Naga Pratala berangkat ke kerajaan Malwapati untuk membunuh Prabu Angling Dharma karena sakit hati Prabu Angling Dharma aku akan membalaskan sakit hatiku kamu pasti akan mati di tanganku Jika kamu melawan aku akan menghadapimu.
Sang Naga tampak bagaikan gunung taringnya dua Depa sangat menakutkan kakinya bagaikan alat pencukur bisanya meleleh merah matanya bagai matahari lidahnya seperti api gigi-giginya Bagai Bintang beralih sebesar pohon ekornya berkibas-kibas taringnya seperti pedang yang terhunus mulutnya mengeluarkan suara yang sangat menakutkan kedua lubang hidungnya bagaikan gua kembar menghembuskan nafas dengan suara mengerikan naga Pratala berjalan menuju Malwapati dengan terus sesumbar akan membunuh Prabu Angling Dharma.
Hilang semua rasa sayangnya sebagai saudara dan menuduh Angling Dharma ingkar janji ia berjalan sangat cepat bagai kilat sehingga tidak lama kemudian sampailah Ia di kota kerajaan Saat memasuki tempat pisawanan ia melihat banyak sekali prajurit yang berjaga, memang ki Patih madrim telah memerintahkan para punggawa Mantri untuk bersiap-siap dengan busana keprajuritan. Kalian harus tetap waspada dan berhati-hati karena naga Pratala sangat Sakti. demikian perintah ki patih naga Pratala tersenyum melihat semua itu semua ini pertanda sang prabu telah hilang rasa sayangnya padaku sebagai saudara. banyak sekali prajurit yang disiapkan untuk berjaga-jaga menghadapiku jika aku mau mereka semua pasti dapat Aku bunuh dengan mudah tetapi Hyang Guru pasti akan sangat marah padaku karena mereka tidak berdosa Ia lalu berhenti untuk membaca Aji sirep Megananda dan haji pali monan para penjaga tidak ada satupun yang mengetahui kehadirannya karena ia berjalan tanpa bekas dan tanpa suara Sementara itu di dalam Putri sang prabu sedang berdua memadu Kasih dengan istrinya sang prabu sedang merayu-rayu istrinya yang pura-pura tidak mau melayaninya naga pratala telah tiba di bangsa pangrawih Ia berpikir dalam hati Bagaimana caraku membunuh Angling Dharma tubuhku sangat besar dan tidak mungkin masuk Bangsal dengan tubuh sebesar ini Baiklah aku akan merubah bentukku Ia pun mengubah bentuk tubuhnya menjadi seekor ular kali dengan mudah ia memasuki pangsal lalu menyusup di bawah guling tanpa diketahui oleh siapapun . dengan posisi itu dengan mudah ia dapat membunuh raja akan tetapi ketika ia hendak menggigit ada cobaan dari dewa Prabu Angling Dharma berhenti merayu istrinya ia mengelus dada karena teringat kejadian di taman dan menyesal atas apa yang dilakukan kepada naga kini sang permaisuri bertanya ada apa ganda saya lihat sekembalinya dari taman Kandas sering mengelus dada tidak makan dan juga tidak tidur apa yang terjadi Kanda Katakanlah padaku Angling Dharma menjawab Dinda saat aku bertamassa ke Taman aku melihat anakku naga kini sedang bercinta di tengah jalan dengan seekor ular tampar aku saat itu sangat marah melihatnya dan bermaksud membunuh ular tampar dengan anak panah tetapi anak panahku meleset dan mengenai ekor naga gini Aku sangat menyesal Jika ia melaporkan Pada ayahnya dan Kakang Naga pratawa tidak bijaksana apa jadinya Dinda naga pratawa yang berada di bawah guling tertegun dalam hati ia berkata untuk aku belum jadi menggigit mau Dinda Angling Dharma jika terlanjur aku membunuhmu aku yang rugi kehilangan saudara dan menyesal membunuh orang yang tak berdosa aku yang tidak waspada dan aku yakin naga kini yang telah berbuat tidak benar ia segera keluar dari persembunyiannya Sesampai di halaman ia mengubah dirinya menjadi bentuknya semula lalu berteriak memanggil Angling Dharma Dinda Angling Dharma aku yang datang Aku rindu padamu karena sudah lama kita tidak bertemu Prabu Angling Darma bertanya kepada suara yang memanggilnya Siapakah yang memanggilku Masa kamu lupa padaku Dinda aku nakal adalah keluarlah Sang Prabu Aku sudah sangat rindu padamu Samudra kakakmu ini sejenak sang prabu terlihat gugup saat mau keluar permaisuri menahannya sambil Matanya berkaca-kaca jangan keluar ganda Siapa tahu ia memanggil karena ingin membunuh Kanda Prabu Angling Darma berkata Aku pasrahkan hidup dan matiku pada Dewa Dinda dan aku rasa jika Kakang menangkap peratarah ingin membunuhku Aku tidak akan bisa bersembunyi di manapun Kakak menanggap ratalah lebih Sakti dari aku sekarang aku akan menemuinya sang prabu memaksa keluar walaupun permaisuri terus tidak mengizinkannya ditepiskannya tangan istrinya lalu buru-buru keluar ke halaman naga Pratama memeluknya sambil berkata Dinda malah mungkin aku tega membunuhmu Hanya kamulah Saudaraku di dunia dan akhirat apa jadinya Jika Aku Jadi membunuhmu kamu mati tanpa dosa dan aku akan menyesal sepanjang masa tetapi sudah menjadi kodrat bahwa orang yang baik akan selalu mendapat keselamatan Maafkan aku yang telah hilang apa jadinya jika aku terlanjur menggigitmu Angling Darma menjawab Aku tidak bisa memberi jawaban Kakak aku juga minta maaf Dinda aku merasa berhutang Budi padamu telah menjadi kehendak Dewa aku harus memberimu ilmu berupa Aci gaib Inang aku akan mengajarkannya padamu kuasailah ajian itu karena sangat besar manfaatnya selagi aku masih hidup Jika kamu mengucapkannya kamu akan mengetahui bahasa apapun hewan dan juga semua benda yang berbunyi yang ada di bumi ini tetapi pesanku jangan sekali-kali Dinda mengajarkan ilmu ini kepada siapapun termasuk kepada anak maupun istri sekarang Nayla ke punggungku aku akan membawamu pergi Prabu Angling Dharma menghaturkan sembah Lalu naik ke punggung naga Pratama naga Pratama segera berjalan membawa Prabu Angling Dharma ke dalam gua di tengah hutan setelah berada di dalam gua segera Prabu Angling dharmadiwejang mantra jika Ibu setelah mendapat bisikan tiga kali Prabu Angling Darma dapat menguasai dengan baik ajian tersebut naga Pratama berkata Hanya kamulah saudaraku Aku bersyukur kepada dewa karena Dinda telah mampu menguasai ajian tersebut tetapi Ingatlah pesanku jangan sekali-kali Dinda mengajarkannya kepada siapapun termasuk anak atau istrimu aku tidak rela jika kamu melakukan itu dan aku akan mengutukmu Angling Dharma menghaturkan sembah naga pratawa lalu kembali ke Kahyangan dalam sekejap mata Angling Darma telah sampai di istana malwapati ia berdiri lama di halaman karena banyak semut gatal datang mendekat karena mencium bau harum tubuhnya dalam hati ia sangat heran para semut mengeruputinya sambil berkata tidak biasanya sang prabu berbau harum seperti ini sang prabu berpikir dalam hati sementara itu Dewi sejak masih menangis tersedu-sedu di dalam kamar Duh Kanda lama sekali tanda pergi Apakah dibunuh oleh suara yang memanggil tadi wong Agung jika batuka mati hambamu ini akan ikut mati tiba-tiba Prabu Angling Dharma datang dan memeluknya Aduh Dinda jangan menangis putri yang cantik tanda tidak mati Mutiara Hati pujaanku Apa yang membuatmu bersedih Sang Putri menjawab hamba menangis karena khawatir tanda mati hamba sangat takut sang prabu memeluk leher lalu mencium Sang Putri [Musik] Prabu Angling Dharma tidak jemu-jemuk merayu istrinya semalam suntuk Mereka bercinta memadu kasih sang rembulan telah kembali ke peraduan digantikan Sang Hyang Bagaskara Sang Putri dibawa keluar ke tempat pemandian mandi berdua diiringi oleh para dayang yang siap melayani semua keperluan rumah tangga sang prabu terbina dengan baik saling mengasihi dan saling mencintai mereka seakan tak bisa berpisah walau sehari bagaikan Mimi dan mintuno Bahkan sang prabu sampai lupa tidak keluar kepisowangan pada suatu saat Ketika sang prabu dan Dewi sejak sedang tidur-tiduran di dalam kamar ada sepasang cicak di atas mereka bernama Kiser panah dan yiservani yang berkulit putih mulus Kisar panah berkata kepada istrinya Nyai layanilah aku sebentar saja Aku ingin seperti sang prabu dan permaisuri dalam bercinta Nyai jawab perutku sedang ada telurnya Kakak nanti bisa pecah jika kamu ganggu tunggulah Sampai lahir Sekarang aku sedang hamil tua Kisar panah terus memaksa istrinya Ayolah nih Jangan takut aku akan berhati-hati kamu tidak akan mati biarkan kubra perutmu agar telurnya cepat keluar niserbani menyahut Jangan memaksa Kakak kapal aku menolak melayanimu tetapi aku sekarang tidak bisa tunggulah setelah telur ku keluar setahun pun aku akan bersedia melayanimu viser panah tidak mau tahu dengan Alasan istrinya yang tidak mau diajak tidur dan diserbani tetap ngotot menolak kisah Panah memaksa dan mengejar istrinya yang berlari lalu menggigitnya hingga ekornya putus niserpani menangis kesakitan dasar laki-laki tidak tahu diri buruk sekali kelakuanmu tidak punya belas kasihan pada istri bunuhlah aku daripada aku hidup nanggung malu karena tidak punya ekor sang prabu Angling Dharma yang melihat tingkah pola binatang Dadi tersenyum sambil menutupi mulutnya Dewi sejak salah paham dan menyangka sang prabu menertawakannya karena tidak bisa memuaskan suami dengan wajah cemberut Sang Dewi bangkit Kenapa ganda tertawa sambil menutup mulut Apakah anda tidak sudi lagi dengan tubuhku ini apakah karena aku hanya orang gunung yang beruntung menikah dengan raja pulangkan saja Hamba ke gunung jika anda sudah tidak Sudi banyak istri Kanda yang merupakan putri-putri yang cantik sang prabu berkata dengan lembut sambil memeluk dan menciumi istrinya Meskipun banyak Putri Raja tetapi tidak sama denganmu dalam olah Asmara jangan Dinda salah paham aku tersenyum karena melihat tingkah disertana dan disertai mengajak istrinya bercinta tetapi Nizar Fanny menolak suaminya terus memaksa dan menggigitnya hingga ekornya putus Dewi sejak menjawab tumben ganda bisa mengerti bahasa jejak jantan dan betina Sakti sekali ke kandang sang prabu berkata Dinda aku bisa mengetahui semua ucapan dan bahasa makhluk karena diwejang oleh Kakang naga Pratama Dewi sejak memohon dengan suara lembut tanda kalau begitu ajarilah hamba ajian itu hamba sangat ingin memilikinya Paduka ajarilah hamba ilmu itu hamba ingin tahu bahasa semua makhluk yang berbunyi ajarilah jika anda benar-benar tulus Mengasihiku Prabu Angling Dharma menjawab Dinda Apapun yang kamu minta akan aku kabulkan kecuali minta diajari ajigai begini Mintalah perhiasan yang indah emas atau Permata tetapi jangan ajikineng karena itu menjadi larangan [Musik] aku takut karena sudah berjanji pada guru dan aku takut karena kutukannya perhiasan mutiara buat apa hamba sudah tidak kekurangan jika Paduka benar-benar mencintaiku hanya ilmu itu yang hamba minta tuh Dinda Aku sangat mencintaimu Aku akan mengajari ilmu yang bisa untuk merasuk ke benda lain tidak tanda hamba tidak senang ilmu itu baik Aku akan mengajarimu ilmu mana Bukan itu kandang yang hamba minta hamba ingin ilmu gaib yang tinggi sang prabu berkata lagi tidak boleh murid menghianati guru kutukannya akan benar-benar terjadi dengarlah Dinda aku takut pada guruku yang pernah kamu lihat dulu Nanti Dinda aku ajari Aji mancala Putra yang bisa merubah Dinda menjadi laki-laki Sang Putri tetap menolak atau nanti aku ajari nyalendro Sang Putri semakin ku Sarah hatinya Aduh kandak yang tampan rupawan jangan membujukku jika anda tidak mau mengajari Lebih baik aku mati membakar diri sang prabu menjawab Aku tidak bisa menghianati guru Jika kamu mati aku akan ikut bersamamu sudah tujuh hari sang putri berdiam diri dan tidak mau dihibur karena permintaannya tidak dikabulkan sang prabu juga tidak mengadakan biswangan hanya menghibur istrinya Sudah jangan sedih Dinda sekarang aku akan keluar mengadakan biswawangan Sudah lama aku tidak keluar istrinya menjawab jika Paduka tidak mengajari hamba ilmu kineng itu lebih baik hamba mati membakar diri sang prabu berpikir dalam hati mana mungkin dia berani melakukannya mati itu berat apalagi hanya untuk meminta ilmu Sang Putri berkata Kanda perintahkan membuat api di alun-alun dan hamba akan masuk ke dalamnya Jika anda sudah tidak sayang pada istri lagi Prabu Angling Dharma sangat terkejutan marah mendengar penuturannya istrinya Ia lalu memanggil emban-emban panggilah Wati apa lagu dan sampaikan perintahku untuk menyiapkan kayu dan minyak emban segera keluar menemui Pati dan menyampaikan pesan sang prabu Patih menyanggupi emban kembali lagi ke kaputren menghadap raja terserah kehendak istriku apa dia Jadi mau ke dalam api sekarang aku akan bersuci kata Prabu Angling Dharma Dewi Secang telah selesai bersuci lalu mengenakan pakaian serba putih dan memakai wangi-wangian Jika dilihat Sang Putri sudah menyerupai mayat kembar keluarlah setelah kepergianku tetaplah mengabdi kepada raja dengan baik Maafkanlah jika selama ini aku punya kesalahan kepada kalian para selir dan madu semua Maafkanlah juga jika ada perkataanku yang menyakiti hati kalian para slim jawab Jangan begitu Gusti siapa yang akan kamis kami jika Gusti masuk ke dalam tungku dengar juga pesanku jangan kalian saling bertengkar kata Sang Putri lagi para selir menangis sedih kami tidak mau Gusti tinggal masuk ke dalam tungku sang prabu hendak keluar pisau warna Sang Dewi perkata Lihatlah ganda hamba benar-benar akan masuk ke dalam api Prabu Angling Dharma menggandeng istrinya menuju ke tempat disewakan mereka tanpa bagaikan Dewi Ratih dan pasar ragam aja ya para prajuritan punggawa lengkap menghadap tempat pembakaran yang berupa kayu yang telah disiraminya pinggir-pinggirnya dihias dengan janur kuning dan diberi panggung sang prabu sekarang Dinda hamba akan naik ke panggung Kanda sang prabu lalu menggandeng permaisuri menuju panggung dan memerintahkan kepada salah seorang Mantri untuk membakar kayu Mantri segera melaksanakan tugas tapi sudah menyala barakobarkobar mengeluarkan suara seperti geledek para Mantri bertanya-tanya dalam hati apa maksud Raja mau masuk ke dalam api yang menyala sementara itu Batara Indra dan Batara Wisnu turun ke tempat tersebut dengan menyamar sebagai sepasang kambing mereka berada di pinggir api ditugaskan menggoda Prabu Angling Dharma kambing betina berkata kambing jantan Aku lapar ambil kacang rukun yang berada di pinggir perapian itu kambing jantan menjawab Janur Kuning kepunyaan Raja itu untuk hiasan berapian jangan kamu memakannya kambing betina memaksa kambing jantan Aku benar-benar lapar boleh atau tidak boleh aku harus memakannya kambing jantan lalu berkata kalau tidak bisa aku ingatkan Ya terserah sana kalau mau mati akhirnya kambing betina diam dan menurun apa kata kambing jantan Maharaja Angling Dharma mendengar percakapan sepasang kambing tersebut ia tersenyum dan berpikir di dalam hati hewan saja mau berbakti dan menurut apa kata suami aku raja Agung Kenapa istriku tidak menurut dalam sekejap hilanglah rasa cinta sang prabu kepada permaisuri tiba-tiba Dewi Secaba berkata Paduka hamba akan mati Obong jika Kanda tidak mau mengajari ajian Gina sang prabu menjawab jika aku bisa mencegahmu Dinda tetapi jika memang kamu ingin mati Apa yang bisa aku perbuat Dewi Secang menjerit hatinya semakin sedih dan sakit hamba mohon pamit Paduka semoga Paduka akan langgeng menjadi raja besar sepeninggal hamba tanpa menunggu jawaban Sang Dewi melompat ke dalam api yang menyala-nyala terdengar suara tangis Dewi sejak dari dalam api tetapi kemudian hilang musnah bersamaan dengan itu sepasang kambing jelmaan Dewa ikut menghilang api tiba-tiba padam bagai tersiram api bersama hilangnya Sang Dewi sang prabu Diam Terpaku menyesali apa yang telah terjadi Ia lalu memberi perintah kepada para punggawa untuk mencari jasad permaisuri di dalam terapi yang setelah mencari semua melapor bahwa jasad Sang Putri tidak dapat ditemukan Prabu Angling Dharma tampak semakin sedih ia memberi perintah kepada para punggawa dan wadiabalah agar jangan ada yang menghadap dalam jangka waktu sebulan demikian juga para istri diperintahkan agar kembali ke Puri dan dilarang mengganggunya dalam waktu sebulan semua lalu pulang ke rumah masing-masing dalam hati mereka merasa takut kepada sang prabu para putri masuk ke dalam puri dan menangis sepua sepuasnya bermacam-macam tingkah mereka ada yang memukuli dadanya sendiri ada yang berselonjor ada juga yang merontokkan rambutnya sang prabu yang sebenarnya masih sangat mencintai istrinya semakin sedih tidak ada wanita seperti Istriku yang memegang teguh apa yang telah diucapkannya aku tidak menyangka tidak akan benar-benar mati Kemanakah engkau sekarang Dinda engkau telah mati dan tak mungkin aku menikah lagi walau sampai mati Dinda bangunlah permata hati jiwaku Aku akan mengajarimu ajikinang kita tinggalkan Prabu Angling Dharma yang sedang bersedih ditinggal permaisurinya Sementara itu di Kahyangan Dewi Umar dan Dewi Ratih bermaksud menggoda Prabu Angling Dharma Dewi Uma berkata cinta Ayo kita goda Angling Dharma istrinya baru saja mati masuk ke dalam perapian Apa benar dia sanggup tidak menikah lagi Mereka kemudian mengenakan pakaian yang serba indah Sesampai di dekat panggung mereka berhenti Dewi kuma berkata Dinda kamu tinggal dulu di sini biar aku dulu yang menggodanya Dewi Ratih setuju Dewi humalalo berjalan mendekati Prabu Angling Dharma Dewi Umah duduk di belakang bersandar di punggung sang prabu ia berkata dengan manja hamba datang untuk memohon cinta Paduka hanya Paduka yang tercipta dalam hati Sang Prabu diam saja karena tahu bahwa semua hanya godaan dengan terus mengeluarkan rayuannya Dewi Uma memeluk Prabu Angling Darma berkelas Kasihlah padaku pria tampan Jangan jual mahal mengandalkan wajah rupawan Dewi Uma lalu duduk di pangkuan Raja sambil tersenyum manis sang raja berdenyut hatinya bagai mati hidup tanpa menikah tetapi kemudian tidak hanya keinginannya sambil tersenyum ia berkata aku tidak bisa Memandangmu Aku tidak ingin menikah hanya Dewi sejak ada di hatiku Apa kamu tidak malu aku tolak padahal kamu masih muda dan cantik Dewi Uma mengundurkan diri sambil berkata kamu menolak aku baik kamu akan menyesal karena telah membuat sakit hatiku Dewi Uma lalu kembali ke Kahyangan dengan kesal karena tidak berhasil menggoda Angling Dharma Prabu Angling Darma semakin sedih memikirkan Dewi Secang Dewi Oma menemui Dewi Ratih dan berkata Dinda Prabu Angling Darma tidak tergoda Sekarang giliranmu Tetapi kamu harus lebih pintar berdandanlah seperti Dewi Secang dia istri Prabu Angling Dharma yang masuk ke dalam perapian aku akan mengikutimu dari belakang Ayo Dinda Cepatlah berganti wujud Dewi Ratih segera mengubah dirinya menjadi dewi sejak seluruh gerak-geriknya pun ditiru dengan pakaian yang indah cahayanya tampak Gemilang bagai emas yang timbul Dewi Ratih turun ke bumi diiringkan Dewi Uma di belakangnya Sesampai di panggung tempat Prabu Angling Dharma berdiri kedua Dewi yang sudah berubah wajah berhenti di bawahnya Dewi Ratih berkata Paduka turunlah hamba juga Dewi Setiawati Sang Prabu memandangnya Sungguh kamu istriku Dewi Secang ia tidak sadar bahwa yang datang hanyalah bidadari yang menggoda dan menyanggah bahwa benar-benar istrinya yang datang dengan tergoh-goboh Prabu Angling Dharma turun dari panggung tidak aku sangka kamu akan kembali Dinda Aku pikir kamu benar-benar mati aku hampir gila sejak kepergianmu sekarang aku serahkan jiwa raga hidup dan matiku padamu bunuhlah aku jika kamu mau Prabu Angling Dharma bermaksud menggendong Sang Dewi tetapi jelmaan Dewi Ratih mengelak sambil menggoda saat mau ditangkap Sang Dewi menghindar sambil merengut Mau apa kamu kamu tidak sadar kalau mendapat cobaan dari dewa karena sudah bersumpah tidak akan menikah Dewi Uma menimpali kamu sudah ingkar pada Kekuasaan Dewa Mana ada orang yang mati bisa hidup kembali Ayo Dinda kita segera kembali menghadap raja yang tidak Teguh hanya akan membuat rugi bisa-bisa kamu malah Kasmaran karena aku lihat kamu berbelas kasihan padanya kata Dewi Uma kepada Dewi Ratih Ia lalu berkata kepada Prabu Angling Dharma lagi Prabu Angling Dharma kamu aku kutu Kamu tidak akan menjadi raja sebelum mendapatkan wangsit kamu aku Beri waktu 9 tahun kerajaanmu akan berubah menjadi hutan dan matamu akan menjadi lamur atas kehendak Dewa Dewi Ratih dan Dewi Uma lalu melesat kembali ke Kahyangan meninggalkan Prabu Angling Dharma sendirian Prabu Angling Dharma semakin sedih hatinya melihat kerajaannya sudah menjadi hutan belantara akhirnya ia sadar bahwa semua adalah ujian dari dewa dalam hati ia berkata kemana aku akan pulang kerajaanku sudah menjadi hutan belantara aku mendapat celaka dan kesialan setelah kepergian Dewi secang sudah menjadi kehendak Dewa kerajaanku berubah menjadi hutan lalu kemana para rakyat dan prajuritku apakah mereka Mati berat sekali cobaan Dewa ini rasanya aku ingin mati saja Prabu Angling Dharma memasuki istana tetapi ia merasa memasuki hutan belantara saat di sitinggil ia merasa menaiki sebuah bukit jika melihat Manusia ia merasa melihat kancil dan Kijang saat di dalam istana ia merasa di dalam hutan yang sepi saat masuk ke kamar ia merasa di dalam hutan yang pengap akhirnya ia keluar melalui pintu belakang tetapi ia merasa menyusup diantara pepohonan [Musik] Ia terus berjalan menembus hutan belantara hingga semalaman ia berjalan Tiara henti saat fajar menyingsing ia tertekun memandang awan yang berwarna merah dadu bercampur warna jingga dan biru seperti mendung yang bernama sekarwaweyan sang Bagaskara muncul dari ufuk timur sang prabu melanjutkan perjalanannya mengikuti hatinya yang bingung dituruninya jurang-jurang siang malam tiada henti hingga tubuhnya pakai mayat karena tidak makan dan minum dalam hati Sang Prabu berkata dahulu aku adalah raja besar memerintah para raja tetapi sekarang jadi seperti ini karena ditinggal istri lebih baik aku mati dan tidak menjadi raja lagi telah lama ia berjalan siang malam Tiara henti akhirnya sampailah Ia di kerajaan raksasa kerajaan tersebut bernama Baka tetapi rajanya sedang pergi Raja Bangka meninggalkan tiga orang putri bernama Dewi Kumala yang paling tua Retno widuri yang tengah dan memintarsih yang bungsu ketikanya sebangsa siluman yang berwajah cantik Bagai Bidadari Ketika anda mempunyai kebiasaan memakan bangkai manusia Prabu Angling Dharma tidak menghentikan langkahnya walaupun hatinya kagum Melihat istana yang sangat indah istananya terbuat dari batu bata berhias perak putih batu batanya berwarna merah menyala gapuranya terbuat dari kaca di atasnya terdapat butir-butir air di kiri kanan pintu gapura ada dua patung kepala yang membawa gada terbuat dari perunggu taringnya bagi pedang yang siap menetas Siapa saja yang lewat matanya terbuat dari permata merah terlihat menyala-nyala menakutkan gupala nampak seperti raksasa lidahnya menjulur seperti pedang merah Prabu Angling Dharma berpikir dalam hati raja yang memiliki kerajaan ini sangat kaya istananya banyak dihiasi emas tetapi Sayangnya tidak ada punggawa Mantri yang menjaganya Apakah dia raja tanpa pengikut aku akan memasuki istana ini syukur jika rajanya mau Membunuhku ketika memasuki istana ia semakin heran karena tidak menjumpai manusia segelintir pun ia berdiri di atas sebuah bangunan melihat pemandangan yang serba indah Sayang sekali kerajaan ini tiada penghuni semakin masuk semakin terasa sunyi kerajaan Baka dahulu dikuasai oleh raja bernama Prabu kalaperdadi kerajaan itu hanya mempunyai 40 orang pengikut Semuanya ikut rajanya dan semua tidak kembali menurut cerita Prabu kalaper Ratih dahulu pergi mencari Prabu Angling Dharma untuk memangsanya dengan merubah diri menjadi wanita cantik saat akan memasuki Taman ia ketahuan patih-patih madrim Patih batik Madri mengaku dirinya sebagai Prabu Angling Dharma hingga terjadilah pertarungan Pramuka bersama 40 pengikutnya kerajaan menjadi kosong hanya Ditunggu oleh ketiga putrinya saat itu ketika Putri Dewi Kumala Dewi widuri dan Dewi mintarsih sedang bekerja bersama-sama ketikanya siluman raksasa yang bisa merubah dirinya menjadi putri berwajah Ayu mereka sedang menyulam dan membatik ketiganya duduk berjajar yang tua sedang menyiapkan bunga Menur Prabu Angling Dharma masih terkagum-kagum Menikmati keindahan istana ini kerajaan jin atau peri istananya serba emas tetapi tidak ada satupun penghuninya katanya dalam hati [Musik] kebetulan Dewi Kumala bermaksud keluar memetik bunga yang terkejut saat melihat keberadaan Angling Dharma dalam hati ia berkata dari mana orang itu wajahnya sangat tampan rupawan Dewi Kumala terpikat hatinya melihat Angling Dharma segera ia kembali masuk untuk berganti pakaian selesai berbusana ia keluar lagi untuk menemui Prabu Angling Dharma ia membawa Bogor di kedua tangannya satu berisi buah-buahan dan satu lagi berisi perlengkapan makan sirih dengan tingkah dan senyum manis ia menghampiri Prabu Angling Dharma Dewi Kumala memasang jaring pemikat dengan mengelus payudaranya Prabu Angling Dharma memandangnya dengan bergairah dalam hati ia berkata apakah yang menemuiku ini yang mempunyai istana Dewi Kumala membentangkan tikar lalu mempersilahkan duduk Prabu Angling Darma sambil tersenyum manis Silahkan duduk Raden Prabu Angling Dharma segera duduk Sang Dewi Berkata sambil tersenyum Silahkan makan sirih yang sudah saya sediakan ini sayangnya sirih Ini pinjaman jadi nanti bisa diambil yang punya saat saya suguhkan sang prabu merasa tergoda hatinya bagai terkena sihir Retno Kumala bertanya Siapa nama Raden Dan Dimana rumahmu jika anda tersesat tetaplah tinggal disini saja Prabu Angling Dharma menjawab aku berasal dari malwapati aku meninggalkan kerajaan karena sekarang kerajaanku sudah menjadi hutan belantara Namaku Angling Darma dahulu aku adalah raja besar di malwapati yang tiada tanding aku pergi tanpa tujuan karena kehilangan istri yang sangat aku cintai bernama Dewi Secang Maafkan aku orang tersesat yang berani memasuki istanamu putri cantik sekarang ganti aku bertanya Siapakah yang menjadi raja di sini sambil tersenyum Devi Kumala menjawab Ayahku lah yang mempunyai kerajaan yang bernama Baka ini Ayah bernama Prabu kalah berdati ia pergi dengan bala tentaranya dan Sudah lama tidak kembali tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati Aku yang menjaga istana bersama Kedua saudara perempuanku Paduka tidak usah pergi dari sini saya akan menyediakan semua keperluan Paduka Paduka cukup makan dan tidur saja karena saya ingin bersuami Paduka dalam hati Prabu Angling Dharma berkata Putri ini sangat cantik cuma sayangnya yang tidak mempunyai basa-basi dalam hati ia merasa tertarik pada Dewi Kumala dan merasa mendapatkan kesempatan ia menjawab Baiklah aku akan berada di sini tetapi rokokku besar dan aku mohon tetaplah Mengasihiku sampai mati jangan menyia-nyiakanku mana mungkin saya sia-siakan Kalau begitu mari pulang ke rumah saya Saya harus menyembuhkan Raden Karena berbahaya jika ketahuan saudara-saudara saya kedua adik saya pernah membunuh orang jawab Dewi Kumala Prabu Angling Darma digandeng Dewi Kumala ke rumahnya dan langsung masuk ke dalam kamar bagi kayu yang bersanding dengan api karena sama-sama mau maka cepat jari [Musik] saat malam tidak keduanya pun melakukan hubungan suami istri Dewi Kumala cukup matang dan Prabu Angling Dharma sudah sangat berpengalaman suara rintihan dan desahan mereka Terdengar bagai kumbang yang menghisap madu semalam suntuk Mereka bercinta saat matahari terbit sang prabu tetap tidur di dalam kamar Dewi Kumala keluar dengan malas dan tampak sangat lungkrak berbeda dari hari-hari biasanya widuri merasa tidak enak hati dan ingin bertemu dengan kakaknya Ada apa kan tadi tidak mau menjengukku apa dia sakit Aku akan menengoknya sekarang katanya dalam hati ia bergegas menuju ke Rumah kakaknya Sesampai di rumah kakaknya ia bertanya Kanda Dewi apa ganda sapi perut kakaknya menjawab tidak Dinda aku tidak sakit setelah beberapa saat bercanda adiknya berkata Kanda aku mencium bau lagi-lagi Apakah anda menyimpan manusia Retno Kumala menjawab Jangan salah paham Dinda mana ada manusia datang kemari aku mencium bau dari tempat tidur bantah adiknya Dewi widuri lalu membuka diri yang menutup tempat tidur yang kaget melihat ada orang di dalamnya dengan tertawa dan sedikit takut ia keluar menghampiri kakaknya Kanda sudah mempunyai suami tetapi tidak bilang Dimana rumah tamu yang sedang tidur itu ganda Aku baru saja menemukannya jawab Dewi Kumala adiknya berkata lagi Kalau boleh aku akan meminjamnya kandang semalam saja bawalah Kalau dia mau tetapi tanyalah sendiri karena aku juga cuma ketempatan jawab kakaknya Reno widuri berjalan masuk ke dalam kamar kembali di teluknya Prabu Angling Dharma lalu berkata tuaan aku pinjam dan Kandas sudah mengejinkan sang prabu tersenyum lalu bertanya aku dipinjam mau untuk apa dipinjam tentu ada perlunya racun itu aku tidak kuat lagi goda sang prabu Sang Putri membujuk pria tampan Apakah kamu merokok Ayolah Raden kita keluar jual mahal sekali keduanya lalu berjalan pergi Dewi Kumala menyelutu Jangan sampai hilang di jalan susah mendapatkannya saat malam tiba Prabu Angling Dharma berada di kamar Dewi widuri Sang Dewi dipeluk dan akhirnya mereka berhubungan badan Sang Dewi sangat puas karena baru pertama kali melakukan hubungan suami istri Pagi harinya adik perempuannya yang bernama Dewi mintarsih merasa sangat rindu kepada kakaknya dan bermaksud berkunjung apa Kakak sakit ya katanya dalam hati bergegas menuju ke Rumah kakaknya setelah bertemu ia bertanya apa ganda sakit Iya aku sakit jawab Dewi widuri Dewi minta resih tersenyum dan agak takut Kanda menyimpan manusia ya aku mencium bau manusia di sini sumbernya dari tempat tidur anda Ia lalu menyita diri tempat tidur kakaknya dan kaget melihat Prabu Angling Dharma yang sedang duduk ganda Izinkan aku meminjam tamumu semalam saja katanya pada Dewi widuri kemudian bawalah Dinda tetapi tanyalah dulu mau atau tidak Dewi mintarsi kembali ke kamar tidur menemui Prabu Angling Darma Raden aku pinjam dan aku akan bawa pulang Kanda Dewi sudah mengizinkan katanya Prabu Angling Dharma menjawab untuk apa kalau pisau dipinjam untuk membuka kemiri kalau aku dipinjam buat apa di rumahku banyak tikusnya jawab minta si sambil tersenyum akhirnya Prabu Angling Dharma dibawa ke rumah Dewi mintarsih dan semalam Mereka bercinta hingga puas Pagi harinya Dewi Kumala datang menemui Prabu Angling Dharma sang prabu Mari kita pulang Dewi mintasih menyahut aku tidak mengijinkan Dewi widuri menyahut tidak mau kalah aku juga keberatan Prabu Angling kalau kalian benar sayang padaku jangan berebut ikutlah saja teman aku pergi mereka pun menyetujui sang prabu lalu menggendong yang tua Dewi widuri menariknya dari belakang merajuk minta digendong Dewi minta resih mencari tidak mau kalah Aku tidak mau ditinggal aku masih muda dan cantik tidak takut bertanding Dewi mintarsih semakin kesal melihat kakaknya digendong widuri berkata jangan tergesa-gesa tidak akan habis gantian yang mudah belakangan nanti tidak kuat yang menggendong Dewi mintasih menjawab sangit yang tua harusnya mengalah Maharaja Angling Dharma tidak kurang akan untuk mendamaikan mereka ketikanya dipeluk lalu bersama-sama dibawa ke tempat tidur tuh Dinda Kumala yang paling tua kecantikanmu mengalahkan Bidadari Dewi widuri Yang tengah cantik dan senyumnya sangat manis Dewi mintasih yang bungsu kecantikannya bagai bulan Prabu Angling Dharma mampu memuaskan ketiganya sekaligus ketika Putri merasa puas dan semakin menyayangi sang Perahu sang prabu Angling Dharma tertidur Dewi Kumala berkata kepada adik-adiknya Dinda selagi Pangeran tidur ayo kita ke kuburan ketikanya lalu pergi ke tempat penampungan bangkai manusia di bawah pohon cemara yang gelap terdapat banyak bangkai manusia dan baunya sangat amis Mereka kemudian mematikan lilin-lilin hanya disisakan beberapa untuk membakar hati mereka kemudian mulai makan setelah kenyang widuri pun mengajak pulang hari sudah hampir pagi ayo kita pulang apa jadinya kalau sang pangeran terbangun ketikanya berjalan pulang lalu mandi untuk menghilangkan bau selesai mandi ketikanya kembali ke kamar memakai wangi-wangian lalu memeluk Prabu Angling Dharma seolah masih tidur sang prabu tidak mengetahui perbuatan ketika Putri tersebut saat pagi menjelang ia dibangunkan oleh para putri Prabu Angling Dharma terlihat sangat nyenyak tidurnya pria tampan bangunlah dan sungguhlah aku rasanya belum puas hati ini sekarang sudah pagi bangunlah dan bermainlah dengan payudara ini wahai pria yang pandai tercinta Prabu Angling Dharma terbangun karena terkejutan marah dalam hati aku kaget kalian bangunkan Ada apa saat di palwapati Jika aku tidur tidak ada Istriku yang berani membangunkanku rasanya tidak berharga aku disini jangan dibangunkan jika aku masih tidur lebih baik aku kalian bunuh maafkan kami pangeran sudah biasa perempuan khilaf Maafkan sekali ini jika kami mengulangi silahkan menghukum kami ketikanya menghaturkan sembah bersama-sama dengan tersenyum manis kami mengaku salah silahkan memukul kami tapi itulah kami dengan kidung cinta asmara hunjamkan keris kalau misalnya kami akan Menghadang dengan raga kami mereka terus merajuk dengan suara memelas akhirnya sang hati Prabu Lulu lalu memeluk ketikanya saat malam tiba kembali mereka melakukan hubungan suami istri setelah sang prabu tidur ketikanya pergi meninggalkannya untuk memangsa bangkai suatu malam setelah sang prabu tertidur Dewi Kumala mengajak adik-adiknya ke tempat pembuangan bangkai saat tengah malam Prabu Angling Dharma terbangun dan tidak mendapati para putri di sampingnya dalam hati ia bertanya-tanya Dimanakah istri-istriku ini Mana mungkin mandi malam-malam begini apa mereka ada janji dengan orang lain dicarinya di tempat pemandian tetapi tidak ditemukan dicari di halaman juga tidak ada Akhirnya ia kembali ke tempat tidur tetapi tidak tidur Kemana mereka kalau bermain-main masa malam-malam gelap begini pikirnya ketika Putri telah pulang saat sampai di halaman Dewi Kumala berkata Ayo Dinda kita cepat mandi dan bergantian masuk rumah jangan sampai membangunkan Pangeran sang prabu Angling Dharma Mendengar pembicaraan mereka selesai mandi para putri bergantian masuk ke dalam kamar sang prabu Angling Dharma masih berpura-pura tidur dengan tersenyum para putri memeluk suaminya sang prabu pun tersenyum dalam hati para putri cantik ini aku duga setiap malam pergi meninggalkan saat aku tertidur Kemana mereka pergi kata Sang Prabu dalam hati Pagi harinya para putri sudah mandi dan terlihat sudah tidur lagi dengan nyenyak sang prabu bangun melihat-lihat halaman belakang ia sangat terkejut melihat tulang-belulang Manusia yang bertumpu ia jadi berpikir dalam hati apakah tempat ini Kayangan para raksasa berbagai praduga berkecamuk di hati dan pikirannya ia berjalan lalu tertegun berdiri di halaman sambil terus berpikir para putri yang terbangun dari tidurnya tidak terkejut menjumpai suami di samping mereka mereka saling berbisik Pangeran tidak ada Ayo cepat kita susul para putri lalu keluar dan berhenti di belakang sang prabu Pangeran jahat sekali kenapa kami tidak dibangunkan hingga bangun kesiangan protes mereka Prabu Angling Dharma menjawab Aku memang tidak membangunkan kalian karena takut kalian akan marah Aku tidak berani membangunkan kalian yang sedang nyenyak tidur Retno Kumala menjawab tidak mungkin kami marah kepada suami kalau Pangeran mati kami yang celaka dalam hati Sang Prabu sangat marah teringat mereka meninggalkannya saat tidur tetapi berusaha disembunyikannya lama mereka pada cengkrama dan bercanda di luar saat sang surya mulai tenggelam sang prabu membawa Ketika istrinya masuk ke dalam kamar setelah berada dalam kamar ia berkata kepada istrinya Dinda Sudah lama aku meninggalkan kerajaan dan tidak tidur sepanjang perjalanan di sini aku enak-enak tidur dan bercinta dengan kalian sekarang Aku ingin tidur Dinda dicatlah kedua betisku satu orang memijat sebelah sedangkan Dewi Kumala bisa telah dadaku kata Prabu Angling Darma dengan lembut ketika Putri dengan patung melaksanakan perintah suaminya dan mulai memijat Prabu Angling Dharma berpikir dalam hati Aku akan pura-pura tidur agar mereka meninggalkanku nanti aku akan mengikuti Kemana mereka pergi Prabu Angling Dharma lalu pura-pura mendengkur bahkan mengikuti setelah malam semakin sunyi Dewi widuri mengajak kakaknya untuk pergi Kanda Ayo kita segera berangkat katanya menjawab ia Dinda Ayo kita cepat berangkat Prabu Angling Dharma yang pura-pura tidur Tersenyum Dalam hati Dewi Kumala menyelimutinya lalu pergi meninggalkannya perlahan pada waktu tengah malam Prabu Angling dharmanya keluar meninggalkan raganya untuk mengikuti Ketika istrinya Sang Prabu sudah merubah wujud menjadi seekor burung gagak putih terbang di atas ketiga Putri yang berjalan Sesampai di kuburan para putri segera menyembelih mayat mayat dan mengambil hatinya burung gagak putih dalam hati berkata jika mereka manusia tidak mungkin mereka makan bangkai apa mereka adalah siluman raksasa kalau begitu aku sudah menikahi para raksasa tetapi kenapa wajah mereka sangat cantik hingga kusangka benar-benar manusia banyak sekali Ranting Cemara yang digunakan untuk membakar hati dan lutut Putri yang tertua senang makan hati yang tengah senang makan lutut dan yang muda suka makan limpa burung gagak putih turun hinggap di tonggak yang berada di hadapan para putri Ratna Kumala yang melihatnya berkata Baru kali ini aku melihat ada burung gagak malam-malam di tempat ini kedua adiknya menimpali mungkin penunggu tempat ini kandang ketika Putri raksasa berusaha mengusir burung gagak Putih yang ada di hadapan mereka Hei gagah Cepatlah pergi dari sini teriak Dewi Kumala mengusirnya si gagal tidak mau pergi bahkan kemudian berkau-kauk membuat nyeri di hati saat mereka melemparinya si Gaga hanya terbang menghindar tetapi tidak juga pergi jika Kang kembali menghampiri para putri raksasa sambil berkau Dewi Kumala Perseru apa yang kamu minta gagak jelek kenapa kamu menghampiri orang makan dan terus memandangi mulut gagak Sialan aku kandung kamu nanti aku lempar sampai mati lalu aku sembelih tanah aku ambil hatimu Dewi Kumala menendang si gagak si gagak terbang rendah lalu kembali ke tempatnya semula Sang Dewi kesal sekali hatinya gagah Ini benar-benar sialan Semoga kamu dimakan hantu kalau mau makan di sini banyak sekali pantai Kenapa mengganggu orang makan katanya kemudian adiknya berkata tenang ganda coba lempar Kakak itu dengan makanan agar cepat pergi sedih hatiku mendengar suaranya Dewi Kumala segera melempar hati pada Kakak Putih Si Gaga menangkapnya tetapi tidak memakannya kemudian prinsip mendekati Dewi widuri Dewi Kumala berkata Dinda Cepat beri dia makanan Dewi widuri melemparkan manusia itu ditangkap lalu digenggamnya gagak putih kemudian menghampiri Dewi mintarsih lalu berkaweb Dewi minta arsih berkata dasar gagak Gila takdirkandha Dewi yang didekati sekarang ganti aku dan susah sekali diusir Sang Dewi lalu melemparkan sepotong limpa kepada si gagak gagak mematuknya lalu terbang meninggalkan mereka keesokan harinya kedua Putri yang mudah mengajak pulang sudah siap Kanda bisa bahaya kalau Sang Prabu sudah bangun mereka lalu berjalan pulang dengan tergesa-gesa dalam hati mereka agak khawatir karena tidak biasanya kesiangan seperti itu sementara itu Sukma sang prabu Angling Darma telah kembali masuk ke dalam raganya Prabu Angling Darma duduk termenung menyesali dirinya sendiri aku kurang waspada hingga memperistri anak raksasa Lebih baik aku mati jika tahu harus menikahi anak raksasa Sungguh aku malu pada para dewa Ia lalu beranjak membuka botol wangi kepunyaan Dewi Kumala yang terbuat dari emas yang cemerlang dimasukkannya sepotong hati yang diperolehnya ke dalamnya Ia lalu membuka botol minyak wangi milik Dewi widuri yang terbuang dari perak dan menaruh Tutut ke dalamnya terakhir dibukanya botol milik Dewi mintarsih dan meletakkan limpa di dalamnya setelah selesai dikembalikannya botol-botol tersebut di tempat semula lalu ia kembali ke tempat tidur pura-pura Masih tidur para putri yang baru saja tiba di istananya segera mandi selesai mandi mereka mengintip suaminya yang masih berada di kamar mereka sangat senang melihat suaminya masih tertidur dengan nyenyak dengan langkah perlahan Mereka bergantian masuk ke dalam kamar Prabu Angling Darma pura-pura [ __ ] ketika melihat istri-istrinya datang direkohnya Ketika istrinya ke dalam pelukannya Dinda semalam aku bermimpi Apa arti mimpiku ini Biasanya kalau aku bermimpi pada waktu Dara dasi itu adalah mimpi yang benar katanya kemudian Kanda bermimpi apa hambamu ini ingin tahu tanya mereka Prabu Angling Darma malah luber cerita aku bermimpi seperti pergi ke pasar bersama kalian di sepanjang jalan ada burung gagak putih yang mengikuti kita sepulang dari pasar gagak putih itu masuk ke dalam kamar menaruh tutu dan limpa yang katanya pemberiannya setelah ku tanyai ternyata dia juga membawa sepotong hati manusia setelah gagah itu pergi aku tidak tahu dimana lutut lempar dan hati itu ditaruh sudah Kanda tidak usah diperpanjang lagi itu adalah mimpi orang yang doyan tidur sahut para putri kalau begitu Aku akan tidur lagi Dinda jangan ada yang berani membangunkanku karena aku masih sangat ngantuk kata Sang Prabu kemudian setelah Prabu Angling Darma tidur para putri keluar untuk mandi selesai mandi mereka bermaksud menyisir rambut dan memakai wewangian Dewi Kumala sangat terkejut saat membuka botol minyak uangnya ia menemukan sepotong hati di dalam minyak wanginya Dewi widuri segera membuka botol minyak wanginya ia tidak kalah terkejutnya karena mendapatkan minyaknya telah kemasukan Tutut dengan penasaran Dewi mintarsih segera membuka botolnya Ia mendapatkan limpa di dalamnya Dewi Kumala berbisik kepada kedua adiknya botol minyakku ada hati manusia yang dibakar Dewi widuri menyaut ia Kanda minyakku ada Tutut yang bercampur minyak Dewi mintarsih menimpali minyakku juga ada limpahannya Dewi Kumala lalu berkata lagi kalau begitu semua perbuatan kita sudah ketahuan Dinda Prabu Angling Dharma hanya bermaksud menyindir kita saat bercerita tentang mimpi yang sudah tahu kalau kita anak raksasa adiknya bertanya dari mana dia tahu Bukankah saat kita tinggalkan dia masih tidur dan saat kita datang dia juga masih tidur kakak yang kita jumpai itu pasti penjelmaan Prabu Angling Dharma buktinya ada hati Tutut dan limpa di botol kita Aku sangat malu sekarang sebaiknya Bagaimana Dinda adiknya menjawab kita Bunuh saja kandang kita sembelih lalu kita makan tidak-tidak kita tidak berhutang nyawa padanya kita telah dipermalukan maka kita balas saja sesuai perbuatannya Karena bagaimanapun dia sudah baik pada kita ayo kita usir saja manusia usil ini Supaya pergi dari sini
No comments:
Post a Comment