dinda menjadi laki-laki Sang Putri tetap   menolak atau nanti aku ajari nyalendro Sang Putri  semakin ku Sarah hatinya Aduh kandak yang tampan   rupawan jangan membujukku jika anda tidak mau  mengajari Lebih baik aku mati membakar diri   sang prabu menjawab Aku tidak bisa menghianati  guru Jika kamu mati aku akan ikut bersamamu sudah tujuh hari sang putri berdiam diri dan tidak  mau dihibur karena permintaannya tidak dikabulkan   sang prabu juga tidak mengadakan biswangan hanya  menghibur istrinya Sudah jangan sedih Dinda   sekarang aku akan keluar mengadakan biswawangan  Sudah lama aku tidak keluar istrinya menjawab   jika Paduka tidak mengajari hamba ilmu kineng  itu lebih baik hamba mati membakar diri   sang prabu berpikir dalam hati mana mungkin  dia berani melakukannya mati itu berat apalagi   hanya untuk meminta ilmu Sang Putri berkata  Kanda perintahkan membuat api di alun-alun   dan hamba akan masuk ke dalamnya Jika  anda sudah tidak sayang pada istri lagi Prabu Angling Dharma sangat terkejutan marah  mendengar penuturannya istrinya Ia lalu memanggil   emban-emban panggilah Wati apa lagu dan sampaikan  perintahku untuk menyiapkan kayu dan minyak emban segera keluar menemui Pati dan  menyampaikan pesan sang prabu Patih   menyanggupi emban kembali lagi ke kaputren  menghadap raja terserah kehendak istriku apa   dia Jadi mau ke dalam api sekarang aku  akan bersuci kata Prabu Angling Dharma   Dewi Secang telah selesai bersuci lalu mengenakan  pakaian serba putih dan memakai wangi-wangian   Jika dilihat Sang Putri sudah menyerupai mayat  kembar keluarlah setelah kepergianku tetaplah   mengabdi kepada raja dengan baik Maafkanlah jika  selama ini aku punya kesalahan kepada kalian   para selir dan madu semua Maafkanlah juga jika ada  perkataanku yang menyakiti hati kalian para slim   jawab Jangan begitu Gusti siapa yang akan kamis  kami jika Gusti masuk ke dalam tungku dengar juga   pesanku jangan kalian saling bertengkar kata  Sang Putri lagi para selir menangis sedih kami   tidak mau Gusti tinggal masuk ke dalam tungku sang  prabu hendak keluar pisau warna Sang Dewi perkata   Lihatlah ganda hamba benar-benar akan masuk  ke dalam api Prabu Angling Dharma menggandeng   istrinya menuju ke tempat disewakan mereka  tanpa bagaikan Dewi Ratih dan pasar ragam aja ya para prajuritan punggawa lengkap menghadap tempat  pembakaran yang berupa kayu yang telah disiraminya   pinggir-pinggirnya dihias dengan janur  kuning dan diberi panggung sang prabu sekarang Dinda hamba akan naik ke panggung Kanda  sang prabu lalu menggandeng permaisuri menuju   panggung dan memerintahkan kepada salah  seorang Mantri untuk membakar kayu Mantri   segera melaksanakan tugas tapi sudah menyala  barakobarkobar mengeluarkan suara seperti geledek   para Mantri bertanya-tanya dalam hati apa maksud  Raja mau masuk ke dalam api yang menyala sementara   itu Batara Indra dan Batara Wisnu turun ke tempat  tersebut dengan menyamar sebagai sepasang kambing   mereka berada di pinggir api ditugaskan menggoda  Prabu Angling Dharma kambing betina berkata   kambing jantan Aku lapar ambil kacang rukun  yang berada di pinggir perapian itu kambing   jantan menjawab Janur Kuning kepunyaan Raja itu  untuk hiasan berapian jangan kamu memakannya   kambing betina memaksa kambing jantan Aku  benar-benar lapar boleh atau tidak boleh aku harus   memakannya kambing jantan lalu berkata kalau tidak  bisa aku ingatkan Ya terserah sana kalau mau mati   akhirnya kambing betina diam dan  menurun apa kata kambing jantan Maharaja Angling Dharma mendengar percakapan  sepasang kambing tersebut ia tersenyum dan   berpikir di dalam hati hewan saja mau berbakti  dan menurut apa kata suami aku raja Agung Kenapa   istriku tidak menurut dalam sekejap hilanglah rasa  cinta sang prabu kepada permaisuri tiba-tiba Dewi   Secaba berkata Paduka hamba akan mati Obong  jika Kanda tidak mau mengajari ajian Gina   sang prabu menjawab jika aku bisa mencegahmu  Dinda tetapi jika memang kamu ingin mati Apa   yang bisa aku perbuat Dewi Secang menjerit  hatinya semakin sedih dan sakit hamba mohon   pamit Paduka semoga Paduka akan langgeng  menjadi raja besar sepeninggal hamba   tanpa menunggu jawaban Sang Dewi melompat ke dalam  api yang menyala-nyala terdengar suara tangis Dewi   sejak dari dalam api tetapi kemudian hilang  musnah bersamaan dengan itu sepasang kambing   jelmaan Dewa ikut menghilang api tiba-tiba padam  bagai tersiram api bersama hilangnya Sang Dewi   sang prabu Diam Terpaku menyesali apa yang  telah terjadi Ia lalu memberi perintah   kepada para punggawa untuk mencari  jasad permaisuri di dalam terapi yang   setelah mencari semua melapor bahwa  jasad Sang Putri tidak dapat ditemukan Prabu Angling Dharma tampak semakin sedih  ia memberi perintah kepada para punggawa   dan wadiabalah agar jangan ada yang menghadap  dalam jangka waktu sebulan demikian juga para   istri diperintahkan agar kembali ke Puri dan  dilarang mengganggunya dalam waktu sebulan   semua lalu pulang ke rumah masing-masing dalam  hati mereka merasa takut kepada sang prabu para   putri masuk ke dalam puri dan menangis  sepua sepuasnya bermacam-macam tingkah   mereka ada yang memukuli dadanya sendiri ada yang  berselonjor ada juga yang merontokkan rambutnya   sang prabu yang sebenarnya masih sangat mencintai  istrinya semakin sedih tidak ada wanita seperti   Istriku yang memegang teguh apa yang telah  diucapkannya aku tidak menyangka tidak akan   benar-benar mati Kemanakah engkau sekarang Dinda  engkau telah mati dan tak mungkin aku menikah lagi   walau sampai mati Dinda bangunlah permata  hati jiwaku Aku akan mengajarimu ajikinang kita tinggalkan Prabu Angling Dharma yang  sedang bersedih ditinggal permaisurinya   Sementara itu di Kahyangan Dewi Umar dan Dewi  Ratih bermaksud menggoda Prabu Angling Dharma   Dewi Uma berkata cinta Ayo kita  goda Angling Dharma istrinya baru   saja mati masuk ke dalam perapian Apa  benar dia sanggup tidak menikah lagi   Mereka kemudian mengenakan pakaian yang serba  indah Sesampai di dekat panggung mereka berhenti   Dewi kuma berkata Dinda kamu tinggal dulu  di sini biar aku dulu yang menggodanya   Dewi Ratih setuju Dewi humalalo berjalan mendekati  Prabu Angling Dharma Dewi Umah duduk di belakang   bersandar di punggung sang prabu ia berkata dengan  manja hamba datang untuk memohon cinta Paduka   hanya Paduka yang tercipta dalam hati Sang Prabu  diam saja karena tahu bahwa semua hanya godaan dengan terus mengeluarkan rayuannya Dewi  Uma memeluk Prabu Angling Darma berkelas   Kasihlah padaku pria tampan Jangan  jual mahal mengandalkan wajah rupawan   Dewi Uma lalu duduk di pangkuan Raja sambil  tersenyum manis sang raja berdenyut hatinya bagai   mati hidup tanpa menikah tetapi kemudian tidak  hanya keinginannya sambil tersenyum ia berkata   aku tidak bisa Memandangmu Aku tidak  ingin menikah hanya Dewi sejak ada di   hatiku Apa kamu tidak malu aku tolak  padahal kamu masih muda dan cantik Dewi Uma mengundurkan diri sambil berkata kamu  menolak aku baik kamu akan menyesal karena telah   membuat sakit hatiku Dewi Uma lalu kembali ke  Kahyangan dengan kesal karena tidak berhasil   menggoda Angling Dharma Prabu Angling Darma  semakin sedih memikirkan Dewi Secang Dewi Oma   menemui Dewi Ratih dan berkata Dinda Prabu Angling  Darma tidak tergoda Sekarang giliranmu Tetapi kamu   harus lebih pintar berdandanlah seperti Dewi  Secang dia istri Prabu Angling Dharma yang   masuk ke dalam perapian aku akan mengikutimu  dari belakang Ayo Dinda Cepatlah berganti wujud   Dewi Ratih segera mengubah dirinya menjadi  dewi sejak seluruh gerak-geriknya pun ditiru   dengan pakaian yang indah cahayanya  tampak Gemilang bagai emas yang timbul Dewi Ratih turun ke bumi  diiringkan Dewi Uma di belakangnya   Sesampai di panggung tempat Prabu Angling  Dharma berdiri kedua Dewi yang sudah berubah   wajah berhenti di bawahnya Dewi Ratih berkata  Paduka turunlah hamba juga Dewi Setiawati Sang   Prabu memandangnya Sungguh kamu istriku Dewi  Secang ia tidak sadar bahwa yang datang hanyalah   bidadari yang menggoda dan menyanggah  bahwa benar-benar istrinya yang datang dengan tergoh-goboh Prabu Angling Dharma  turun dari panggung tidak aku sangka kamu   akan kembali Dinda Aku pikir kamu benar-benar  mati aku hampir gila sejak kepergianmu   sekarang aku serahkan jiwa raga hidup dan  matiku padamu bunuhlah aku jika kamu mau   Prabu Angling Dharma bermaksud menggendong  Sang Dewi tetapi jelmaan Dewi Ratih mengelak   sambil menggoda saat mau ditangkap Sang Dewi  menghindar sambil merengut Mau apa kamu kamu   tidak sadar kalau mendapat cobaan dari dewa  karena sudah bersumpah tidak akan menikah   Dewi Uma menimpali kamu sudah ingkar pada  Kekuasaan Dewa Mana ada orang yang mati bisa   hidup kembali Ayo Dinda kita segera kembali  menghadap raja yang tidak Teguh hanya akan   membuat rugi bisa-bisa kamu malah Kasmaran karena  aku lihat kamu berbelas kasihan padanya kata Dewi   Uma kepada Dewi Ratih Ia lalu berkata kepada  Prabu Angling Dharma lagi Prabu Angling Dharma   kamu aku kutu Kamu tidak akan menjadi raja sebelum  mendapatkan wangsit kamu aku Beri waktu 9 tahun   kerajaanmu akan berubah menjadi hutan dan matamu  akan menjadi lamur atas kehendak Dewa Dewi Ratih   dan Dewi Uma lalu melesat kembali ke Kahyangan  meninggalkan Prabu Angling Dharma sendirian   Prabu Angling Dharma semakin sedih hatinya  melihat kerajaannya sudah menjadi hutan belantara   akhirnya ia sadar bahwa semua adalah ujian dari  dewa dalam hati ia berkata kemana aku akan pulang   kerajaanku sudah menjadi hutan belantara aku  mendapat celaka dan kesialan setelah kepergian   Dewi secang sudah menjadi kehendak Dewa kerajaanku  berubah menjadi hutan lalu kemana para rakyat dan   prajuritku apakah mereka Mati berat sekali  cobaan Dewa ini rasanya aku ingin mati saja   Prabu Angling Dharma memasuki istana tetapi ia  merasa memasuki hutan belantara saat di sitinggil   ia merasa menaiki sebuah bukit jika melihat  Manusia ia merasa melihat kancil dan Kijang saat   di dalam istana ia merasa di dalam hutan yang sepi  saat masuk ke kamar ia merasa di dalam hutan yang   pengap akhirnya ia keluar melalui pintu belakang  tetapi ia merasa menyusup diantara pepohonan [Musik] Ia terus berjalan menembus hutan  belantara hingga semalaman ia berjalan   Tiara henti saat fajar menyingsing ia  tertekun memandang awan yang berwarna   merah dadu bercampur warna jingga dan biru  seperti mendung yang bernama sekarwaweyan sang Bagaskara muncul dari ufuk timur sang  prabu melanjutkan perjalanannya mengikuti   hatinya yang bingung dituruninya jurang-jurang  siang malam tiada henti hingga tubuhnya pakai   mayat karena tidak makan dan minum dalam hati  Sang Prabu berkata dahulu aku adalah raja besar   memerintah para raja tetapi sekarang jadi seperti  ini karena ditinggal istri lebih baik aku mati dan   tidak menjadi raja lagi telah lama ia berjalan  siang malam Tiara henti akhirnya sampailah Ia   di kerajaan raksasa kerajaan tersebut bernama  Baka tetapi rajanya sedang pergi Raja Bangka   meninggalkan tiga orang putri bernama Dewi Kumala  yang paling tua Retno widuri yang tengah dan   memintarsih yang bungsu ketikanya sebangsa  siluman yang berwajah cantik Bagai Bidadari   Ketika anda mempunyai kebiasaan memakan bangkai  manusia Prabu Angling Dharma tidak menghentikan   langkahnya walaupun hatinya kagum Melihat  istana yang sangat indah istananya terbuat   dari batu bata berhias perak putih batu batanya  berwarna merah menyala gapuranya terbuat dari   kaca di atasnya terdapat butir-butir air di kiri  kanan pintu gapura ada dua patung kepala yang   membawa gada terbuat dari perunggu taringnya bagi  pedang yang siap menetas Siapa saja yang lewat   matanya terbuat dari permata merah terlihat  menyala-nyala menakutkan gupala nampak seperti   raksasa lidahnya menjulur seperti pedang merah  Prabu Angling Dharma berpikir dalam hati raja   yang memiliki kerajaan ini sangat kaya istananya  banyak dihiasi emas tetapi Sayangnya tidak ada   punggawa Mantri yang menjaganya Apakah dia  raja tanpa pengikut aku akan memasuki istana   ini syukur jika rajanya mau Membunuhku ketika  memasuki istana ia semakin heran karena tidak   menjumpai manusia segelintir pun ia berdiri di  atas sebuah bangunan melihat pemandangan yang   serba indah Sayang sekali kerajaan ini tiada  penghuni semakin masuk semakin terasa sunyi kerajaan Baka dahulu dikuasai oleh raja  bernama Prabu kalaperdadi kerajaan itu hanya   mempunyai 40 orang pengikut Semuanya  ikut rajanya dan semua tidak kembali   menurut cerita Prabu kalaper Ratih dahulu pergi  mencari Prabu Angling Dharma untuk memangsanya   dengan merubah diri menjadi wanita cantik saat  akan memasuki Taman ia ketahuan patih-patih   madrim Patih batik Madri mengaku dirinya sebagai  Prabu Angling Dharma hingga terjadilah pertarungan   Pramuka bersama 40 pengikutnya kerajaan menjadi  kosong hanya Ditunggu oleh ketiga putrinya saat   itu ketika Putri Dewi Kumala Dewi widuri dan  Dewi mintarsih sedang bekerja bersama-sama   ketikanya siluman raksasa yang bisa merubah  dirinya menjadi putri berwajah Ayu mereka   sedang menyulam dan membatik ketiganya duduk  berjajar yang tua sedang menyiapkan bunga Menur   Prabu Angling Dharma masih terkagum-kagum  Menikmati keindahan istana ini kerajaan jin   atau peri istananya serba emas tetapi tidak ada  satupun penghuninya katanya dalam hati [Musik]   kebetulan Dewi Kumala bermaksud keluar memetik  bunga yang terkejut saat melihat keberadaan   Angling Dharma dalam hati ia berkata dari  mana orang itu wajahnya sangat tampan rupawan   Dewi Kumala terpikat hatinya melihat Angling  Dharma segera ia kembali masuk untuk berganti   pakaian selesai berbusana ia keluar lagi  untuk menemui Prabu Angling Dharma ia   membawa Bogor di kedua tangannya satu berisi  buah-buahan dan satu lagi berisi perlengkapan   makan sirih dengan tingkah dan senyum manis  ia menghampiri Prabu Angling Dharma Dewi   Kumala memasang jaring pemikat dengan mengelus  payudaranya Prabu Angling Dharma memandangnya   dengan bergairah dalam hati ia berkata apakah  yang menemuiku ini yang mempunyai istana Dewi   Kumala membentangkan tikar lalu mempersilahkan  duduk Prabu Angling Darma sambil tersenyum manis   Silahkan duduk Raden Prabu Angling Dharma segera  duduk Sang Dewi Berkata sambil tersenyum Silahkan   makan sirih yang sudah saya sediakan ini  sayangnya sirih Ini pinjaman jadi nanti   bisa diambil yang punya saat saya suguhkan sang  prabu merasa tergoda hatinya bagai terkena sihir   Retno Kumala bertanya Siapa nama Raden Dan Dimana  rumahmu jika anda tersesat tetaplah tinggal disini   saja Prabu Angling Dharma menjawab aku berasal  dari malwapati aku meninggalkan kerajaan karena   sekarang kerajaanku sudah menjadi hutan belantara  Namaku Angling Darma dahulu aku adalah raja besar   di malwapati yang tiada tanding aku pergi  tanpa tujuan karena kehilangan istri yang   sangat aku cintai bernama Dewi Secang  Maafkan aku orang tersesat yang berani   memasuki istanamu putri cantik sekarang ganti  aku bertanya Siapakah yang menjadi raja di sini   sambil tersenyum Devi Kumala menjawab Ayahku lah  yang mempunyai kerajaan yang bernama Baka ini   Ayah bernama Prabu kalah berdati ia pergi dengan  bala tentaranya dan Sudah lama tidak kembali tidak   tahu dia masih hidup atau sudah mati Aku yang  menjaga istana bersama Kedua saudara perempuanku   Paduka tidak usah pergi dari sini saya  akan menyediakan semua keperluan Paduka   Paduka cukup makan dan tidur saja  karena saya ingin bersuami Paduka dalam hati Prabu Angling Dharma berkata Putri ini  sangat cantik cuma sayangnya yang tidak mempunyai   basa-basi dalam hati ia merasa tertarik pada  Dewi Kumala dan merasa mendapatkan kesempatan   ia menjawab Baiklah aku akan berada di sini  tetapi rokokku besar dan aku mohon tetaplah   Mengasihiku sampai mati jangan menyia-nyiakanku  mana mungkin saya sia-siakan Kalau begitu mari   pulang ke rumah saya Saya harus menyembuhkan Raden  Karena berbahaya jika ketahuan saudara-saudara   saya kedua adik saya pernah membunuh orang jawab  Dewi Kumala Prabu Angling Darma digandeng Dewi   Kumala ke rumahnya dan langsung masuk ke dalam  kamar bagi kayu yang bersanding dengan api   karena sama-sama mau maka cepat jari [Musik] saat  malam tidak keduanya pun melakukan hubungan suami   istri Dewi Kumala cukup matang dan Prabu Angling  Dharma sudah sangat berpengalaman suara rintihan   dan desahan mereka Terdengar bagai kumbang yang  menghisap madu semalam suntuk Mereka bercinta   saat matahari terbit sang prabu tetap tidur  di dalam kamar Dewi Kumala keluar dengan   malas dan tampak sangat lungkrak  berbeda dari hari-hari biasanya widuri merasa tidak enak hati dan ingin bertemu  dengan kakaknya Ada apa kan tadi tidak mau   menjengukku apa dia sakit Aku akan menengoknya  sekarang katanya dalam hati ia bergegas menuju   ke Rumah kakaknya Sesampai di rumah kakaknya ia  bertanya Kanda Dewi apa ganda sapi perut kakaknya   menjawab tidak Dinda aku tidak sakit setelah  beberapa saat bercanda adiknya berkata Kanda   aku mencium bau lagi-lagi Apakah anda menyimpan  manusia Retno Kumala menjawab Jangan salah paham   Dinda mana ada manusia datang kemari aku mencium  bau dari tempat tidur bantah adiknya Dewi widuri   lalu membuka diri yang menutup tempat tidur yang  kaget melihat ada orang di dalamnya dengan tertawa   dan sedikit takut ia keluar menghampiri kakaknya  Kanda sudah mempunyai suami tetapi tidak bilang   Dimana rumah tamu yang sedang tidur itu  ganda Aku baru saja menemukannya jawab   Dewi Kumala adiknya berkata lagi Kalau boleh  aku akan meminjamnya kandang semalam saja   bawalah Kalau dia mau tetapi tanyalah sendiri  karena aku juga cuma ketempatan jawab kakaknya Reno widuri berjalan masuk ke dalam kamar kembali  di teluknya Prabu Angling Dharma lalu berkata   tuaan aku pinjam dan Kandas sudah mengejinkan  sang prabu tersenyum lalu bertanya aku dipinjam   mau untuk apa dipinjam tentu ada perlunya racun  itu aku tidak kuat lagi goda sang prabu Sang Putri   membujuk pria tampan Apakah kamu merokok Ayolah  Raden kita keluar jual mahal sekali keduanya lalu   berjalan pergi Dewi Kumala menyelutu Jangan  sampai hilang di jalan susah mendapatkannya saat malam tiba Prabu Angling Dharma berada  di kamar Dewi widuri Sang Dewi dipeluk dan   akhirnya mereka berhubungan badan Sang  Dewi sangat puas karena baru pertama kali   melakukan hubungan suami istri Pagi harinya  adik perempuannya yang bernama Dewi mintarsih   merasa sangat rindu kepada kakaknya dan bermaksud  berkunjung apa Kakak sakit ya katanya dalam hati bergegas menuju ke Rumah kakaknya setelah bertemu  ia bertanya apa ganda sakit Iya aku sakit jawab   Dewi widuri Dewi minta resih tersenyum dan agak  takut Kanda menyimpan manusia ya aku mencium   bau manusia di sini sumbernya dari tempat tidur  anda Ia lalu menyita diri tempat tidur kakaknya   dan kaget melihat Prabu Angling Dharma yang  sedang duduk ganda Izinkan aku meminjam tamumu   semalam saja katanya pada Dewi widuri kemudian  bawalah Dinda tetapi tanyalah dulu mau atau tidak   Dewi mintarsi kembali ke kamar tidur menemui  Prabu Angling Darma Raden aku pinjam dan aku   akan bawa pulang Kanda Dewi sudah mengizinkan  katanya Prabu Angling Dharma menjawab untuk apa   kalau pisau dipinjam untuk membuka kemiri kalau   aku dipinjam buat apa di rumahku banyak  tikusnya jawab minta si sambil tersenyum   akhirnya Prabu Angling Dharma dibawa ke rumah Dewi  mintarsih dan semalam Mereka bercinta hingga puas   Pagi harinya Dewi Kumala datang  menemui Prabu Angling Dharma sang   prabu Mari kita pulang Dewi mintasih  menyahut aku tidak mengijinkan Dewi   widuri menyahut tidak mau kalah  aku juga keberatan Prabu Angling kalau kalian benar sayang padaku jangan berebut  ikutlah saja teman aku pergi mereka pun menyetujui   sang prabu lalu menggendong yang tua Dewi widuri  menariknya dari belakang merajuk minta digendong   Dewi minta resih mencari tidak mau kalah Aku  tidak mau ditinggal aku masih muda dan cantik   tidak takut bertanding Dewi mintarsih semakin  kesal melihat kakaknya digendong widuri berkata   jangan tergesa-gesa tidak akan habis gantian yang  mudah belakangan nanti tidak kuat yang menggendong   Dewi mintasih menjawab sangit yang tua harusnya  mengalah Maharaja Angling Dharma tidak kurang   akan untuk mendamaikan mereka ketikanya dipeluk  lalu bersama-sama dibawa ke tempat tidur tuh Dinda   Kumala yang paling tua kecantikanmu mengalahkan  Bidadari Dewi widuri Yang tengah cantik dan   senyumnya sangat manis Dewi mintasih yang bungsu  kecantikannya bagai bulan Prabu Angling Dharma   mampu memuaskan ketiganya sekaligus ketika Putri  merasa puas dan semakin menyayangi sang Perahu   sang prabu Angling Dharma tertidur Dewi Kumala  berkata kepada adik-adiknya Dinda selagi Pangeran   tidur ayo kita ke kuburan ketikanya lalu pergi  ke tempat penampungan bangkai manusia di bawah   pohon cemara yang gelap terdapat banyak  bangkai manusia dan baunya sangat amis   Mereka kemudian mematikan lilin-lilin  hanya disisakan beberapa untuk membakar   hati mereka kemudian mulai makan setelah  kenyang widuri pun mengajak pulang hari   sudah hampir pagi ayo kita pulang apa  jadinya kalau sang pangeran terbangun   ketikanya berjalan pulang lalu mandi untuk  menghilangkan bau selesai mandi ketikanya   kembali ke kamar memakai wangi-wangian lalu  memeluk Prabu Angling Dharma seolah masih tidur   sang prabu tidak mengetahui perbuatan  ketika Putri tersebut saat pagi menjelang   ia dibangunkan oleh para putri Prabu Angling  Dharma terlihat sangat nyenyak tidurnya   pria tampan bangunlah dan sungguhlah  aku rasanya belum puas hati ini sekarang   sudah pagi bangunlah dan bermainlah dengan  payudara ini wahai pria yang pandai tercinta Prabu Angling Dharma terbangun karena terkejutan  marah dalam hati aku kaget kalian bangunkan Ada   apa saat di palwapati Jika aku tidur tidak ada  Istriku yang berani membangunkanku rasanya tidak   berharga aku disini jangan dibangunkan jika aku  masih tidur lebih baik aku kalian bunuh maafkan   kami pangeran sudah biasa perempuan khilaf Maafkan  sekali ini jika kami mengulangi silahkan menghukum   kami ketikanya menghaturkan sembah bersama-sama  dengan tersenyum manis kami mengaku salah silahkan   memukul kami tapi itulah kami dengan kidung cinta  asmara hunjamkan keris kalau misalnya kami akan   Menghadang dengan raga kami mereka terus merajuk  dengan suara memelas akhirnya sang hati Prabu Lulu   lalu memeluk ketikanya saat malam tiba kembali  mereka melakukan hubungan suami istri setelah sang   prabu tidur ketikanya pergi meninggalkannya untuk  memangsa bangkai suatu malam setelah sang prabu   tertidur Dewi Kumala mengajak adik-adiknya ke  tempat pembuangan bangkai saat tengah malam Prabu   Angling Dharma terbangun dan tidak mendapati para  putri di sampingnya dalam hati ia bertanya-tanya   Dimanakah istri-istriku ini Mana mungkin mandi  malam-malam begini apa mereka ada janji dengan   orang lain dicarinya di tempat pemandian tetapi  tidak ditemukan dicari di halaman juga tidak ada   Akhirnya ia kembali ke tempat tidur tetapi  tidak tidur Kemana mereka kalau bermain-main   masa malam-malam gelap begini pikirnya ketika  Putri telah pulang saat sampai di halaman Dewi   Kumala berkata Ayo Dinda kita cepat mandi  dan bergantian masuk rumah jangan sampai   membangunkan Pangeran sang prabu Angling Dharma  Mendengar pembicaraan mereka selesai mandi para   putri bergantian masuk ke dalam kamar sang prabu  Angling Dharma masih berpura-pura tidur dengan   tersenyum para putri memeluk suaminya sang prabu  pun tersenyum dalam hati para putri cantik ini   aku duga setiap malam pergi meninggalkan saat aku  tertidur Kemana mereka pergi kata Sang Prabu dalam   hati Pagi harinya para putri sudah mandi dan  terlihat sudah tidur lagi dengan nyenyak sang   prabu bangun melihat-lihat halaman belakang ia  sangat terkejut melihat tulang-belulang Manusia   yang bertumpu ia jadi berpikir dalam hati apakah  tempat ini Kayangan para raksasa berbagai praduga   berkecamuk di hati dan pikirannya ia berjalan lalu  tertegun berdiri di halaman sambil terus berpikir para putri yang terbangun dari tidurnya tidak  terkejut menjumpai suami di samping mereka mereka   saling berbisik Pangeran tidak ada Ayo cepat  kita susul para putri lalu keluar dan berhenti   di belakang sang prabu Pangeran jahat sekali  kenapa kami tidak dibangunkan hingga bangun   kesiangan protes mereka Prabu Angling Dharma  menjawab Aku memang tidak membangunkan kalian   karena takut kalian akan marah Aku tidak berani  membangunkan kalian yang sedang nyenyak tidur   Retno Kumala menjawab tidak mungkin kami marah  kepada suami kalau Pangeran mati kami yang celaka   dalam hati Sang Prabu sangat marah teringat  mereka meninggalkannya saat tidur tetapi berusaha   disembunyikannya lama mereka pada cengkrama dan  bercanda di luar saat sang surya mulai tenggelam   sang prabu membawa Ketika istrinya masuk ke dalam  kamar setelah berada dalam kamar ia berkata kepada   istrinya Dinda Sudah lama aku meninggalkan  kerajaan dan tidak tidur sepanjang perjalanan   di sini aku enak-enak tidur dan bercinta dengan  kalian sekarang Aku ingin tidur Dinda dicatlah   kedua betisku satu orang memijat sebelah sedangkan  Dewi Kumala bisa telah dadaku kata Prabu Angling   Darma dengan lembut ketika Putri dengan patung  melaksanakan perintah suaminya dan mulai memijat   Prabu Angling Dharma berpikir dalam hati Aku  akan pura-pura tidur agar mereka meninggalkanku   nanti aku akan mengikuti Kemana mereka pergi  Prabu Angling Dharma lalu pura-pura mendengkur   bahkan mengikuti setelah malam semakin sunyi Dewi  widuri mengajak kakaknya untuk pergi Kanda Ayo   kita segera berangkat katanya menjawab ia Dinda  Ayo kita cepat berangkat Prabu Angling Dharma   yang pura-pura tidur Tersenyum Dalam hati Dewi  Kumala menyelimutinya lalu pergi meninggalkannya   perlahan pada waktu tengah malam Prabu Angling  dharmanya keluar meninggalkan raganya untuk   mengikuti Ketika istrinya Sang Prabu sudah  merubah wujud menjadi seekor burung gagak   putih terbang di atas ketiga Putri yang berjalan  Sesampai di kuburan para putri segera menyembelih   mayat mayat dan mengambil hatinya burung gagak  putih dalam hati berkata jika mereka manusia   tidak mungkin mereka makan bangkai apa mereka  adalah siluman raksasa kalau begitu aku sudah   menikahi para raksasa tetapi kenapa wajah mereka  sangat cantik hingga kusangka benar-benar manusia banyak sekali Ranting Cemara yang digunakan  untuk membakar hati dan lutut Putri yang   tertua senang makan hati yang tengah senang  makan lutut dan yang muda suka makan limpa   burung gagak putih turun hinggap di tonggak  yang berada di hadapan para putri Ratna Kumala   yang melihatnya berkata Baru kali ini aku melihat  ada burung gagak malam-malam di tempat ini kedua   adiknya menimpali mungkin penunggu tempat ini  kandang ketika Putri raksasa berusaha mengusir   burung gagak Putih yang ada di hadapan mereka Hei  gagah Cepatlah pergi dari sini teriak Dewi Kumala   mengusirnya si gagal tidak mau pergi bahkan  kemudian berkau-kauk membuat nyeri di hati   saat mereka melemparinya si Gaga hanya terbang  menghindar tetapi tidak juga pergi jika Kang   kembali menghampiri para putri raksasa sambil  berkau Dewi Kumala Perseru apa yang kamu minta   gagak jelek kenapa kamu menghampiri orang makan  dan terus memandangi mulut gagak Sialan aku   kandung kamu nanti aku lempar sampai mati lalu  aku sembelih tanah aku ambil hatimu Dewi Kumala   menendang si gagak si gagak terbang rendah  lalu kembali ke tempatnya semula Sang Dewi   kesal sekali hatinya gagah Ini benar-benar  sialan Semoga kamu dimakan hantu kalau mau   makan di sini banyak sekali pantai Kenapa  mengganggu orang makan katanya kemudian   adiknya berkata tenang ganda coba lempar  Kakak itu dengan makanan agar cepat pergi   sedih hatiku mendengar suaranya Dewi  Kumala segera melempar hati pada Kakak   Putih Si Gaga menangkapnya tetapi tidak  memakannya kemudian prinsip mendekati Dewi   widuri Dewi Kumala berkata Dinda Cepat  beri dia makanan Dewi widuri melemparkan manusia itu ditangkap lalu digenggamnya   gagak putih kemudian menghampiri Dewi mintarsih  lalu berkaweb Dewi minta arsih berkata dasar gagak   Gila takdirkandha Dewi yang didekati sekarang  ganti aku dan susah sekali diusir Sang Dewi   lalu melemparkan sepotong limpa kepada si gagak  gagak mematuknya lalu terbang meninggalkan mereka keesokan harinya kedua Putri yang mudah mengajak  pulang sudah siap Kanda bisa bahaya kalau Sang   Prabu sudah bangun mereka lalu berjalan pulang  dengan tergesa-gesa dalam hati mereka agak   khawatir karena tidak biasanya kesiangan seperti  itu sementara itu Sukma sang prabu Angling Darma   telah kembali masuk ke dalam raganya Prabu Angling  Darma duduk termenung menyesali dirinya sendiri   aku kurang waspada hingga memperistri anak raksasa  Lebih baik aku mati jika tahu harus menikahi anak   raksasa Sungguh aku malu pada para dewa Ia  lalu beranjak membuka botol wangi kepunyaan   Dewi Kumala yang terbuat dari emas yang cemerlang  dimasukkannya sepotong hati yang diperolehnya ke   dalamnya Ia lalu membuka botol minyak wangi milik  Dewi widuri yang terbuang dari perak dan menaruh   Tutut ke dalamnya terakhir dibukanya botol milik  Dewi mintarsih dan meletakkan limpa di dalamnya   setelah selesai dikembalikannya botol-botol  tersebut di tempat semula lalu ia kembali ke   tempat tidur pura-pura Masih tidur para putri yang  baru saja tiba di istananya segera mandi selesai   mandi mereka mengintip suaminya yang masih berada  di kamar mereka sangat senang melihat suaminya   masih tertidur dengan nyenyak dengan langkah  perlahan Mereka bergantian masuk ke dalam kamar   Prabu Angling Darma pura-pura [ __ ] ketika  melihat istri-istrinya datang direkohnya Ketika   istrinya ke dalam pelukannya Dinda semalam aku  bermimpi Apa arti mimpiku ini Biasanya kalau aku   bermimpi pada waktu Dara dasi itu adalah mimpi  yang benar katanya kemudian Kanda bermimpi apa   hambamu ini ingin tahu tanya mereka Prabu Angling  Darma malah luber cerita aku bermimpi seperti   pergi ke pasar bersama kalian di sepanjang  jalan ada burung gagak putih yang mengikuti   kita sepulang dari pasar gagak putih itu masuk ke  dalam kamar menaruh tutu dan limpa yang katanya   pemberiannya setelah ku tanyai ternyata dia juga  membawa sepotong hati manusia setelah gagah itu   pergi aku tidak tahu dimana lutut lempar dan hati  itu ditaruh sudah Kanda tidak usah diperpanjang   lagi itu adalah mimpi orang yang doyan tidur sahut  para putri kalau begitu Aku akan tidur lagi Dinda   jangan ada yang berani membangunkanku karena aku  masih sangat ngantuk kata Sang Prabu kemudian   setelah Prabu Angling Darma tidur para putri  keluar untuk mandi selesai mandi mereka bermaksud   menyisir rambut dan memakai wewangian Dewi Kumala  sangat terkejut saat membuka botol minyak uangnya   ia menemukan sepotong hati di dalam minyak  wanginya Dewi widuri segera membuka botol   minyak wanginya ia tidak kalah terkejutnya  karena mendapatkan minyaknya telah kemasukan   Tutut dengan penasaran Dewi mintarsih segera  membuka botolnya Ia mendapatkan limpa di dalamnya   Dewi Kumala berbisik kepada kedua adiknya botol  minyakku ada hati manusia yang dibakar Dewi widuri   menyaut ia Kanda minyakku ada Tutut yang bercampur  minyak Dewi mintarsih menimpali minyakku juga ada   limpahannya Dewi Kumala lalu berkata lagi kalau  begitu semua perbuatan kita sudah ketahuan Dinda   Prabu Angling Dharma hanya bermaksud  menyindir kita saat bercerita tentang   mimpi yang sudah tahu kalau kita anak raksasa  adiknya bertanya dari mana dia tahu Bukankah   saat kita tinggalkan dia masih tidur dan  saat kita datang dia juga masih tidur   kakak yang kita jumpai itu pasti penjelmaan  Prabu Angling Dharma buktinya ada hati Tutut   dan limpa di botol kita Aku sangat malu sekarang  sebaiknya Bagaimana Dinda adiknya menjawab kita   Bunuh saja kandang kita sembelih lalu kita  makan tidak-tidak kita tidak berhutang nyawa   padanya kita telah dipermalukan maka kita balas  saja sesuai perbuatannya Karena bagaimanapun dia   sudah baik pada kita ayo kita usir saja  manusia usil ini Supaya pergi dari sini

No comments:

Post a Comment

Kisah-legenda

Dahulu, wilayah bangsa Indonesia pernah menguasai lebih 2/3 Muka Bumi?

Misteri Candi Cetho, Candi Sukuh dan Candi Penataran Candi Cetho •  Cetho Temple ( lat=-7.5957324 ; lon=111.1582518)  • * Candi Sukuh •  Suk...