Monday, February 19, 2024

Legenda Jaka Tarub dan 7 Bidadari

 Sekali peristiwa ada seseorang bernama Ki Ageng Selandaka, seorang penyumpit burung. Di tengah perburuannya hari itu dia menemukan sesosok bayi yang seperti sengaja ditinggalkan di hutan. Karena tujuannya adalah untuk berburu maka bayi yang ditemukannya itu ditinggalkan di bawah pohon dia berniat terlebih dahulu meneruskan pekerjaannya, di sisi lain hiduplah seorang janda yang tinggal di desa tarub. Orang-orang tarub memanggil janda itu dengan nama nyi Wulanjar dialah janda dari Ki Gede Tarub yang tidak memiliki seorang anak. Ia selalu meminta kepada tuhan untuk memberikannya seorang anak, meski suaminya telah tiada. Siang dan malam nyi Wulanjar memohon namun belum ada tanda-tanda datangnya anugerah itu merasa belum dikabulkan permintaannya ia hanya bisa pasrah pada takdir hidup tanpa suami tanpa buah hati bila malam ia hanya bersahabat dengan suara katak, jangkrik dan serangga malam bila siang ia berhelat sendirian dengan sawah dan ladang jenuh dengan pekerjaan sehari-harinya nyi wulanjar menghabiskan waktu duduk sendirian di amben gubug hutan menikmati kicau burung-burung yang hinggap di dahan pepohonan menikmati gemerosak air terjun yang sangat deras dengan sungai yang mengalir jernih menuju muara saat menyaksikan sepasang burung yang terbang di angkasa nyi wulanjar mendadak teringat pada ki ageng tarub teringat dengan kebersamaannya dalam menjalani hidup rumah tangga teringat janjinya akan memberi momongan sebanyak-banyaknya namun apa daya sesudah tigapuluh tahun ia hidup berumah tangga tak seorang momongan pun dilahirkan bahkan suaminya justru telah wafat nyi wulanjar berserah diri pada takdirnya sebagai wanita renta yang tak memiliki keturunan dia mulai berpikir buruk tentang bagaimana nasibnya kelak ketika ia sakit siapa yang akan merawatnya ketika meninggal siapa yang akan menziarahi makamnya segudang pertanyaan nyi wulanjar yang tak menemukan jawaban kian menimbun di benak kepalanya namun mendadak sayup-sayup ia mendengar suara bayi yang bersumber dari balik pohon giyanti sontak ia berhasrat menemukan sumber suara yang begitu menyayat itu mata nyi wulanjar terbelalak saat menyaksikan bayi yang tergeletak di atas selembar sarung dengan wajah bersinar ia tampak keheranan bertanya dalam hati siapa orang tua bayi itu kenapa orang tuanya tega meletakkan bayi di tepi hutan dan kenapa bayi itu justru berhenti menangis dan tersenyum kepadanya apakah bayi itu anugerah dari tuhan ia percaya kalau tuhan telah mengabulkan doa yang sekian lama dilafalkan di dalam ruang samadi sesudah membopong bayi yang diyakini sebagai anugerah tuhan itu nyi wulanjar merasa sebagai perempuan yang sempurna merasa sebagai ibu sekalipun tak mampu menyusuinya ia merasa kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan tepat oleh para pujangga dengan kata-kata ketika bayi itu kembali menangis karena haus dan lapar naluri nyi wulanjar sebagai perempuan terbangkitkan ia teringat pada tajin gula aren buatannya nyi wulanjar kemudian berbisik pada bayi itu agar tidak menangis lagi ia berjanji pada sang bayi untuk memberinya makan sesampai di rumah nanti bayi itu akan disuapinya ia berjanji untuk memeluknya selalu dengan penuh kehangatan di tempat lain ki ageng selandaka merasa sial meski sudah sekian puluh sumpit melesat dari lubang tabung bambu ia belum mendapatkan seekor burung pun dalam hatinya ia bertanya-tanya kenapa burung-burung itu seolah memiliki mata seribu sehingga terbang sebelum ujung sumpit menyentuh sasaran merasa lelah sesudah sekian pal menjelajahi hutan ia duduk di bawah pohon ki ageng selandaka bertanya-tanya apakah kesialannya karena menelantarkan bayi temuannya tergolek sendirian di bawah pohon giyanti karena merasa begitu bersalah ki ageng selandaka beranjak dari tempatnya bukan kembali berburu melainkan untuk menjenguk bayi yang telah ditinggalkannya sesampai di dekat pohon giyanti ki ageng selandaka terperanjak pandangannya menjadi kabur ketika mengetahui bayi itu telah raib dari tempatnya ia mulai berprasangka kalau bayi itu telah dimangsa harimau atau ular piton ia pun mulai mengumpat pada dirinya sendiri sebagai orang paling dungu dan paling jahat di jagad raya lantaran membiarkan harimau atau ular piton memangsa bayi itu hidup-hidup sekujur tubuh ki ageng selandaka merasa tak berotot dan bertulang ia menjadi merasa tak bertenaga kesialannya menjadi sempurna selain tidak dapat mendapatkan burung ia kehilangan bayi yang ditemukannya selagi ki ageng selandaka merenungi nasib buruk muncul seorang penyumpit dari balik rerimbunan semak semula ia tak mempedulikan sapaan penyumpit itu namun ketika penyumpit itu memberitahu bahwa nyi wulanjar dari desa tarub telah menemukan bayi ia bertanya dalam hati apakah itu bayi yang ditemukannya tanpa memperdulikan cerita selanjutnya dari sang penyumpit ki ageng selandaka bergegas meninggalkan tempat itu tak ada tempat lain yang dituju selain rumah nyi wulanjar di desa tarub di sana ia ingin meminta bayi itu wajah nyi wulanjar nampak sumringah usai bayi yang telah diberi minum tajin gula aren tertidur pulas di gendongan selagi menggendong bayi itu di depan rumah nyi wulanjar melihat datangnya seorang lelaki paruh baya yang belum dikenalnya anehnya setelah mengenalkan diri lelaki paruh baya yang tak lain ki ageng selandaka itu meluncurkan tuduhan sebagai pencuri bayi karenanya selandaka meminta bayi itu dari gendongan sang janda nyi wulanjar terkejut ketika mendapat tuduhan yang demikian mengingat bayi itu tidak diambil dari selandaka melainkan dari bawah pohon giyanti di tepi hutan kepada selandaka ia menolak tuduhan kalau dirinya telah mencuri bayi ki ageng selandaka marah besar ia ingin merebut bayi dari gendongan janda tarub itu namun sesudah mengetahui sang bayi tengah tertidur pulas ia mengurungkan niat setelah meredam amarahnya ia kembali membujuk pada sang janda untuk menyerahkan bayinya nyi wulanjar tetap tak mau menyerahkan karena ia tidak mendapatkan bukti kalau bayi itu adalah anak selandaka ia pun menuduh kalau selandaka adalah orang gila bila selandaka waras tidak akan tega meninggalkan bayi yang tergolek kelaparan di tepi hutan dalam ancaman harimau atau ular piton ki ageng selandaka mendadak merasa malu dia tak ingin memiliki bayi itu lagi namun ia memohon izin untuk sekedar mengakuinya sebagai anak mengingat ialah yang menemukan pertama kali bayi itu sesudah ditinggalkan orang tuanya di tengah hutan nyi wulanjar mengizinkan ki ageng selandaka untuk mengakui bayi itu sebagai anak bahkan kelak ia berharap agar selandaka untuk turut membimbing dan mendidiknya bila bayi itu tumbuh besar nanti harapannya agar kelak bayi itu menjadi manusia berbudi pekerti luhur berketerampilan dan memiliki kebijaksanaan legalah ki ageng selandaka mendengar penuturan nyi wulanjar setelah memandangi wajah bayi yang masih tertidur pulas di gendongan sang janda selandaka berpamitan untuk pulang sesudah tujuh hari serumah dengan nyi wulanjar bayi itu diberi nama kidang telangkas kidang telangkas telah menunjukkan kecerdasannya dia lincah, cekatan sekaligus cerdik nyi wulanjar menduga, kidang telangkas dahulu adalah putra dari seorang pinunjul itu karena kidang telangkas gemar menjalani laku prihatin kidang telangkas sejak pagi hingga siang ia pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dari siang hingga sore ia membantu nyi wulanjar bekerja di ladang bila malam ia mendapat pengetahuan dari janda itu melalui dongeng pengantar tidur menginjak usia menuju dewasa kidang telangkas mulai dikenal dengan nama jaka tarub ini karena dia adalah anak angkat nyi wulanjar yang merupakan janda dari ki gede tarub jaka tarub mulai menggantikan nyi wulanjar bekerja di ladang karena dia mulai sakit-sakitan sebelum meladang ia membuat sarapan buat janda itu bila janda itu tengah kambuh encoknya ia juga merawat dengan sabar hingga suatu kali sakit nyi wulanjar sudah tidak bisa terobati lagi menjelang hembusan nafas terakhirnya janda itu berpesan kepada jaka tarub agar ketika dia wafat dia mau untuk tinggal bersama ki ageng selandaka dan benar tujuh hari sesudah itu nyi wulanjar meninggal dunia jaka tarub kemudian hidup bersama ki ageng selandaka sewaktu tinggal bersama ki ageng selandaka jaka tarub sering mengikuti ayah angkatnya itu untuk berburu burung di hutan ia sangat kagum atas kepiawaian selandaka dalam menyumpit burung sekali sebatang sumpit melesat dari lubang bambu seekor burung pasti terjatuh dari batang pohon jaka tarub kemudian meminta kepada ki ageng selandaka untuk mengajarinya menyumpit burung oleh selandaka permintaan anaknya itu dipenuhi selandaka mengajarkan bagaimana cara mengumpulkan udara yang berenergi besar di dalam mulut hingga dapat melesatkan sumpit dari lubang bambu tahap kedua ki ageng selandaka mengajarkan pada jaka tarub bagaimana cara membidikan sumpit ke arah burung dengan tepat bagi jaka tarub pelajaran kedua ini amat berat agar sumpit tepat sasaran ia harus eneng, ening, dan enung eneng, ia harus mendiamkan seluruh tubuhnya ening, ia harus menenangkan rasa dan emosinya enung, ia harus memfokuskan pikiran pada burung yang menjadi sasaran sumpit dengan eneng, ening, enung ia akan bisa mendapatkan enang memperoleh hasil gemilang dari pekerjaannya sehari dua hari jaka tarub belum menguasai ilmu tersebut namun dengan kesungguhan dan ketekunan ia dapat menyumpit burung dengan tepat bahkan ia berhasil mengawinkan tiga anasir eneng, ening, dan enung, secara luar biasa yakni menyumpit dengan mata terpejam menyaksikan kepiawaian jaka tarub yang sangat sempurna ki ageng selandaka begitu bangga kebanggaan selandaka semakin tak terperi saat anaknya itu berhasil menyumpit burung tanpa membunuh dan melukai burung yang disasar seakan hanya dipukul dengan energi yang sangat terkontrol hingga pada akhirnya jatuh waktu pun berjalan begitu cepat sesudah ki ageng selandaka tinggal di alam kelanggengan jaka tarub memilih kembali tinggal di desa tarub dia menetapkan hati mengurusi kembali sawah dan ladang mendiang nyi wulanjar yang cukup lama terbengkalai meski demikian kegemarannya menyumpit burung juga tidak pernah berhenti dia masih gemar keluar masuk hutan mengasah keterampilannya membidik sasaran suatu kali setelah sekian lama berburu jaka tarub merasa begitu haus dia segera menuju sendang jernih di tengah hutan sebelum sampai tujuan jaka tarub mendengar suara sejumlah gadis yang sedang bersenda gurau dari arah sendang karena penasaran ia mengintip asal suara itu dari balik pepohonan jantungnya berdegup kencang saat menyaksikan tujuh gadis cantik tengah mandi di sendang itu siapakah mereka seandainya manusia lumrah mereka tak mungkin mandi di sendang tengah hutan lebat seperti itu apabila bangsa jin mereka tidak mungkin menampakkan diri di siang bolong seperti itu namun setelah menyaksikan onggokan baju di tepi sendang jaka tarub menjadi tahu bahwa mereka adalah golongan bidadari kahyangan mendadak timbul pikiran nakal pada jaka tarub tanpa berpikir akibat perbuatannya nanti ia perlahan bersijingkat menuju onggokan baju mereka jaka tarub mencuri salah satunya secara acak baju dan selendang yang dicurinya itu segera dibawa pulang diletakkan di bawah tumpukan padi yang menggunung di lumbung sebagai penggantinya jaka tarub mengambil jarit dan baju peninggalan mendiang nyi wulanjar dia kemudian kembali ke sendang dengan segera masih secara diam-diam sesampai tempat tujuan jaka tarub kembali mengintip para bidadari yang baru saja selesai mandi ia menyaksikan keenam bidadari telah mengenakan pakaian lengkap wajah mereka nampak begitu sedih karena harus segera meninggalkan satu temannya yang masih berada di dalam air pakaiannya telah hilang namun teman-temannya tak bisa menunggu lebih lama apalagi memberikan jalan keluar mereka terpaksa meninggalkannya sendirian jaka tarub menjadi tahu bidadari yang masih kungkum di dalam sendang itulah yang pakaiannya telah dicuri ternyata wajahnya begitu cantik tubuhnya begitu mempesona bahkan kulitnya begitu putih bercahaya hati jaka tarub bergetar betapa bahagianya dia jika bisa mendapatkan istri yang demikian keberuntungan ternyata jatuh pada jaka tarub ketika dalam kesendiriannya bidadari itu mengucap sumpah secara bersungguh-sungguh jika ada seorang wanita yang mampu menolongnya dengan cara memberi pakaian ia akan diakui sebagai sedulur sinarawadi namun jika laki-laki ia akan dijadikan suami mendengar sumpah bidadari itu jaka tarub berbunga-bunga hatinya dia merasa begitu beruntung jaka tarub segera menuju tepi sendang dan memberikan pakaian nyi wulanjar pada sang bidadari kepada sang bidadari jaka tarub berkata bahwa dia telah mendengar sumpahnya saat tak sengaja lewat sendang itu kebetulan pula dia membawa pakaian milik ibunya yang memang selalu dibawanya kemanapun juga ibu yang dicintainya telah meninggal dunia dan hanya dengan cara yang demikian dia menjadi tak merasa kesepian hidup di dunia mendengar apa yang dikatakan jaka tarub bidadari itu justru menjadi iba dia berkata akan menemani hidup jaka tarub dan memenuhi sumpah yang telah diucapkannya bidadari itu bernama dewi nawangwulan dia kemudian menjadi istri pemuda yang akhirnya dikenal sebagai ki ageng tarub dua setelah diangkat sebagai pemimpin desa meneruskan kepemimpinan suami nyi wulanjar yang jauh hari telah tiada sejak memiliki istri ki ageng tarub makin giat bekerja di sawah dan ladang dia tak pernah lagi masuk hutan berkat usaha kerasnya tanah yang mereka garap membuahkan hasil melimpah jagung, ketela, sayuran maupun padi yang dipanen lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keduanya kebahagiaan ki ageng tarub semakin sempurna sejak dewi nawangwulan mengandung hingga kemudian melahirkan bayi perempuan yang diberi nama retna nawangsih namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama karena pageblug ganas melanda desa tarub tanaman di sawah dan ladang diserang berbagai hama hingga menjadikan gagal panen tak ada lagi yang bisa diselamatkan ki ageng tarub menjadi begitu sedih seperti tidak punya harapan lagi tak tega melihat suaminya demikian dewi nawangwulan kemudian mencoba membantu dengan kesaktiannya sebagai bidadari yang masih sedikit tersisa nawangwulan berkata bahwa simpanan padi di lumbung tidak akan pernah habis asal jaka tarub tak sekalipun melanggar pesannya yakni membuka tutup dandang ketika sedang menanak nasi mendengar pesan dewi nawangwulan ki ageng tarub bukannya mematuhi melainkan malah penasaran sewaktu istrinya pergi ke sungai untuk mencuci popok bayi jaka tarub melanggar janjinya dengan membuka tutup dandang dia keheranan karena ternyata nawangwulan selama ini hanya memasak menggunakan sebutir padi saja namun secara aneh bisa mencukupi makan keluarganya seharian karena rasa penasaran sudah terobati jaka tarub segera menutup dandang itu sepulang dari sungai nawangwulan segera menuju tempatnya menanak nasi namun betapa terkejut dia karena padi yang dimasaknya ternyata masih utuh satu butir saja tidak berubah secara ajaib nawangwulan menjadi marah luar biasa pada jaka tarub dia menganggap jaka tarub telah melanggar janji kesaktiannya sebagai bidadari pun menjadi hilang sepenuhnya dia kini menjadi manusia biasa maka apa boleh buat hari itu dan hari-hari selanjutnya dia akan memasak menggunakan simpanan padi yang ada di lumbung karena dimasak terus-menerus padi di lumbung menjadi menipis jaka tarub juga harus kembali ke hutan mencari bahan lain untuk dimakan di saat jaka tarub pergi ke hutan nawangwulan menuju simpanan padi terakhirnya di lumbung di bawah tumpukan padi yang tersisa dia menemukan ananta kusuma yakni pakaian bidadarinya dahulu ini makin membuat nawangwulan marah pada jaka tarub dia menjadi tahu jaka tarub lah yang dulu mencuri dan menyembunyikannya nawangwulan langsung memakai pakaian ananta kusuma itu hingga pulihlah kesaktiannya sebagai bidadari nawangwulan tak bisa lagi memaafkan jaka tarub dia harus kembali ke kahyangan meski jaka tarub menangis dan memohon agar nawangwulan tak kembali ke kahyangan tekad nawangwulan sudah kuat sebelum pergi nawangwulan berpesan jika anaknya menangis jaka tarub diminta membawanya naik ke atas panggung rumah yang di bawahnya dibakari jerami ketan hitam dengan tanda itu dia akan turun ke dunia untuk menyusui anaknya setelah berpesan demikian nawangwulan membakar jerami dia membumbung naik ke atas mengikuti asap yang meninggi hancur berkeping-keping hati jaka tarub saat itu hari demi hari jaka tarub hanya hidup berdua dengan anak perempuannya retna nawangsih hingga beranjak remaja wajahnya cantik seperti ibunya kelak keduanya akan kedatangan tamu tak terduga dari majapahit yang membawa tiga buah pusaka yakni keris kyai mahesa nular, keris kyai malela dan tombak kyai pleret atas perintah prabu brawijaya tamu itu adalah buyut mahasar dan bondan kejawan setelah pertemuan terjadi kelak bondan kejawan akan ditinggalkan di desa tarub dipersaudarakan dengan retna nawangsih dalam asuhan jaka tarub bondan kejawan diberi nama lembu peteng ketika dianggap cukup umur keduanya kemudian dinikahkan sayangnya jaka tarub tak sempat melihat cucu-cucunya lahir karena keburu meninggal dunia cucu laki lakinya bernama getas pandawa dialah kelak yang akan menurunkan ki ageng sela leluhur raja-raja mataram kisah jaka tarub berdasarkan bacaan yang kami punya terdapat setidaknya dalam dua babad yakni babad tanah jawi dan babad dipanegara semuanya terletak pada bagian-bagian awal ada kemungkinan kisah jaka tarub juga terdapat dalam babad lain yang belum kami baca masalahnya babad tanah jawi ada yang menyebut fiksi karena tidak sedikit bagian yang begitu kental dengan mitos kisah jaka tarub digolongkan dalam bagian mitos ini lalu apakah babad tanah jawi secara keseluruhan adalah fiksi kelahiran babad tanah jawi menurut j.j ras dalam bukunya masyarakat dan kesusastraan jawa tidak bisa dilepaskan dari perintah pangeran puger kepada panembahan adilangu kedua penulisan babad ini dilanjutkan oleh carik braja alias tumenggung tirtawiguna pada tahun 1718 namun diperkirakan baru terbit pada tahun 1788 baik panembahan adilangu maupun carik braja bukan hanya menulis babad tanah jawi namun juga sekian banyak babad dan serat lainnya babad tersebut masih menurut buku yang sama penggarapannya dilakukan berulang-ulang karena banyak peristiwa yang harus dikisahkan maupun dijelaskan sebagai karya sastra yang berlatar belakang sejarah raja-raja jawa beserta mitosnya babad tanah jawi mendapat kajian dari para sejarawan menurut h.j. de graaf babad tanah jawi memiliki kandungan fakta sejarah pada bagian tengah hingga bagian akhir dengan demikian bisa dinyatakan bahwa bagian awal hingga bagian tengah dari naskah tersebut cenderung berupa mitos baiklah para pandemen sekalian kesempatan kali ini kita coba mengulas sejumlah pesan tersembunyi di balik legenda jaka tarub yang mungkin tidak disadari selama ini tertutup oleh kisah permukaan yang bersifat sanepan dan banyak dijumpai dalam babad tanah jawi sebagai sumber tradisi para pandemen sekalian di manapun panjenengan berada sejarawan dhanang respati puguh ketua departemen sejarah universitas diponegoro semarang dalam wawancaranya dengan historia.id pada artikel berjudul benarkah babad tanah jawi fiksi mengatakan bahwa babad tanah jawi dapat digunakan sebagai sumber tradisional sejarah yang bisa menjadi faktual asalkan dipahami konteks penulisan historiografinya selain fakta naskah tersebut memiliki kebenaran simbolis adi deswijaya filolog universitas veteran bangun nusantara, sukoharjo berpendapat dalam artikel yang sama bahwa fiksi pada babad lebih kepada rekaan dalam jalan cerita yang merupakan buah pemikiran si pengarang namun dibalik fiksinya proses penciptaan karya tersebut tetaplah berlatar belakang sejarah kami sendiri berpendapat di balik mitos yang terdapat dalam babad tanah jawi tersimpan banyak sekali ajaran dan pesan baik meski harus menggunakan kajian hermeneottika mengingat para pujangga dan leluhur kita di masa lalu punya kebiasaan menggunakan sanepan atau makna tersembunyi dalam menyampaikan sesuatu bila mengacu pada versi terbitan balai pustaka 1939 naskah bab 12 dengan urutan pupuh asmarandana, dandanggula, mijil kemudian dandanggula lagi lalu ditutup asmarandana babad tanah jawi mengisahkan tentang jaka tarub karena bukan hanya babad tanah jawi namun juga babad seperti babad diponegoro serta babad-babad lain juga mengisahkannya maka muncul anggapan bahwa tokoh jaka tarub benar-benar nyata terlebih ketika masyarakat lokal meyakini sejumlah petilasan baik berupa sendang maupun makam yang terletak di sejumlah daerah dinyatakan sebagai petilasan jaka tarub di kampung medris, bangkalan, madura jawa timur terdapat makam yang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai petilasan jaka tarub makam ini terletak di tengah pemakaman umum yang dikelilingi oleh rumpun bambu sekitar 300 meter ke arah barat terdapat masjid yang konon merupakan peninggalan jaka tarub sementara di sebelah selatan makam tersebut terdapat sendang sendang yang merupakan petilasan jaka tarub juga diyakini sebagian masyarakat berada di desa widodaren, ngawi jawa timur keyakinan masyarakat bahwa sendang tersebut merupakan tempat pertemuan jaka tarub dengan dewi nawangwulan bersumber dari nama desa widodaren dimana kata widodaren yang berasal dari kata widadari atau bidadari mengacu pada dewi nawangwulan serta bidadari lainnya yang mandi di sendang petilasan jaka tarub yang lain ada di gunung bagus, paliyan gunungkidul yogyakarta menurut masyarakat sekitar bukan hanya jaka tarub yang dimakamkan di gunung bagus namun juga dewi nawangsih, putrinya serta bondan kejawan yang masih keturunan raja majapahit petilasan jaka tarub yang berupa makam juga terdapat di desa tarub, grobogan jawa tengah bila mengacu pada namanya desa tarub lebih diyakini sebagai daerah di mana jaka tarub atau ki ageng tarub menjadi pemimpinnya namun seluruh pendapat ini masih perlu dikaji lebih jauh mengingat belum terdapat data-data sejarah terpercaya yang bisa membuktikan bahwa tempat-tempat itulah tkp jaka tarub sebagaimana dikisahkan dalam babad tanah jawi lalu siapakah sebenarnya jaka tarub dalam sumber-sumber tradisi seperti babad tanah jawi meski ditemukan sebagai sesosok bayi sebatang kara di tengah hutan jaka tarub tetaplah memiliki silsilah menurut babad dari jalur ayah jaka tarub adalah cucu ki gede kudus sementara jalur ibu jaka tarub adalah cucu dari ki ageng kembang lampir dia dilahirkan di hutan kapanasan karena ibunya melarikan diri dari rumah kandungannya tidak diharapkan oleh sang kakek sementara ayahnya yang merupakan anak bungsu ki gede kudus juga telah pergi entah kemana seusai melahirkan ibunya itu kemudian meninggal dunia bayi jaka tarub kemudian ditemukan dan dibawa oleh seorang penyumpit bernama selandaka atau selondoko sayangnya di dekat desa tarub selandaka tergiur untuk memburu kidang atau kijang yang begitu tangkas bayi jaka tarub lantas ditinggalkannya sendirian di bawah pohon giyanti yang ternyata bekas pertapaan ki ageng tarub saat masih hidup dahulu jaka tarub kemudian diasuh dan dibesarkan oleh nyi tarub sebagai penemu kedua karena dia tidak memiliki anak belakangan jaka tarub sempat diperebutkan nyi tarub dan selandaka namun akhirnya tercapai kesepakatan untuk mengasuhnya berdua di bawah didikan selandaka jaka tarub pelan-pelan menjadi seorang penyumpit ulung kemampuan berburunya ini kemudian berujung pada perjumpaannya dengan dewi nawangwulan secara tidak sengaja yang kemudian berakhir dengan pernikahan dan lantas melahirkan seorang putri bernama retna nawangsih kelak nawangsih dinikahkan dengan bondan kejawan atau lembu peteng salah satu putra raja majapahit yang dititipkan pada buyut mahasar bersama tiga buah pusaka majapahit keduanya melahirkan seorang putra bernama getas pandawa dan seorang putri dari getas pandawa inilah lahir sosok spektakuler yang kita kenal sebagai ki ageng sela, leluhur dinasti mataram sekaligus guru jaka tingkir atau sultan hadiwijaya - pajang para pandeman sekalian di manapun panjenengan berada jika kita menyimak sejumlah legenda di dunia ada legenda bernama tanabata dalam legenda itu dikisahkan tentang kengyu seorang pemuda dari sebuah desa kecil ketika dalam perjalanan pulang dari ladang kengyu melihat sehelai jubah dan memasukkannya ke dalam tas di tengah perjalanan pulang ke rumah kengyu ditegur oleh seorang gadis gadis itu bernama orihime dan jubah yang dibawa kengyu itu dimintanya tanpa jubah itu orihime yang semula mandi di telaga tidak bisa kembali ke kahyangan orihime pun bersedia menjadi istri kengyu ketika tidak berhasil mendapatkan jubah itu kembali ke tangannya pada suatu hari irihime menemukan jubahnya terjepit di kayu penahan atap rumah sesudah orihime mengenakan jubah itu orihime pamit kepada kengyu yang baru saja pulang dari ladang orihime akan meninggalkan rumah itu kembali ke kahyangan sewaktu menyaksikan orihime terbang ke angkasa kengyu menjadi sangat bersedih dan menangis sejadi-jadinya diakui atau tidak kisah cinta ini mirip sekali dengan kisah asmara antara jaka tarub dan dewi nawangwulan nawangwulan mendapatkan pakaiannya berada di bawah tumpukan padi dia juga kemudian meninggalkan jaka tarub dan kembali ke kahyangan belum diketahui mana mempengaruhi yang mana atau memang kemiripan antara kisah jaka tarub dan tanabata hanya secara kebetulan namun kami menangkap siratan bahwa kedua kisah itu erat kaitannya dengan hubungan bumi dan langit manusia sebagai simbol bumi dan bidadari sebagai simbol langit manusia di masa lampau harus mengetahui apa yang terjadi di langit jika ingin melakukan sesuatu di bumi seperti misal bercocok tanam maupun berlayar bahasa gampangnya manusia lampau dituntut untuk mempelajari "ilmu langit" ilmu yang mempelajari pergerakan benda-benda di langit dalam konteks pertanian mereka harus memahami cara mengukur posisi benda lain yang dewasa ini disebut kosmografi sekaligus pemahaman klimatologi atau iklim dalam pemahaman jawa semua yang demikian disebut pranata mangsa formalisasinya dilakukan pada masa sunan pakubuwono VII menggunakan basis peredaran matahari dan rasi bintang konon meski lazim digunakan di masa pakubuwono VII pengetahuan tentang ini sudah dilakukan sejak kerajaan medang atau mataram hindu hingga majapahit bahkan belakangan bukan hanya untuk pertanian saja namun juga bidang kemiliteran berdasarkan analisa sejarawan modern dalam peristiwa mongol menyerang jawa salah satu faktor kekalahan dinasti yuan Mongol masih terkait dengan hal ini mereka bukan bangsa maritim yang menguasai ilmu-ilmu tersebut sehingga meski telah mengerahkan puluhan ribu pasukan dilengkapi persenjataan canggih di masanya justru hancur lebur dalam pertempuran melawan koalisi dyah wijaya dan arya wiraraja kapal-kapal mereka yang berhasil melarikan diri menjadi tersesat dan tercerai berai setelah dikejar armada kapal tempur madura akibat tidak terlalu fasih membaca arah angin para pandemen sekalian di manapun panjenengan berada kisah jaka tarub yang berlatar belakang tradisi agraris jawa ini bisa saja masih terhubung dengan pemahaman pranata mangsa atau ilmu langit tadi dari uraian cerita kita bisa mendapat gambaran cuaca yang menjadi latar belakang kisah ini para bidadari yang mandi di sendang untuk menyejukkan tubuhnya menyiratkan perihal musim kering dengan terik matahari yang sedemikian rupa sampai-sampai saking panasnya bidadari pun merasa perlu untuk mandi ke bumi menurut ilmu pranata mangsa musim kering yang menyebabkan tanah retak retak tersebut dikenal dengan mangsa karo atau mangsa paceklik yang terjadi antara tanggal 2-24 agustus disebut mangsa paceklik karena banyak orang akan mengalami kekurangan pangan sementara untuk menghadapi masa paceklik dan mencukupi kebutuhan pangannya para petani dahulu sangat mengandalkan padi yang tersimpan di dalam lumbung di masa paceklik inilah masyarakat jawa lampau senantiasa mengajarkan agar manusia dekat dengan tuhan melalui pertolongan tuhan manusia yang tengah dalam kekurangan pangan akan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya pemahaman ini terefleksi pada suatu peristiwa di mana jaka tarub tengah dilanda paceklik hingga simpanan padinya di lumbung mulai berkurang nawangwulan yang merupakan simbol kuasa tuhan memberikan pertolongan hanya dengan menanak nasi menggunakan sebutir padi jaka tarub bisa mencukupi kebutuhan pangannya setiap hari namun sewaktu kurang mengimani kuasa tuhan yakni dengan membuka tutup dandang jaka tarub menanggung akibatnya simpanan padi yang bermanfaat untuk menjaga ketahanan pangan itu cepat terkuras habis nah dapat dimaknai bahwa kisah jaka tarub menyiratkan para petani haruslah mengenal betul pranata mangsa agar tidak timbul paceklik atau kekurangan bahan pangan di sinilah letak hubungan antara bumi dan langit yang terjadi di bumi tergantung bagaimana manusia menangkap tanda-tanda yang terjadi di langit semua hubungan itu jika terjaga dengan baik dan terperhatikan akan memberikan kemakmuran bagi manusia sebaliknya bila tidak terjaga akan menimbulkan petaka oleh masyarakat jawa kisah jaka tarub dihubungkan dengan prosesi upacara pasang tarub dan midodareni yang merupakan bagian dari prosesi pernikahan kita pahami bahwa tarub merupakan bangunan tambahan di depan rumah di tengah hajatan mantu bangunan tarub yang tidak permanen tersebut terbuat dari bleketepe yang berhiaskan juntaian helai-helai janur kuning perpaduan antara warna hijau bleketepe serta warna kuning janur tersebut akan memberikan kesejukan dan kedamaian di sekitar area tarub bleketepe yang dipasang di area tarub merupakan perwujudan dari suatu tempat penyucian di kahyangan yang dinamakan balai katapi balai artinya tempat sedangkan katapi artinya membersihkan kotoran dengan demikian pemasangan bleketepe dapat diartikan sebagai ajakan orang tua dan calon pengantin kepada semua tamu undangan untuk turut menyucikan hati adapun janur yang terdiri dari kata jan yakni janma atau manusia dan nur atau cahaya menyiratkan doa dari semua pihak agar pernikahan tersebut mendapatkan pencerahan keselamatan dan kedamaian dari tuhan agar pernikahan tersebut menjadi awal yang baik bagi sepasang pengantin di dalam menjalani kehidupan rumah tangga tanpa rintangan berkat perlindungan darinya lepas dari segala wacana dan pembahasan itu semua legenda jaka tarub bagaimanapun juga merupakan aset budaya kita khususnya dalam hal kearifan lokal secara turun-temurun kita telah mewarisi tradisi yang sarat ajaran baik hal itu tersirat dari simbol-simbol seperti tarub dan perlengkapan pernikahan serta sejumlah prosesi yang menyertainya sayangnya dewasa ini karena tidak memahami falsafah atau makna dibaliknya simbol-simbol tersebut mulai terkikis jaman tidak lagi hadir dalam prosesi pernikahan khususnya di kota-kota besar nilai gotong-royong warga dalam mempersiapkan perhelatan pernikahan juga sudah mulai lenyap karena itulah bagi sebagian orang pernikahan ada kalanya justru menjadi momok tersendiri karena harus menanggung seluruh biaya yang begitu besar karena tidak ada keterlibatan warga lain inilah salah satu manfaat dari perlu diuri urinya budaya gotong-royong saling berbagi beban tantangan terbesar di era saat ini memang dalam hal melestarikan tradisi dan budaya dibutuhkan sejumlah inovasi agar generasi milenial tidak semakin jauh kehilangan akarnya jika mereka sedikit tertarik kami percaya mereka akan mencari tahu lebih jauh dengan semakin memahami mereka akan melestarikannya hingga pada akhirnya nanti warga mancanegara yang datang ke negara kita benar-benar menyaksikan wajah indonesia yang sebenarnya sementara warga indonesia yang bekerja atau tinggal di luar negeri akan benar-benar merasakan rasanya pulang kampung di negeri sendiri.

Ajian sakti para Dewi

 ada sebuah kesaktian yang mampu digunakan untuk menghadirkan para dewa dan mengajukan permohonan langsung dihadapannya uniknya ajian ini hanya dimiliki seorang tokoh perempuan istimewa atas pemberian dari gurunya seorang resi pengelana yang sangat sakti bernama resi druwasa dikisahkan ajian sakti resi druwasa bukan hanya itu saja namun juga mampu membagi seorang bayi menjadi tiga bayi sekaligus kisah masa lalu resi druwasa ini berhubungan dengan resi lain yang kesempatan lalu telah kita hadirkan dalam kisah turunnya aji norontoko atau aji narantaka yakni resi seta lalu mengapa dan untuk apakah ajian menghadirkan para dewa itu digunakan oleh murid perempuannya? suatu kali setelah mengelana ke sana kemari dan mengajar di berbagai tempat resi druwasa telah menyatakan muridnya yakni prabu matswapati raja wirata selesai mempelajari sejumlah ilmunya namun sebelum gurunya pergi ke tempat lain muridnya mengajukan permintaan yang cukup aneh untuk didengar bapa resi, izinkan saya mengajukan sebuah permohonan pada bapa sebelum bapa kembali mengelana hem ... iya seandainya bapa mampu tentu saja bapa akan mengabulkan permohonan angger tersebut katakanlah saja jangan sungkan sungkan, ngger begini, bapa resi saat ini saya hanya memiliki satu putra saja dari istri saya yang bernama dewi sudaksina bagi saya ini sungguh mengkhawatirkan untuk kelangsungan dinasti wirata saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada anak saya satu-satunya itu kelak mungkin saja dia akan menolak menerima tahta yang akan saya berikan lalu memilih menjadi brahmana atau bahkan mendadak wafat oleh sesuatu hal sebelum dia memiliki putra jika itu terjadi tahta wirata pasti akan sangat rapuh apalagi jika digantikan oleh raja yang tidak memiliki garis keturunan langsung dari saya pemberontakan sangat mungkin akan terjadi di mana-mana dan dinasti wirata akan punah dengan segera andai saja saya bisa memiliki tambahan putra tentu segalanya akan terasa lebih aman jika tidak mendapat hak tahta putra-putra saya yang lain bisa mendapat jabatan yang tidak kalah kuat pengaruhnya bagi kerajaan seperti misal menjadi panglima perang atau adipati mereka juga bisa menikah dengan putra putri kerajaan lain sehingga wirata memiliki banyak sekutu selama mengenal bapa resi saya tahu bapa punya kemampuan yang luar biasa bapa ibarat mampu berada tepat di pintu kahyangan para dewa sehingga apapun yang bapa ajukan pada mereka akan langsung dikabulkan jadi saya sungguh berharap bapa bisa membantu saya mewujudkan keinginan saya itu untuk memperoleh tambahan putra lagi demikianlah yang diajukan oleh prabu matswapati pada gurunya atas dasar kasih permintaan itu lantas coba direnungkan dalam samadi oleh resi druwasa ternyata dalam amatan batinnya permohonan sang murid bisa terwujud atas perkenan para dewa namun dengan cara yang juga tidak kalah aneh karena sudah bertekad untuk membantu muridnya resi druwasa kemudian meminta prabu matswapati menghadapkan putranya yang tampan bernama seta kala itu seta juga telah berguru kemana-mana dan mempunyai sejumlah kesaktian tapi ketika resi druwasa mengatakan segalanya pada seta tanpa ditutup tutupi pemuda itu menjadi terkejut dan keberatan untuk menuruti permintaannya maafkan saya bapa resi bukannya saya tidak mau membantu mewujudkan cita-cita ayah saya untuk memiliki putra lagi tapi apa yang bapa resi katakan tadi sungguh memberatkan saya saya sudah bisa memperkirakan segala akibatnya jika raga saya ini akan disusutkan kembali menjadi seorang bayi tentu saya akan kehilangan segala kesaktian yang telah saya pelajari dengan susah payah selama ini saya tidak mau itu terjadi seta, apa yang kamu katakan tadi memang benar kamu akan kehilangan segala ilmu kesaktianmu ketika wujudmu aku rubah menjadi bayi lagi tapi percayalah ngger bahwa itu semua hanya bersifat sementara kelak ketika kamu dewasa kembali pergilah ke gunung suhrini disana kamu akan memperoleh segala ilmu kesaktianmu secara mudah tanpa perlu bersusah payah kembali tidak ada jalan lain untuk mewujudkan keinginan ayahmu kecuali dengan cara yang bapa katakan tadi, ngger sebagai anak yang berbakti seta akhirnya mengikhlaskan dirinya untuk dirubah kembali menjadi seorang bayi oleh resi druwasa tepat ketika wujudnya menyusut sebuah cahaya menyilaukan menutup pandangan mata siapa saja yang melihatnya hingga sesaat kemudian yang nampak adalah tiga sosok bayi dalam pancaran cahaya putih, kuning dan merah yang bercahaya putih dianggap yang lebih tua dan tetap diberi nama seta yang bercahaya kuning diberi nama uttara dan yang merah diberi nama wratsangka sejak saat itu menurut kisah pewayangan versi jawa prabu matswapati raja wirata memiliki tiga putra sementara sekian tahun kemudian resi druwasa juga meramalkan bahwa dewi sudaksina istri prabu matswapati akan mampu melahirkan seorang putri yang segenerasi dengan cucu pandu dewanata seperti kita tahu prabu pandu dewanata yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam epik mahabharata memiliki dua istri yang sangat istimewa yakni dewi kunti dan dewi madrim dewi kunti inilah yang menjadi murid langsung dari resi druwasa di masa lampau kala itu prabu kuntiboja memiliki empat anak yakni basudewa, kunti, rukma dan ugrasena ketika prabu kuntiboja menggelar sayembara untuk mencari calon suami bagi kunti kunti ternyata tidak mau keluar dari kamarnya untuk menunjukkan diri pada para calon pelamarnya saat kuntiboja dan basudewa mendobrak pintu kamar kunti mereka terkejut karena ternyata kunti sedang memegangi perutnya yang besar layaknya ibu hamil aku tanya sekali lagi, kunti ... siapa yang menghamilimu? ayo jawab! jangan terus-terusan diam saja! kamu telah mempermalukan keluarga sekaligus kerajaan kita! e... sa.. saya-saya sulit untuk menjawabnya, kakang m...maaf kan saya, kakang apanya yang sulit? memangnya itu perbuatan berapa laki-laki, heh? murah sekali kamu sebagai perempuan! kamu benar-benar membuat aib bagi ayah kita! kunti, katakan saja apa adanya dengan segera agar kami bisa cepat memikirkan jalan keluarnya di alun-alun para peserta sayembara sudah berkumpul dan berkemah disana mereka semua menunggu kemunculanmu! wah ... bapa, saya mendadak mencurigai seseorang dia paling sering bersama kunti akhir akhir ini hem ... siapa basudewa? katakan saja! gurunya sendiri ... resi druwasa! jangan-jangan dialah pelakunya kurang ajar sekali dia telah menyalah gunakan kebaikan dan kepercayaan kita lalu membalasnya dengan perbuatan memalukan seperti ini wah ... jika memang benar dugaanmu itu segera seret dia kehadapanku, basudewa! akan saya bawa dia hidup atau mati kehadapan bapa sekarang juga! basudewa dengan mudah menemukan resi druwasa dan lantas dihadapkan paksa kepada prabu kuntiboja untuk diinterogasi uniknya resi druwasa sendiri kebingungan dengan apa yang terjadi namun beruntung kunti akhirnya menceritakan apa yang terjadi secara blak-blakan dari sanalah diketahui bahwa salah satu ilmu yang diajarkan oleh resi druwasa telah digunakan secara serampangan oleh kunti sendiri ajian yang bernama adityah redaya yang dalam versi pewayangan surakarta disebut aji kunta wekasing rasa cipta tunggal telah dirapalkan oleh kunti sebagai uji coba saat matahari pagi bersinar kunti menggunakannya untuk menghadirkan batara surya batara surya benar-benar hadir dan menyebabkan kunti hamil sesuai fungsi ajian lemaslah prabu kuntiboja dan basudewa mendengar penjelasan tersebut akhirnya agar aib itu tidak diketahui resi druwasa kemudian menutupinya dengan cara membesarkan kandungan kunti yang sebelumnya empat bulan menjadi saat seharusnya untuk dilahirkan bayi kunti kemudian dilahirkan dan diberi nama basusena dan diangkat anak oleh kakaknya, basudewa kunti sendiri kemudian dikembalikan menjadi perawan lagi oleh resi druwasa uniknya bayi yang dilahirkan kunti ini telah menggunakan anting-anting pusaka di telinganya sejak dalam kandungan kunti sendiri lebih suka menyebut putranya itu sebagai basukarna oleh karena pusaka surya kundala di telinganya kelak karna dititipkan oleh resi druwasa pada seorang kusir hastina bernama adirata dari desa petapralaya sejak kejadian itu kunti menjadi sangat berhati-hati dengan ajian sakti yang dimilikinya ajian memanggil para dewata tersebut disimpannya rapat rapat hingga akhirnya dia menikah dengan laki-laki yang tidak akan pernah bercinta dengannya seumur hidup belakangan ajian pemanggil dewa ini diberitahukan pada suaminya pandu dewanata kemampuan dewi kunti seakan menjadi penghilang rasa dahaga untuk memiliki anak karena pandu sendiri telah dikutuk tidak akan memilikinya jika dilakukan dengan cara senggama kalau dia nekat melakukannya, pandu akan langsung mati seketika ya ... di masa lampau ketika sedang berburu pandu telah memanah rusa yang sedang bercinta ternyata rusa itu adalah perwujudan resi bernama kindamana dan rara dremi mereka akhirnya membalas perbuatan pandu dengan kutukan yang demikian sejak kutukan itu diterima pandu dia merasa hidupnya sebagai raja menjadi sia-sia tahta kemudian diserahkan pada kakaknya dretarastra yang kadang diucapkan sebagai destarastra dalam salah satu versi sanggit pewayangan jawa pandu dan dua istrinya kemudian menyepi menjadi pertapa di gunung sapta arga di gunung inilah suatu kali resi druwasa mendatangi keluarga pandu dan mengingatkan kunti atas ajian yang diberikannya dahulu untuk mengetahui berapa putra yang akan dihasilkan berkat ajian itu resi druwasa membawa sebutir "pertanggajiwa", buah kesukaan para dewa resi druwasa kemudian bersemedi dan menyerap saripati mani prabu pandu dan memindahkannya ke buah pertanggajiwa dari situlah diketahui bahwa kunti akan memiliki tiga putra dan madrim memiliki dua putra buah itu kemudian dibagikan pada kunti dan madrim untuk dimakan singkat cerita beberapa waktu kemudian berlalu setelah resi druwasa muksa keluarga pandu tidak sabar lagi ingin memiliki putra kunti kemudian ingin merapalkan aji kunta wekasing rasa cipta tunggal rapalan pertama ditujukan pada batara darma yang akhirnya menganugerahkan putra yang berhati-hati dalam tutur bahasanya, luar biasa sabar dan memiliki darah putih dia juga dikenal sanggup mengendalikan hawa nafsu dan sangat demokratis dia juga digambarkan sebagai sosok yang ikhlas memberikan apa saja termasuk istri bahkan nyawanya sendiri dalam versi pewayangan jawa dia diberi nama puntadewa yang kelak bergelar prabu yudistira selepas jeda waktu sekian tahun rapalan kedua ditujukan pada batara bayu penguasa angin seperti kita tahu batara bayu menganugerahi putra bernama bima yang lahir terbungkus selaput sakti selama 13 tahun hingga di tahun ke-14 terpaksa diupayakan untuk dibuka atas bantuan para dewa kelak bima dikenal sebagai kesatria yang berwibawa, jujur, gagah berani dan rela berkorban, setia dan tidak pernah berbasa-basi ketika bertapa rambutnya dibiarkan terurai panjang namun ketika macak bangsawan rambutnya ini digelung seperti saudara saudaranya yang lain salah satu sanggit mengisahkan bima pernah menjadi raja di giling wesi dengan nama prabu tugu wasesa selain bima dia dikenal juga dengan nama arya sena, bratasena, kusumadilaga, jayalaga, bayuputra, pandusiwi, kunthisunu dan jodipati sesuai tempat kesatrianya di amarta putra ketiga pandu lahir atas anugerah batara indra yang berwajah sangat rupawan hingga digambarkan sebagai laki-laki gagah yang berwajah manis mirip perempuan dia lantas dikenal sebagai permadi atau arjuna meski dalam pertunjukan wayang orang atau teater kadang dia diperankan oleh aktor perempuan tapi secara lakon dia tetaplah laki-laki tulen kejantanannya terbukti dari banyaknya istri di sana sini dan juga berhasil menghasilkan sekian banyak anak yang tak kalah rupawan diantaranya adalah abimanyu yang menikah dengan dewi utari putri raja matswapati sesuai ramalan resi druwasa di masa lampau arjuna adalah sosok yang dikenal gentur menjalani tapa brata dan berpuasa maka tidak heran wajahnya selalu memancarkan pesona bagi siapa saja dan mereka menjadi mudah jatuh hati padanya kegenturan tapanya ini pula yang menyebabkan koleksi pusaka sakti arjuna menjadi sangat banyak hasil pemberian para dewa sesuai pembacaan resi druwasa dahulu bahwa kunti hanya memiliki tiga putra maka ajian kunti kemudian diajarkan pada dewi madrim karena itulah dari madrim pandu kemudian dianugerahi dua putra kembar karena yang dipanggil adalah dewa aswin yang juga merupakan dewa kembar putra keempat dan kelima pandu ini kemudian diberi nama nakula dan sadewa keduanya juga memiliki sifat yang hampir mirip yakni gemar bekerja dalam diam, cekatan, rendah hati, suka berderma, hormat pada yang lebih tua dan rela berkorban demi kakak kakaknya kelima putra pandu yang lahir akibat aji adityah redaya atau aji kunta wekasing rasa cipta tunggal ini kemudian lebih dikenal sebagai pandawa

Monday, February 5, 2024

Sejarah Panjang Nuswantoro

 Sejarah panjang Nuswantoro


Banyak sekali penafsiran umum akan nama Nusantara, mungkin yang paling populer adalah rujukan

penamaan Nusantara yang dapat diakses di situs Wikipedia, di sana disebutkan bahwa ‘Nusantara

merupakan istilah yang dipakai oleh orang Indonesia untuk menggambarkan wilayah kepulauan

Indonesia dari Sabang sampai Merauke’; pertanyaannya, apakah hanya sebatas itu sajakah wilayah

Nusantara dulu?

Nusa sendiri sering diartikan dengan pulau atau kepulauan, penamaan dari leluhur kita dahulu dalam

bahasa sansekerta, sedang dalam bahasa sansekerta dengan peradaban yang lebih lama, istilah Nusa

disebut dengan Nuswa.

Hasil dari penelitian kita terhadap beberapa rontal kuno dan beberapa prasasti, Nuswantara [atau

Nusantara] adalah gabungan dari dua kata, Nuswa atau Nusa, dan Antara. Nuswa sendiri dalam

bahasa sansekerta kuno mempunyai arti “sebuah tempat yang dapat ditinggali”, jadi tidak disebutkan

secara jelas bahwa itu adalah pulau. Seharusnya kita membuka mata dan pikiran lebar-lebar untuk

memaknai ‘sebuah tempat yang dapat ditinggali’ adalah tidak terbatas hanya di daratan yang ada di

muka bumi ini; lautan, dasar laut, tempat di luar bumi atau bahkan tempat di luar galaksi kita-pun adalah

tempat yang dapat ditinggali.

Dalam beberapa serat kuno-pun pernah tertera kata ‘Antariksa’ yang menandakan bahwa sesuatu

jangkauan yang jauh dari letak bumi-pun sudah dikenal oleh para leluhur Nuswantara.

Menurut Sastra-Jendra [catatan alam raya], leluhur kita membahasakan ‘Bumi’ dengan nama

‘Arcapada’ dan tempat kita hidup di atas bumi itu yang dinamakan lapisan bumi pertama atau Eka

Pratala, dan semuanya terdapat 7 lapisan sampai ke Sapta Pratala [inti bumi atau magma bumi]. Di luar

Arcapada, tertera nama Dirgantara yang maknanya adalah lapisan sejauh burung dapat terbang paling

tinggi, kemudian terdapat Angkasa yang maknanya adalah lapisan dari atas Dirgantara sampai ke batas

atmosfir paling tinggi, dan di luar atmosfir itulah yang disebut dengan Antariksa.

Konsepsi dari Nuswantara sendiri adalah sebuah kesatuan wilayah yang dipimpin oleh suatu

pemerintahan [kerajaan] secara absolut. Jadi dalam Nuswantara terdapat satu Kerajaan Induk dengan

puluhan bahkan ratusan kerajaan yang menginduk [bedakan menginduk dengan jajahan].

Dalam sebuah periodesasi jaman, kerajaan induk itu mempunyai seorang pimpinan dengan

kewenangannya yang sangat absolut, sehingga kerajaan-kerajaan yang menginduk sangat hormat dan

loyal kepada Kerajaan Induk dan satu sama lain antara kerajaan yang menginduk akan saling bersatu

dalam menghadapi ancaman keamanan dari negara-negara di luar wilayah Nuswantara, tak pelak

kesatuan dari Nuswantara sangat disegani, dihormati dan ditakuti oleh negara-negara lain pada jaman

dahulu.

Terdapat lagi istilah Salaka Nagara, istilah Salaka Nagara lebih merupakan sebuah status untuk

beberapa periodesasi masa gemilang dari Nuswantara. Dalam bahasa sansekerta, salaka berarti

seluruh alam raya, jadi pada saat ada salah sebuah Kerajaan Induk Nuswantara yang statusnya Salaka

Nagara, berarti pada masa itu semua kerajaan yang ada di muka bumi ini mempunyai pimpinan tunggal,

atau secara absolut Kerajaan Induk itu menguasai seluruh pemerintahan yang ada di muka bumi ini,

dalam sejarah gemilangnya tercatat banyak Kerajaan Induk di Nuswantara yang statusnya Salaka

Nagara, semisal : Kerajaan Keling, Kerajaan Purwadumadi, Kerajaan Medang Gili, Kerajaan Medang

Ghana, Kerajaan Medang Kamulyan, dll.


Kerajaan Induk biasanya dipimpin oleh seorang raja dengan gelar Sang Maha Prabu atau Sang Maha

Raja, bergelar Sang Maha Ratu apabila dipimpin oleh seorang perempuan, pada periode jaman

sebelumnya dengan Sang Rakai atau Sang Mapanji, serta dibantu oleh Patih [sekarang setara dengan

Perdana Menteri] yang bergelar Sang Maha Patih.

Sedangkan kerajaan-kerajaan yang menginduk, istilah Kerajaan juga seringkali disebut dengan

Kadipaten yang dipimpin oleh raja yang bergelar Kanjeng Prabu Adipati atau Kanjeng Ratu Adipati

[apabila dipimpin oleh seorang raja perempuan], dan Patih-nya bergelar Sang Patih.

Pimpinan Kerajaan Induk tidaklah selamanya turun-temurun, tidak tergantung dari besar-kecilnya

wilayah, tapi dilihat dari sosok pimpinannya yang mempunyai kharisma sangat tinggi, kecakapannya

dalam memimpin negara dan keberaniannya dalam mengawal Nuswantara, sehingga negara-negara

lain [kerajaan yang menginduk/Kadipaten] akan dengan suka rela menginduk di bawah sang pemimpin,

apalagi sang pemimpin biasanya dianggap mewarisi perbawa dari para Dewa, dalam pewayangan-pun

beberapa nama raja disebutkan sebagai Dewa sing ngejawantah.

Nuswantara, atau Indonesia kini [dari bahasa melayu dan pengembangan penamaan wilayah nusantara pada

jaman masa kolonial], dahulu dikenal dunia sebagai bangsa yang besar dan terhormat. Orang luar bilang

Nuswantara adalah “Jamrud Khatulistiwa” karena di samping Negara kita ini kaya akan hasil bumi

juga merupakan Negara yang luar biasa megah dan indah.

Bahkan di dalam pewayangan, Nuswantara ini dulu diberikan istilah berbahasa Kawi/Jawa kuno, yaitu :

“Negara kang panjang punjung pasir wukir,

gemah ripah loh jinawi,

tata tentrem kerto raharja”

Artinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih yaitu :

“ Luas berwibawa yang terdiri atas daratan dan pegunungan,

subur makmur,

rapi tentram, damai dan sejahtera “

Sehingga tidak sedikit banyak negara-negara lain yang dengan sukarela bergabung di bawah naungan

bangsa kita.

Hal ini tentu saja tidak lepas peranan dari leluhur-leluhur kita yang beradat budaya dan ber-etika tinggi.

Di samping bisa mengatur kondisi Negara sedemikian makmur, leluhur kita juga bahkan dapat

mengetahui kejadian yang akan terjadi di masa depan dan menuliskannya ke dalam karya sastra yang

bertujuan sebagai panduan atau bekal anak cucunya nanti supaya lebih berhati-hati dalam menjalani

roda kehidupan.


Akan tetapi penulisannya tidak secara langsung menggambarkan berbagai kejadian di masa

mendatang, digunakanlah perlambang sehingga kita harus jeli untuk dapat mengetahui apa yang

dimaksud dengan perlambang itu tadi. Digunakannya perlambang karena secara etika tidaklah sopan

apabila manusia mendahului takdir, artinya mendahului Tuhan yang Maha Wenang.

Leluhur kita yang menuliskan kejadian masa depan adalah Maha Raja dari Kerajaan Dahana Pura

bernama Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya dalam karyanya Jayabaya Pranitiradya dan Jayabaya

Pranitiwakyo. Sering juga disebut “Jangka Jayabaya” atau oleh masyarakat sekarang dikenal dengan

nama “Ramalan Jayabaya”, sebetulnya istilah ramalan kuranglah begitu tepat, karena “Jangka

Jayabaya” adalah sebuah Sabda, Sabda Pandhita Ratu dari Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya, yang

artinya adalah akan terjadi dan harus terjadi.

Leluhur lainnya adalah R. Ng. Ranggawarsita yang menyusun kejadian mendatang ke dalam tembang-

tembang, antara lain Jaka Lodang, Serat Kalatidha, Sabdatama, dll.

Kaitannya dengan penanggalan jaman yang ada di Jangka Jayabaya, kita berhasil menemukan bahwa

sejarah Nuswantara tidak sekerdil seperti sejarah yang tertulis di buku-buku pelajaran sejarah sekolah

yang resmi atau literasi sejarah yang ada. Bahkan lebih dari itu, kami menemukan bukti tentang

kebesaran leluhur Nuswantara yang di peradaban-peradaban sebelumnya mempunyai wilayah yang

lebih besar dari yang kita duga selama ini.

Data yang diperoleh terdapat di beberapa relief dan prasasti yang dapat dilihat dan dimengerti oleh

semua orang. Pola pembacaan yang telah berhasil dipetakan dengan mendokumentasikan puluhan

jenis aksara purba asli Nuswantara yang dapat dipakai untuk membaca prasasti dan rontal-rontal kuno,

di antaranya adalah Sastra Kala Purwa, Sastra Kala Dwara, Sastra Kala Dwapara, Sastra Kala Praniti,

Sastra Kala Wisesa, dll. Sebagai bahan perbandingan, aksara Pallawa yang ada di India itu masih setara

dengan jaman Kerajaan Singasari, jadi masih terhitung sangat muda.

Kembali ke Jangka Jayabaya, telah berhasil dipetakan periodesasi terciptanya bumi sampai ke titik akhir

menjadi 3 [tiga] Jaman Kali [Jaman Besar] atau Tri Kali, dan setiap Jaman Besar atau Kali terbagi menjadi

7 [tujuh] Kala [Jaman Sedang] atau Sapta Kala, dan 1 [satu] Jaman Sedang [Kala] terbagi menjadi 3 [tiga]

Mangsa Kala [Jaman Kecil], serta berhasil mengurutkan sejarah kerajaan-kerajaan induk yang ada di

Nuswantara yang mayoritas telah dihilangkan dari sejarah resmi.

Tri Kali atau 3 Jaman Besar itu terdiri dari :


1. Kali Swara - jaman penuh suara alam

2. Kali Yoga. - jaman pertengahan

3. Kali Sengara. - jaman akhir




Masing-masing Jaman Besar berusia 700 Tahun Surya, suatu perhitungan tahun yang berbeda dengan

Tahun Masehi maupun Tahun Jawa, perhitungan tahun yang digunakan sejak dari awal peradaban.

Konversi setiap Jaman Besar [Kali] masing-masing berbeda, itu dikarenakan karena perputaran bumi

tidak linear, perhitungan masa dalam satu Tahun Surya di Jaman besar Kali Yoga lebih lama dari

perhitungan masa dalam satu Tahun Surya di Jaman Besar Kali Sangara, dan perhitungan masa dalam

satu Tahun Surya di jaman Besar Kali Swara lebih lama dari perhitungan masa dalam satu Tahun Surya

di Jaman Besar Kali Yoga.



Saat ini yang telah berhasil dikonversikan adalah penghitungan untuk Jaman Besar Kali Sangara [jaman

akhir], di mana 1 [satu] Tahun Surya setara dengan 7 [tujuh] Tahun Wuku, satu tahun Wuku terdiri dari 210

hari yang berarti 1 [satu] Tahun Surya pada jaman besar Kali Sangara itu sama dengan 1.470 hari.


Berikut adalah uraian tentang pembagian jaman disertai dengan silsilah Kerajaan-kerajaan Besar

[Kerajaan Induk] di Nuswantara mulai dari Jaman Besar Kali Swara, Kali Yoga, sampai Kali Sangara.

 1. Kali Swara [ jaman penuh suara alam ]

Dibagi atas 7 Jaman Sedang [Sapta Kala], yaitu :

1.1. Kala Kukila [burung]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [Mangsa Kala] :

1.1.1 Mangsa Kala Pakreti [mengerti]

1.1.2 Mangsa Kala Pramana [waspada]

1.1.3 Mangsa Kala Pramawa [terang]

1.2. Kala Budha [mulai munculnya kerajaan]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

1.2.1 Mangsa Kala Murti [kekuasaan]

1.2.2 Mangsa Kala Samsreti [peraturan]

1.2.3 Mangsa Kala Mataya

[manunggal dengan Sang Pencipta]

1.3. Kala Brawa [berani/menyala]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

1.3.1 Mangsa Kala Wedha [pengetahuan]

1.3.2 Mangsa Kala Arcana [tempat sembah-

yang]

1.3.3 Mangsa Kala Wiruca [meninggal]

1.4. Kala Tirta [air bah]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

1.4.1 Mangsa Kala Raksaka [kepentingan]

1.4.2 Mangsa Kala Walkali [tamak]

1.4.3 Mangsa Kala Rancana [percobaan]

1.5. Kala Rwabara [keajaiban]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

1.5.1 Mangsa Kala Sancaya [pergaulan]

1.5.2 Mangsa Kala Byatara [kekuasaan]

1.5.3 Mangsa Kala Swanida [pangkat]

1.6. Kala Rwabawa [ramai]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

1.6.1 Mangsa Kala Wibawa [pengaruh]

1.6.2 Mangsa Kala Prabawa [kekuatan]

1.6.3 Mangsa Kala Manubawa [sarasehan/

pertemuan]

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

| 1.1. Kala Kukila | 0 - 100 Tahun Surya

1.1.a Keling

1.1.b Purwadumadi

1.1.c Purwacarita / Purwakandha

1.1.d Magadha

1.1.e Gilingwesi

1.1.f Sadha Keling

| 1.2. Kala Budha | 101 - 200 Tahun Surya

1.2.a Gilingwesi

1.2.b Medang Agung

1.2.c Medang Prawa

1.2.d Medang Gili / Gilingaya

1.2.e Medang Gana

1.2.f Medang Pura

1.2.g Medang Gora

1.2.h Grejitawati

1.2.i Medang Sewanda

| 1.3. Kala Brawa | 201 - 300 Tahun Surya

1.3.a Medang Sewanda

1.3.b Medang Kamulyan

1.3.c Medang Gili / Gilingaya

| 1.4. Kala Tirta | 301 - 400 Tahun Surya

1.4.a Purwacarita

1.4.b Maespati

1.4.c Gilingwesi

1.4.d Medang Gele / Medang Galungan

| 1.5. Kala Rwabara | 401 - 500 Tahun Surya

1.5.a Gilingwesi

1.5.b Medang Kamulyan

1.5.c Purwacarita

1.5.d Matswapati

1.5.e Wiratha Wetan

1.5.f Gilingwesi

| 1.6. Kala Rwabawa | 501 - 600 Tahun Surya

1.6.a Galuh

1.6.b Purwacarita

1.6.c Wirata Anyar

1.7. Kala Purwa [permulaan]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

1.7.1 Mangsa Kala Jati [sejati]

1.7.2 Mangsa Kala Wakya [penurut]

1.7.3 Mangsa Kala Mayana

[tempat para maya/ Hyang]

 2. Kali Yoga [ jaman pertengahan ]

Dibagi atas 7 Jaman Sedang [Sapta Kala], yaitu :

2.1. Kala Brata [bertapa]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

2.1.4 Mangsa Kala Yudha [perang]

2.1.5 Mangsa Kala Wahya [saat/waktu]

2.1.6 Mangsa Kala Wahana [kendaraan]

2.2. Kala Dwara [pintu]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

2.2.1 Mangsa Kala Sambada

[sesuai/ sepadan]

2.2.2 Mangsa Kala Sambawa [ajaib]

2.2.3 Mangsa Kala Sangkara [nafsu amarah]

2.3. Kala Dwapara [para dewa]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

2.3.1 Mangsa Kala Mangkara [ragu-ragu]

2.3.2 Mangsa Kala Caruka [perebutan]

2.3.3 Mangsa Kala Mangandra

[perselisihan]

2.4. Kala Praniti [teliti]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

2.4.1 Mangsa Kala Paringga

[pemberian/kesayangan]

2.4.2 Mangsa Kala Daraka [sabar]

2.4.3 Mangsa Kala Wiyaka [pandai]

2.5. Kala Teteka [pendatang]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

2.5.1 Mangsa Kala Sayaga [bersiap-siap]

2.5.2 Mangsa Kala Prawasa [memaksa]

2.5.3 Mangsa Kala Bandawala [perang]

2.6. Kala Wisesa [sangat berkuasa]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

2.6.1 Mangsa Kala Mapurusa [sentosa]

2.6.2 Mangsa Kala Nisditya

[punahnya raksasa]

2.6.3 Mangsa Kala Kindaka [bencana]

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

| 1.7. Kala Purwa | 601 - 700 Tahun Surya

1.7.a Wirata Kulon

1.7.b Hastina Pura

| 2.1. Kala Brata | 701 - 800 Tahun Surya

2.1.a Hastina Pura

| 2.2. Kala Dwara | 801 - 900 Tahun Surya

2.2.a Hastina Pura

2.2.b Malawapati

2.2.c Dahana Pura

2.2.d Mulwapati

2.2.f Kertanegara

| 2.3. Kala Dwapara | 901 - 1.000 Tahun Surya

2.3.a Pengging Nimrata

2.3.b Galuh

2.3.c Prambanan

2.3.d Medang Nimrata

2.3.e Grejitawati

| 2.4. Kala Praniti | 1.001 - 1.100 Tahun Surya

2.4.a Purwacarita

2.4.b Mojopura

2.4.c Pengging

2.4.d Kanyuruhan

2.4.e Kuripan

2.4.f Kedhiri

2.4.g Jenggala

2.4.h Singasari

| 2.5. Kala Teteka | 1.101 - 1.200 Tahun Surya

2.5.a Kedhiri

2.5.b Galuh

2.5.c Magada

2.5.d Pengging

| 2.6. Kala Wisesa | 1.201 - 1.300 Tahun Surya

2.6.a Pengging

2.6.b Kedhiri

2.6.c Mojopoit (Majapahit)

2.7. Kala Wisaya [fitnah]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

2.7.1 Mangsa Kala Paeka [fitnah]

2.7.2 Mangsa Kala Ambondan

[pemberontakan]

2.7.3 Mangsa Kala Aningkal [menendang]

 3. Kali Sangara [ jaman akhir ]

Dibagi atas 7 Jaman Sedang [Sapta Kala], yaitu :

3.1. Kala Jangga

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

3.1.1 Mangsa Kala Jahaya [keluhuran]

3.1.2 Mangsa Kala Warida [kerahasiaan]

3.1.3 Mangsa Kala Kawati [mempersatukan]

3.2. Kala Sakti [kuasa]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

3.2.1 Mangsa Kala Girinata [Syiwa]

3.2.2 Mangsa Kala Wisudda [pengangkatan]

3.2.3 Mangsa Kala Kridawa [perselisihan]

3.3. Kala Jaya

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

3.3.1 Mangsa Kala Srenggya [angkuh]

3.3.2 Mangsa Kala Rerewa [gangguan]

3.3.3 Mangsa Kala Nisata [tidak sopan]

3.4. Kala Bendu [hukuman/musibah]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

3.4.1 Mangsa Kala Artati [uang/materi]

3.4.2 Mangsa Kala Nistana [tempat nista]

3.4.3 Mangsa Kala Justya [kejahatan]

3.5. Kala Suba [pujian]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

3.5.1 Mangsa Kala Wibawa

[berwibawa/berpengaruh]

3.5.2 Mangsa Kala Saeka [bersatu]

3.5.3 Mangsa Kala Sentosa [sentosa]

3.6. Kala Sumbaga [terkenal]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

3.6.1 Mangsa Kala Andana [memberi]

3.6.2 Mangsa Kala Karena [kesenangan]

3.6.3 Mangsa Kala Sriyana

[tempat yang indah]

3.7. Kala Surata [menjelang jaman akhir]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [ ] :

3.7.1 Mangsa Kala Daramana [luas]

3.7.2 Mangsa Kala Watara [sederhana]

3.7.3 Mangsa Kala Isaka [pegangan]

Mangsa Kala

[leher]

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

Mangsa Kala

| 2.7. Kala Wisaya | 1.301 - 1.400 Tahun Surya

2.7.a Mojopoit

2.7.b Demak

2.7.c Giri

| 3.1. Kala Jangga | 1.401 - 1.500 Tahun Surya

3.1.a Pajang

3.1.b Mataram

| 3.2. Kala Sakti | 1.501 - 1.600 Tahun Surya

3.2.a Mataram

3.2.b Kartasura

| 3.3. Kala Jaya | 1.601 - 1.700 Tahun Surya

3.3.a Kartasura

3.3.b Surakarta

3.3.c Ngayogyakarta

| 3.4. Kala Bendu | 1.701 - 1.800 Tahun Surya

3.4.a Surakarta

3.4.b Ngayogyakarta

3.4.c Indonesia (Republik)

| 3.5. Kala Suba | 1.801 - 1.900 Tahun Surya

| 3.6. Kala Sumbaga | 1.901 - 2.000 Tahun Surya

| 3.6. Kala Surata | 2.001 - 2.100 Tahun Surya


Minimal mulai dari sekarang sangat penting bagi para anak bangsa untuk mengetahui betapa hebat dan

luhurnya peran para leluhur Nuswantara ini, terbukti dengan telah tersusunnya silsilah kerajaan-

kerajaan Nuswantara mulai dari peradaban awal sampai saat sekarang, para anak bangsa tidak hanya

sekedar mengenal Kerajaan Mataram, Majapahit, Singasari, Kuripan dan Kediri saja; akan tetapi masih

banyak kerajaan-kerajaan di peradaban yang lebih lama yang entah oleh sebab apa sekarang ini

kebesaran Kerajaan tersebut telah digeser ke cerita mitos. Adalah penting semua kebesaran dan

kehebatan leluhur kita jatuh kepada kita sendiri sebagai anak cucu yang seharusnya mewarisinya.

Metode penelitian dan penelusuran yang digunakan selama ini adalah dengan mengkompilasikan studi

literasi pada relief-relief, prasasti-prasasti serta rontal-rontal kuno yang dipadukan dengan Sastra

Cetha, sastra yang tidak tersurat secara langsung. Sastra Cetha sendiri adalah sebuah informasi tak

terbatas yang sudah digambarkan oleh alam semesta secara jelas, sebegitu jelasnya sehingga sampai

tidak dapat terlihat kalau kita menggunakan daya penangkapan yang terlalu tinggi dan rumit :-)

Belajar dari tanah sendiri, belajar dari ajaran Leluhur Nusantara sendiri, belajar banyak dari alam

semesta, di mana bumi diinjak, di situ langit dijunjung.




Sumber Utama: 

          *Agung Bimo Sutejo &Tim ARC (Atlantis Research Center)

          *Ki Tunggul Jati Joyo Among Rogo (pamomong ARC)



Wednesday, December 13, 2023

Ilmu Jawa kuno

 Rahasia ilmu Jawa Aji pameleng tata cara Samadi atau Hening disebut juga Aji pameleng yang bermakna Aji atau Ratu pameleng atau konsentrasi Tapa bertapa mengandung maksud sebuah niat yang paling utama untuk bertapa atau Samadi bertapa Samadi disebut juga menekung Tafakur Puja prata mengendalikan Budi mengendalikan Cipta menenangkan raga Yoga dan sebagainya tempat untuk menjalankan hal tersebut dinamakan pertapaan Pak murjitan pamor setan dan lain sebagainya [Musik] sedangkan teorinya disebut Taiwan tawan Tirta Amerta Tirta Kamandanu Tirta Nirmalasari kawasan [Musik] ataupun sastra Jenderal hayuningrat bank luar negeri dan lain sebagainya sedangkan manfaat ilmu Samadi dan tindakan yang demikian digunakan sebagai sarana menyempurnakan dalam menjalankan ibadah agar mendapatkan keselamatan hidup sebab bisa sebagai sarana untuk bisa melakukan tindak laku utama dengan sempurna dan juga bisa digunakan sebagai sarana ketika dia ada hajat keperluan yang sangat penting untuk memohon anugerah Hidup kepada Tuhan Yang Maha murah, sedangkan Mengapa di dunia ada ilmu tata cara bertapa atau Hening Samadi yang demikian menurut dari kata-kata tersebut Ternyata banyak yang berasal dari bahasa Sansekerta dengan demikian terbukti bahwa ilmu Samadi berasal dari ilmu para peserta payugi dari Hindu India pada zaman dahulu barangkali saja bersamaan dengan ketiga bangsa Hindu membuat candi-candi dan patung-patung pada saat itu awal mula ilmu tersebut hanya untuk bangsa Hindu tidak terkecuali bangsa Hindu yang beragama apa saja akan bisa melakukan Samadi sebab hanyalah ilmu Samadi ini saja yang menjadi pembuka ilmu di seluruh dunia dan juga menjadi ujung tombak dalam ilmu agama lama-kelamaan bangsa Hindu merantau ke tanah Jawa dan ke berbagai negara lain serta juga mengajarkan agama dan ilmu yang dianutnya demikian juga ilmu Samadi juga tidak ketinggalan ilmu Samadi di tanah Jawa bisa berkembang dengan subur sebab masyarakat Jawa tidak pilih-pilih ilmu dan juga orang Jawa senang berguru dan bisa menjalankan dengan sempurna ilmu apa saja yang masuk ke Tanah Jawa [Musik] sebab ilmu yang demikian bisa selaras dengan dasar jiwa orang Jawa sehingga orang Jawa dengan mudahnya bisa menerima ilmu tersebut ditambah juga dengan banyaknya orang Hindu yang pergi ke tanah Jawa dengan tujuan berdagang menyebarkan agama dan juga ilmu bijaknya sekejap saja hampir semua orang di Jawa masa itu memeluk agama Hindu [Musik] kemudian disusul dengan datangnya bangsa Arab ke tanah Jawa yang juga dengan membawa ilmu dan agama Nabi Muhammad yaitu agama Islam sehingga sedikit mengurangi perkembangan agama Hindu sebab banyak juga orang Jawa yang memeluk agama Islam hanya saja agama Islam tidak mempunyai ilmu Samadi sebagaimana tersebut di atas ketika Islam telah berkuasa dengan berhasil mendirikan kerajaan Demak Bintara kemudian negara melarang orang jawa untuk menyebar luaskan ilmu Samadi demikian juga dipaksa berganti agama untuk memeluk agama Islam namun tidak semua orang Jawa mau masuk untuk memeluk agama Islam walaupun telah memeluk agama Islam namun tidak sepenuhnya menjalankan syariatnya hanya sebatas karena takut pada hukuman Raja saja sehingga agama Islam yang dianut hanya sebatas luar atau di lahir saja, dalam jiwa dan batin mereka masih tetap beragama Hindu sehingga ilmu sama di masih tetap dijalankan hanya saja dengan cara sembunyi-sembunyi dan dilakukan pada malam hari di atas jam 12 malam Sedangkan tempat untuk bertapa di tempat yang tidak terhalang apapun yaitu di tempat terbuka yang luas seperti di dalam hutan di sungai dan sebagainya asal saja tempat yang benar-benar sepi di ajarkan dengan cara bisikan tidak boleh terdengar oleh siapapun walaupun oleh dedaunan rumput hewan dan juga hewan kecil yang merayap di tanah juga tidak boleh mendengar jika ikut mendengar maka mereka yang mendengar akan berubah menjadi manusia [Musik] sehingga diajarkan dengan cara guru duduk berhadapan dengan cara beradu dan murid dan guru berpesan bahwa apa yang diajarkan tidak boleh Diberitahukan kepada siapapun juga tanpa izin dari Sang Guru jika dilanggar maka sang murid akan mendapat celaka karena akan mendapat hukuman dari Tuhan cara yang demikian bertujuan agar ajaran ilmu Samadi tidak bisa diketahui oleh pemerintah yang berpedoman pada ajaran agama Islam sebab apabila sampai ketahuan akan mendapat hukuman yang sangat berat sampai dengan zaman sekarang walaupun negara sudah tidak melarang dengan adanya ilmu Samadi namun cara menyebar luaskan ajaran tersebut masih tetap sama dengan cara sembunyi-sembunyi seperti dijelaskan di atas sehingga mendapat julukan oleh orang yang tidak suka ajaran tersebut atau oleh orang yang beragama Islam bahwa ajaran ilmu Samadi tersebut disebut ilmu klenik berasal dari kata klonik sehingga di tanah Jawa ada sebutan lapangan dan putihan merah dan putih yang diberi julukan abangan adalah orang Jawa Islam yang tidak menjalankan syariat agama Islam sedangkan putihan adalah sebutan bagi orang Jawa yang menjalankan sepenuhnya Syariat agama Islam disebut Santri sehingga santri disebut juga putihan sebab pada umumnya pakaian yang digunakan oleh santri yang beragama Islam itu lebih bersih dibanding dengan orang Jawa yang tidak beragama Islam kembali kepada ilmu Samadi bahwa disebut ilmu rahasia Dikarenakan seperti Keterangan tersebut di atas sedangkan yang sesungguhnya nama ajaran rahasia itu sebetulnya tidak ada sehingga boleh-boleh saja diajarkan kepada siapa saja baik kepada yang mudah atau juga kepada yang sudah berumur tua dan juga boleh diajarkan sewaktu-waktu Kapan saja apabila ada seseorang yang benar-benar sangat membutuhkan ilmu sama di tersebut sebab tata cara yang demikian itu agar ajaran tersebut bisa diketahui oleh orang banyak lebih-lebih bahwa ilmu Samadi tersebut ternyata menjadi pembuka dari semua ilmu sehingga wajib disebarluaskan agar menjadi pengetahuan bagi generasi muda ataupun juga yang sudah tua [Musik] tanpa melihat tinggi rendah dari martabat dan derajat seseorang tibalah Pada suatu masa ada cerita kejadian yang tidak disangka-sangka di belakang hari ilmu Samadi atau Hening tersebut bisa diterima oleh orang Islam Sebab mereka percaya bahwa ilmu sama dia atau Hening tersebut memang benar sebagai puncak ilmu yang bisa menghantarkan kepada keselamatan kehormatan ketentraman dan sebagainya sehingga ilmu Samadi atau Hening tersebut oleh seorang yang telah terbuka pintu hatinya dengan kebenaran yang bernama Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang yang nama aslinya San Ali Anshar ada juga yang menyebut kawasan Ali Anshar yang kedudukan tingkat ilmunya juga sebagai pemuka agama setingkat Wali kemudian digubah olehnya di kitabuatannya yang disebut Daim mengambil dari asal kata daiwan yang kemudian digunakan sebagai tata cara dalam melakukan ibadah [Musik] dengan cara dirubah susunan katanya menjadi sholat Daim sholat yang tiada terputus sehingga oleh ajaran Syekh Siti Jenar salat terbagi menjadi dua yaitu salat lima waktu disebut salat syariat salat lahir yang kedua sholat Daim sholat ini adalah sholat di dalam batin mengandung maksud juga menyatukan rasa diri pribadi dengan Tuhan atau dalam bahasa Jawa disebut Manunggaling kawulo Gusti atau loro neng a tunggal 2 menjadi satu kita buatan Syekh Siti Jenar kemudian digunakan sebagai pedoman dalam ajaran tersebut setelah berhasil mendapatkan perhatian oleh orang banyak disitu sholat 5 waktu dan Syariat agama Islam oleh pengikut Syekh Siti Jenar [Musik] acaranya banyak yang ditinggalkan ataupun tidak di ajarkan lagi Perhatian para penyebar ilmu murid Syekh Siti Jenar hanya mengajarkan sholat Daim saja [Musik] sehingga orang Jawa yang semula sudah memeluk agama Islam terlebih lagi yang belum semua condong dan berguru kepada Syekh Siti Jenar [Musik] sebab acaranya lebih mudah terang dan nyata Sedangkan ilmu Samadi yang dikembangkan oleh Syekh Siti Jenar berasal dari Ki Ageng Pengging sebab Syekh Siti Jenar adalah Masih saudara dari Ki Ageng Pengging. ilmu Samadi oleh Syekh Siti Jenar di ajarkan kepada Raden watiswara juga bernama Pangeran panggung yang juga dia mempunyai derajat Wali kemudian diajarkan kepada Sunan Geseng yang juga bernama kicak Raja ya yang berasal dari daerah pageland yang dalam cerita ketika dia belum menjadi wali mempunyai pekerjaan deres mengambil air sari bunga pohon kelapa untuk dibuat menjadi gula kelapa kemudian olehnya di acara kan kepada orang banyak [Musik] demikian juga para sahabat Syekh Siti Jenar yang telah terbuka hatinya oleh ajaran Syekh Siti Jenar disuruh mendirikan perguruan untuk menyebarkan ilmu Samadi tersebut. 

Semakin lama semakin banyak dan berkembang sehingga berhasil menyaingi bahkan melemahkan kekuasaan Wali yang lain dalam hal menyebarkan ilmu agama Islam, sehingga banyak masjid yang kosong untuk menanggulangi keadaan yang demikian agar tidak semakin berkembang luas maka Ki Ageng Pengging dan juga Syekh Siti Jenar beserta pengikutnya semuanya dihukum penggal oleh para wali yang mendapat perintah dari Sultan Demak demikian juga pangeran panggung tidak ketinggalan pula dihukum dengan cara dibakar di tengah alun-alun Demak untuk dijadikan contoh agar supaya orang-orang dan para pengikutnya menjadi takut dengan harapan supaya bersedia meninggalkan ajaran Syekh Siti Jenar dalam cerita tersebut tubuh Pangeran panggung tidak bisa terbakar api kemudian dia keluar dari dalam api dan meninggalkan kerajaan Demak ada salah satu kisah cerita bahwa pada saat Pangeran panggung sedang berada di dalam api Pangeran panggung mengarang kitab yang diberi nama suluk Malang sumirang, tembang macapat yang termuat di dalam buku suluk walisanga karangan Sunan Giri Kedua jenis lagu Jawa sebelum meninggalkan Demak buku itu diserahkan kepada Raja Demak dan pada saat Pangeran panggung pergi meninggalkan api. Sultan Bintara dan para punggawa kerajaan beserta para wali kalah Wibawa oleh kesaktian Pangeran panggung sehingga termangu dan tidak bisa berbuat apa-apa bagaikan tersihir setelah Pangeran panggung berkicau barulah Sultan Demak dan para wali sadar bahwa Pangeran panggung selamat dari hukuman bakar sehingga mereka merasa kalah oleh kesaktian Pangeran panggung yang mendapat Anugerah kasih sayang dari Tuhan Kemudian datang tunggal kerajaan melapor bahwa Sunan Geseng atau Cakra Jaya pergi juga menyusul langka Pangeran panggung kemudian setelah sadar barulah muncul kemarahan Sultan Demak sehingga kemudian menyuruh prajuritnya untuk membunuh sahabat dan semua murid Syekh Siti Jenar yang telah berhasil ditangkap sedangkan yang tidak tertangkap melarikan diri mencari selamat para sahabat dan murid Syekh Siti Jenar yang masih hidup di dalam pelariannya kemudian mendirikan perguruan dan terus melestarikan ajaran ilmu Samadi namun dengan cara ditutupi dengan ajaran syariat Islam seperti pada umumnya agar tidak diganggu ataupun dilarang oleh para wali pembela Kerajaan Demak sedangkan isi acaranya sebagai berikut cara pengajaran ilmu Samadi yang kemudian disebut salat tahim dibarengi dengan pengajaran sholat 5 waktu juga rukun Islam lainnya ajaran salat jaim kemudian diberi nama tarekat sedangkan isi ajaran diberi nama tafakur cara yang lain tata cara dalam cara mengajarkan ilmu tersebut sebelum para murid diberi ajaran salat Daim terlebih dahulu para murid dilatih menjalankan beberapa macam jenis dzikir dan juga membaca ayat-ayat suci Sejak saat itu ajaran ilmu Samadi ada dua macam yaitu 1 ilmu Samadi yang sesuai dengan ajaran yang diajarkan oleh para murid Syekh Siti Jenar yang ditutupi atau oleh ajaran rukun Islam ajaran tersebut pada zaman selanjutnya mengalami perubahan karena tidak sesuai lagi dengan ajaran pada awal ilmu itu ada sehingga para guru pada zaman sekarang dalam menyampaikan pengajaran ilmu Samadi yang telah berganti nama menjadi tarekat mengira bahwa ilmu tersebut berasal dari Jabal kuber atau Mekah walaupun acara tarekat yang asli itu ada dan cara pengajarannya tidak sama seperti tersebut di atas sehingga para Kyai guru agama Islam memberi julukan guru Leni kepada para guru yang mengajarkan ilmu Samadi yang berpedoman pada ajaran Jawa yang bersumber dari ajaran Syekh Siti Jenar dan para Kyai guru tersebut memberi julukan nama giniai mengandung maksud guru yang mengajarkan ilmu setan sedangkan sebutan Kyai adalah hanya untuk guru yang mengajarkan ilmu Nabi dua ajaran ilmu sama di cara Jawa yang bersumber dari Ki Ageng Pengging yang dikembangkan oleh Syekh Siti Jenar [Musik] jaman sekarang diberi julukan klenik tersebut pada awalnya berdasar pada lima pedoman sebagaimana berikut sangat bersungguh-sungguh dan jujur 2 Santosa berbuat adil tanggung jawab tidak berbuat semaunya sendiri 3 benar dalam semua pekerjaan sabar kasih sayang pada sesama tidak mengumpulkan dirinya sendiri tidak berwatak kejam [Musik] 4 pintar saliring dalam banyak ilmu terlebih lagi pandai menjaga perasaan sesama serta bisa mengendalikan Nafsu amarah dalam diri tidak serakah terhadap harta benda 5 susilaan olahraga selalu bersikap sopan santun serta bersikap yang bisa menyenangkan orang lain dan juga indah dalam berkata-kata apalagi terhadap orang yang sedang menderita kesusahan tindakan lima macam tersebut harus dilakukan bersama saat ketika menjalankan sama di yaitu mengendalikan Cipta Mengheningkan Cipta Oleh karena itu menurut ajaran Jawa tentang ilmu Samadi dan juga lima macam tindakan tersebut di atas akan diajarkan kepada semua anak muda atau orang tua tidak memandang tinggi rendahnya kelas dalam masyarakat sebab inti ilmu dan tinggi tingkatan ilmu seseorang apabila tetap dalam menjalankan sama di dan mampu menjalankan 5 ajaran tersebut di atas maka manusia akan mendapatkan ketentraman sedangkan dengan adanya ketentraman menyebabkan hidup merdeka dalam rasa jika tidak demikian sampai dengan akhir zaman seseorang akan mengalami nasib sangsara tergilas oleh roda zaman sebab rusak hati nurani diri [Musik] tentang Ajaran ilmu Samadi yang diberi nama ajaran tarekat yang berasal dari Syekh Siti Jenar telah dijelaskan di muka namun Tata caranya tidak dijelaskan di sini hanya akan menjelaskan tata cara melakukan sama di cara Jawa sebelum tercampur dengan agama lain sebagai berikut semoga para pembaca tidak salah terima [Musik] bahwa Samadi itu akan menghilangkan rasa hidup manusia ataupun akan mengeluarkan roh dari badan pemahaman yang demikian berasal dari pemahaman yang terkandung dalam cerita Sri Kresna raja duarawati atau Arjuna yang sedang menjalankan raga Sukma agar diketahui di sini bahwa cerita demikian hanya sebatas ibarat saja tata cara sama di Jawa adalah sebagai berikut kata Samadi Satu Rasa memusatkan rasa rasa Jati Rasa ketika rasa belum bekerja sedangkan berjalannya rasa disebabkan oleh hasil pengalaman-pengalaman yang diterima atau kejadian-kejadian yang diterima dalam hidup sehari-hari itulah kerja rasa yang disebut berpikir berasal dari kekuatan ilmu pengalaman dan peristiwa hidup sehari-hari Sehingga pikiran manusia bisa menganggap baik dan buruk yang bisa menjadi penyebab tata cara tindakan sikap dan sebagainya yang kemudian akan menjadi kebiasaan [Musik] sedangkan anggapan tentang baik dan buruk yang telah menjadi kebiasaan tersebut apabila buruk memang benar-benar buruk dan apabila baik memang benar-benar baik itu sebetulnya belum tentu benar Hal ini karena hanya disebabkan oleh kebiasaan cara berpikir saja atau anggapan diri sendiri saja anggapan yang demikian tidak mesti benar tetap hanya sebatas kebiasaan tata cara berpikir saja sehingga hal itu bukan yang sebenarnya sedangkan maksud dan tujuan sama dia adalah bertujuan untuk mengetahui dan memahami kenyataan yang sebenarnya atau kacaten sedang Tata caranya adalah dengan memahami dan menghilangkan segala anggapan dari kekuatan daya Pikir sendiri disebut hilangnya tempat dan tulisan setelah berhasil menguasai daya pikir yang demikian maka itu wujud rasa yang sesungguhnya rasa jati yang bisa mengetahui segala sesuatu tanpa petunjuk dalam bahasa Jawa disebut Tanpo tinulis bisa diwoco sedangkan hal demikian akan bisa dicapai dengan cara menghentikan segala pengaruh gerak pikiran dengan cara mengendalikan segala gerak anggota badan mengendalikan pengaruh dari gerakan badan yang paling maksimal adalah dengan cara tidur terlentang tangan bersedap melipat kedua tangan atau kedua tangan diluruskan Kedua telapak tangan ditempelkan di kedua paha kanan dan kiri kaki diluruskan telapak kaki yang kanan di atas telapak kaki kiri sikap yang demikian disebut tidak berkaki satu dan juga memusatkan pandangan atau menghentikan gerak mata tindakan demikian disebut meleng memusatkan mata sikap demikian akan bisa mengendalikan gerak pikiran serta mengendalikan gerak rasa sedangkan pusat titik mata diarahkan dan dipusatkan memandang ujung hidung dengan menyatukan dua titik pandangan mata menjadi satu dengan cara memejamkan kedua mata langkah selanjutnya adalah menata keluar masuknya nafas dengan cara mengendalikan jalannya nafas dimulai nafas berjalan dari puser perut ditarik ke atas melewati pangkal mulut cetak terus dinaikkan ke atas hingga masuk ke dalam otak kemudian ditahan semampunya di dalam kota dalam melakukan tarikan nafas yang demikian dilakukan sampai dengan badan merasa tidak punya daya kekuatan untuk mengangkat apapun sedangkan yang dikendalikan adalah jalannya rasa apabila telah terasa berat dalam menahan nafas kemudian nafas dilepaskan dengan perlahan-lahan sikap yang demikian yang disebut sastra jeda arti dari cetak penempatan ilmu Jeddah suara cetak pangkal mulut yang berat disebut demikian sebab ketika sedang melakukan tarikan nafas dari pusat perut melewati dada terus naik melewati cetak pangkal mulut sampai masuk ke pusat otak apabila jalannya pernapasan tidak dikendalikan maka nafas hanya akan mengikuti jalan nafas Sendiri Saja [Musik] cara nafas yang demikian tidak akan sampai naik masuk ke dalam otak [Musik] sebab nafas baru sampai di Pangkal mulut atau jeda akan turun kembali dan keluar lagi langkah demikian disebut juga Taiwan atau dhawan maksudnya mengendalikan perjalanan nafas yang panjang dan dengan tenang dengan mengucapkan mantra di dalam hati yaitu yang berbunyi hu bersama dengan maksudnya nafas yang berjalan dari puser Jeddah sampai ke pusat otak kemudian mengucapkan ya bersama-sama saat melepaskan nafas yang berjalan dari Pusat Otak sampai ke perut naik dan turunnya perjalanan nafas akan selalu melewati hal demikian disebut sastra Citra sebab ketika mengucapkan mantra sastra dua macam saja akan terasa di dalam cetak pangkal mulut mantra buah macam tersebut dan ya di dalam ajaran tarekat dirubah menjadi berbunyi juga bersamaan dengan perjalanan nafas sedangkan dalam ajaran tarekat sebutan tersebut menjadi H ilaha illallah namun tidak digabung dengan pernapasan pada saat melakukan pernafasan demikian usahakan mengendurkan urat wajah srile-rileknya atau sesanti mungkin dibarengi seolah-olah tersenyum dan mengendurkan erat otak sesanti-santainya dan yang terpenting jangan dibarengi menelan ludah kebiasaan yang biasa terjadi dalam melakukan pernafasan Dengan cara demikian dalam satu angkatan bernapas hanya mampu mengulang sebanyak tiga kali pernapasan biasanya sudah terengah-engah apabila sudah tenang maka diulang lagi tindakan demikian dilakukan berulang-ulang hingga jika semakin lama dan makin banyak dilakukan akan semakin baik sedangkan dalam satu kali angkatan tindakan yang demikian disebut Tri pandurata yang artinya Tri 3 Pandu Suci erat dunia tubuh dan tempat  yang bermakna juga tiga kali tarikan nafas maka itu berarti telah bisa sampai di hadapan yang maha suci yang bertempat di dalam otak atau susunan yang disusun tempat permohonan yaitu yang disebut kawulo Gusti maksudnya ketika kita menarik nafas kita sebagai ibarat Gusti atau Tuhan dan ketika melepas nafas kita kembali sebagai Kawula atau makhluk hal yang demikian diharapkan para pembaca tidak salah menafsirkan bahwa yang disebut kawulo Gusti mahluk dan Tuhan itu bukan nafas kita namun hanya daya kekuatan dari pikiran dan Cipta kita Sehingga dalam inti melakukan Samadi adalah kita harus dengan cara memanjangkan masuk dan keluarnya nafas dengan menjernihkan penglihatan sebab penglihatan adalah terjadi dari pengaruh rasa sedangkan sikap Samadi seperti yang telah dijelaskan di atas juga bisa dengan jalan dipercepat asal dilakukan dengan cara tidak terputus secara mengendalikan jalannya pernafasan bisa dilakukan pada saat duduk berjalan ataupun pada saat bekerja juga Sebaiknya dalam melakukan pernafasan dengan cara tersebut dengan jalan mengucapkan mantra yang berbunyi seperti dijelaskan sebelumnya ataupun juga bisa diganti sesuai dengan keyakinannya masing-masing Selain itu berdasarkan ada Iwan juga masih mempunyai arti yang lain yaitu panjang tidak berujung atau bermakna langgeng [Musik] yang mempunyai maksud bahwa nafas kita adalah sebagai tanda hidup tiap diri pribadi sedangkan bahwa nafas itu ada ditandai dengan adanya keluar dan masuknya angin tanpa berhenti yang bersamaan juga dengan berjalannya detak jantung yang seiring juga dengan perjalanan peredaran darah atau bahwa apabila keduanya berhenti tidak bekerja maka disebut meninggal dunia yaitu rusaknya jasad manusia yang akan kembali kepada asalnya sehingga Sebaiknya dalam bernafas diusahakan dipancangkan juga agar umur kita bisa panjang untuk hidup di dunia dengan adanya uraian di atas menunjukkan bahwa ilmu Samadi ternyata besar manfaatnya sehingga disebut juga Sastra Jendra hayuningrat artinya sastra atau ilmu Jendra berasal dari kata Harja dan Endra artinya Harja bahagia Hendra Raja Yu selamat ningrat Dunia tempat atau badan mengandung maksud mustika dari ilmu yang bisa menyebabkan keselamatan hidup kebahagiaan hidup ketenangan hidup dan lain sebagainya sedangkan makna dari bangun ruang Asura sebagai lambang dari kejahatan penyakit kotoran bahaya pikiran gelap kebodohan dan sebagainya sehingga sifat hiu itu berlawanan dengan Tuhan yaitu pandai indah selamat dan sebagainya mengandung maksud juga bahwa bagi siapa saja yang bisa mengalahkan segala kejahatan dan segala penghalang hidup artinya bagi siapa saja yang selalu menjalankan sama dia yang tiada henti maka apabila dilakukan oleh manusia jahat akan hilang sifat jahatnya dan akan berubah menjadi orang baik orang yang sedang sakit akan hilang sakitnya orang Angkara Murka orang kejam akan menjadi orang sabar menerima apa adanya dan jadi orang yang penyayang jika dilakukan oleh pembohong akan berubah menjadi orang jujur bodoh akan menjadi pintar dan sebagainya bisa juga untuk menghilangkan segala macam bencana dan segala rencana jahat bahaya dan halangan apapun yang tumbuh dari kegelapan jiwa diri pribadi semuanya akan hilang musnah lebur dening pangastuti karena menjalankan ulah sama di demikian juga bisa membentengi diri dari serangan bahaya yang berasal dari perbuatan orang lain dan juga makhluk lainnya baik yang berupa hewan yang jahat atau juga makhluk halus yang jahat akan musnah terbakar dari kewibawaan ahli Samadi atau hening harapan penyunting bahwa akan lebih sempurna apabila menjalankan ajaran kebaikan dari teori yang didapat dari luar diri apabila diimbangi dengan keadaan sucinya hati karena ulah Samadi yang dilakukan dengan olah rasa Tafakur dan Samadi apabila melakukan ajaran kebaikan akan semakin sempurna dan tidak kaku karena bukan hanya berdasar teori dalam ilmu syariat saja tapi juga dengan olah rasa sehingga kebenaran mutlak akan menjadi pedoman dalam segala tindak perbuatan dirinya.

Sebuah pemahaman tentang tatanan jagad raya

*Menuturkan tentang proses terciptanya Kahyangan, digelarnya Alam Semesta, Penciptaan Bumi dan Manusia, juga struktur pengelolaan serta hirarki dalam Alam Semesta. Tulisan ini dimaksudkan agar kita lebih paham akan tatanan alam Jagad Raya, lebih menghargai semesta dan menghargai proses penciptaan dalam versi Pakem yang termasuk dalam kategori 'Sastra Jendra'.*

Babaran ini merupakan penggal kecil dari Serat Praniti Radya yang dibuat oleh Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya, Maharaja Nuswantara dari Kerajaan induk Dahana Pura.

Awalnya Kahyangan

Pada awalnya, saat Alam Semesta ini masih suwung [kosong], belum ada kehidupan, tidak ada

bintang, tidak ada planet-planet, dan tidak ada unsur apapun, hanya terdapat sebuah sosok yang bernama Sang Hyang Ogra Pesti, wujud Beliau tidak kelihatan karena diselimuti oleh cahaya yang sangat berkilau.

01. Sang Hyang Ogra Pesti yang tak lain adalah Sang Maha Pencipta Sang Hyang Ogra Pesti kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Bramana Wasesa.

02. Sang Hyang Bramana Wasesa

Sang Hyang Bramana Wasesa kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Toya Wasesa.

03. Sang Hyang Toya Wasesa

Sang Hyang Toya Wasesa kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad.

04. Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad

Sang Hyang Wiji Wasesa Jagad kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Jagad Pramana.

05. Sang Hyang Jagad Pramana

Sang Hyang Jagad Pramana kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana.

06. Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana

Sang Hyang Wasesa Jagad Pramana kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Jagad Kitaha.

07. Sang Hyang Jagad Kitaha

Sang Hyang Jagad Kitaha kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Atmana.

08. Sang Hyang Atmana

Sang Hyang Atmana kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Atmani.

09. Sang Hyang Atmani

Sang Hyang Atmani kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Arta Etu. 10. Sang Hyang Arta Etu

Sang Hyang Arta Etu kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wilangan.

11. Sang Hyang Wilangan

Sang Hyang Wilangan kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Kasaha Etu Jagad.

12. Sang Hyang Kasaha Etu Jagad

Sang Hyang Kasaha Etu Jagad kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Tunggal.

13. Sang Hyang Tunggal

Sang Hyang Tunggal kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wenang atau yang dikenal juga dengan nama Sang Hyang Pada Winenang.

14. Sang Hyang Wenang

Sang Hyang Wenang kemudian menciptakan sosok yang bernama Sang Hyang Wening.

15. Sang Hyang Wening

Semua Sang Hyang mulai dari Sang Hyang Ogra Pesti sampai Sang Hyang Wening tinggal di Kahyangan Alang-Alang Kumitir.

Mulai dari Sang Hyang Ogra Pesti sampai dengan Sang Hyang Tunggal tinggal di Kahyangan Alang-Alang Kumitir bagian atas yang disebut dengan Kahyangan Puncak Pemalang, sedangkan Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Wening tinggal di Kahyangan Alang-Alang Kumitir bagian bawah yang disebut dengan Kahyangan Ondar-Andir Bawana. Di antara Kahyangan Puncak Pemalang dengan Kahyangan Ondar-Andir Bawana terdapat gerbang pembatas yang disebut Kori Pengapit.

Sang Hyang Wening atas seijin dari sang rama yaitu Sang Hyang Wenang kemudian menciptakan

Kahyangan Manik Maninten yang letaknya di bawah Kahyangan Alang-Alang Kumitir dan juga menciptakan sebuah telur. Kemudian telur diremas dan pecah menjadi 3 bagian, dan semua bagian melayang-layang.

Bagian pertama adalah kulit atau cangkang telur yang walaupun remuk dan retak-retak tetapi tetap melayang-layang, begitu juga bagian isi yaitu putih telur dan kuning telur, akan tetapi pada awalnya bagian putih telur dan kuning telur masih menyatu dan tersambung.

Kemudian oleh Sang Hyang Wening, bagian cangkang telur disabda menjadi sosok yang bernama Sang

Hyang Batara Antiga atau nama lainnya adalah Teja Mantri. Setelah itu putih telur dan kuning telur dipisah oleh Sang Hyang Wening, dari putih telur disabda menjadi sosok yang bernama Sang Hyang Batara Ismaya sedangkan bagian kuning telur yang masih melayang-layang kemudian ditangkap dan disabda menjadi sosok yang bernama Sang Hyang Batara Manik Maya.

Ketiganya; yaitu Sang Hyang Batara Antiga, Sang Hyang Batara Ismaya dan Sang Hyang Batara Manik

Maya berparas sangat tampan dan tinggal rukun di Kahyangan Manik Maninten dan setelah itu Sang Hyang Wening kembali ke Kahyangan Alang-Alang Kumitir. Sang Hyang Batara Antiga adalah Dewa yang pertama kali mencoba untuk keluar dari Kahyangan Manik Maninten dan mencoba meniru kebisaan dari Sang Hyang Wening dengan melakukan berbagai sabda, karena kesalahan sabda maka terciptalah para lelembut yang jumlahnya sangat banyak.

Para lelembut yang terdiri dari para drubiksa (raksasa) dan brekasakan itu berjumlah sangat banyak dan karena terwujud dari sabda yang salah maka mereka tidak mempunyai logika, dikarenakan para lelembut itu membutuhkan tempat, maka Sang Hyang Wening kemudian menciptakan Kahyangan Setra Ganda Layu yang letaknya ada di bawah dari Kahyangan Manik Maninten.

Kemudian, Sang Hyang Wening merasa sudah tiba saatnya ketiga anak-nya dibuatkan pasangan

sehingga dapat mempunyai keturunan, maka ditawarkanlah kepada mereka untuk dibuatkan pasangan

hidup.

Sebagai putra tertua, Sang Hyang Batara Antiga memilih untuk menjadi wadat [tidak mempunyai

pasangan], sementara kedua adiknya bersedia. Maka Sang Hyang Wening mengambil bagian dari Sang

Hyang Batara Ismaya dan disabda menjadi Sang Hyang Batari Kanestren yang kemudian menjadi

pasangan hidup [istri] dari Sang Hyang Batara Ismaya, juga kemudian mengambil bagian dari Sang

Hyang Batara Manik Maya dan disabda menjadi Sang Hyang Batari Uma yang kemudian menjadi istri

dari Sang Hyang Batara Manik Maya.

Dari pasangan Sang Hyang Batara Ismaya dengan Sang Hyang Batari Kanestren dan Sang Hyang

Batara Manik Maya dengan Sang Hyang Batari Uma inilah awal terjadinya proses reproduksi atau

mempunyai keturunan.

Keturunan atau anak dari Sang Hyang Batara Ismaya dengan Sang Hyang Batari Kanestren adalah :

Sang Hyang Batara Wungkuam

Sang Hyang Batara Yamadipati

Sang Hyang Batara Surya

Sang Hyang Batara Kuwera

Sang Hyang Batara Kamajaya

Sang Hyang Batari Darmanastiti

Sang Hyang Batara Hananta Boga

Sang Hyang Batara Baruna

Sang Hyang Batara Wisnu

Sang Hyang Batara Platuk Temboro

Keturunan atau anak dari Sang Hyang Batara Manik Maya dengan Sang Hyang Batari Uma adalah :

Sang Hyang Batara Sambo

Sang Hyang Batara Brama

Sang Hyang Batara Indra

Sang Hyang Batara Bayu

Kelak kemudian Sang Hyang Wening menciptakan pasangan buat putra-putri para Batara dan Batari itu

dan menciptakan Kahyangan untuk mereka yang letaknya di bawah Kahyangan Manik Maninten tetapi

di atas Kahyangan Setra Ganda Layu. Lalu dari para Batara dan Batari itu lahirlah putra-putri mereka yaitu para Dewa dan Dewi, kemudian

dibuatkanlah Kahyangan oleh Sang Hyang Wening untuk para Dewa-Dewi itu yang letaknya di bawah

Kahyangan dari para Batara-Batari dan di atas Kahyangan Setra Ganda Layu.

Para Dewa dan Dewi kemudian saling berpasangan dan lahirlah putra-putri mereka yaitu para Widadara

dan Widadari, kemudian dibuatkanlah Kahyangan oleh Sang Hyang Wening untuk para Widadara-

Widadari itu yang letaknya di bawah Kahyangan dari para Dewa-Dewi dan di atas Kahyangan Setra

Ganda Layu.

Para Widadara dan Widadari kemudian saling berpasangan dan lahirlah putra-putri mereka yaitu para

Hapsara dan Hapsari, kemudian dibuatkanlah Kahyangan oleh Sang Hyang Wening untuk para

Hapsara-Hapsari itu yang letaknya di bawah Kahyangan dari para Widadara-Widadari dan di atas

Kahyangan Setra Ganda Layu. Para Hapsara dan Hapsari tinggal di Kahyangan yang bernama

Kahyangan Suralaya, mereka dikenal juga dengan sebutan Dang Hyang atau Danyang.

Saat itu para penghuni di Kahyangan Setra Ganda Layu sudah terlalu banyak, banyak lelembut dan

drubiksa [raksasa] yang memang tidak mengetahui nilai-nilai tataran mulai jahil dengan seenaknya

mengunjungi Kahyangan Suralaya maupun Kahyangan lainnya.

Hal itu yang kemudian membuat Sang Hyang Wening merencanakan untuk mulai menggelar jagad

raya, dengan menciptakan Sela Matangkep atau Pintu Pengarip sebagai batasan dunia, jadi para

penghuni Kahyangan Setra Ganda Layu tidak dapat lagi dengan seenaknya naik ke Kahyangan

Suralaya dan Kahyangan-Kahyangan lain yang lebih tinggi.

Sela Matangkep dijaga oleh Cingkara Bala dan Bala Upata yang tidak memperbolehkan sesiapapun

dapat memasuki dunia luhur tanpa menyebutkan kata sandi yang benar. Gelar Jagad

Atas sabda dari Sang Hyang Wening, kemudian diutuslah Sang Hyang Batara Ismaya, Sang Hyang

Batara Brama, Sang Hyang Batara Indra, Sang Hyang Batara Surya, Sang Hyang Batari Ratih, Sang

Hyang Batara Bayu, Sang Hyang Batara Hananta Boga, Sang Hyang Batara Baruna dan Sang Hyang

Batara Wisnu untuk menciptakan tempat di luar Sela Matangkep.

Saat itulah baru terciptanya dunia, dimulai dengan adanya Bintang yang diciptakan oleh Sang Hyang

Batara Ismaya atau dikenal juga dengan nama Sang Hyang Batara Kartika. Sang Hyang Batara

Brama bersama-sama dengan Sang Hyang Batara Hananta Boga dan Sang Hyang Batara Wisnu

menciptakan Bumi dan planet-planet yang lain.

Bumi sendiri diciptakan awalnya dari sebuah gumpalan api yang dibuat oleh Sang Hyang Batara Brama yang kemudian dilapisi oleh jangkar bumi dan cangkang bumi oleh Sang Hyang Batara Hananta Boga dan Sang Hyang Batara Surya memindahkan kaki Kahyangan Ekacakra mendekati Bumi yang sekarang kita kenal dengan nama Matahari.

Kemudian Sang Hyang Batari Ratih juga memindahkan kaki Kahyangan Cakra Kembang ke dekat Bumi yang kita kenal dengan nama Bulan, Sang Hyang Batara Bayu menciptakan atmosfir serta Sang Hyang Batara Indra menciptakan hujan. Bumi pada waktu itu masih panas karena belum ada lautan.

Baru setelah itu diturunkanlah para lelembut dan drubiksa ke Bumi atau Arcapada, akan tetapi ternyata setelah itu terjadi saling serang antara mereka untuk memperebutkan wilayah yang mereka sukai.

Sehingga kemudian diturunkan juga para Hapsara dan Hapsari serta para Widadara dan Widadari ke Arcapada untuk membuat hirarki di Arcapada agar terjadi kestabilan dan keamanan di Arcapada.

Kemudian oleh Sang Hyang Wening diciptakanlah Dang Hyang Jagad Penjuru Bumi :

- Untuk Jagad Wetan [timur] ditempati oleh Pecuk Pecu Kilan.

- Untuk Jagad Kulon [barat] ditempati oleh Cakrawangsa.

- Untuk Jagad Lor[utara] ditempati oleh Kaneka Putra.

- Untuk Jagad Kidul [selatan] belum terisi, tapi kemudian ditempati oleh Andana dan Andini.

- Untuk Jagad Awang-Awang [angkasa] dipercayakan kepada Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara. 

 Setelah situasi di Arcapada cukup aman, baru kemudian oleh Batara-Batari yang ditugaskan [tanpa Sang Hyang Hananta Boga] diciptakanlah tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan. Biji dan benih untuk daratan dibawa oleh Sang Hyang Batari Pertiwi, biji dan benih untuk dasar samudera dibawa oleh Sang Hyang Batari Urang Ayu, serta para hewan di bawa oleh Sang Hyang Batara Gana. . 

Manusia Tercipta

Adalah Sang Hyang Batara Brama yang pertama kali menciptakan manusia, diambil dari tanah dan dibuat dengan kepalan tangannya, karena Sang Hyang Batara Brama adalah Dewa Api maka wujud manusia yang dibuat terlalu gosong, makanya kemudian disebut dengan Bangsa Keling. Proses penciptaan manusia pertama itu terjadi di daratan Jawa di Gunung Bromo, dan manusia yang diciptakan saat itu suhunya sangat panas untuk tinggal di dataran rendah sehingga mereka hanya dapat hidup di ketinggian yang suhunya lebih dingin.

Kemudian Sang Hyang Batara Wisnu juga menciptakan manusia dan terwujudlah sosok manusia yang lebih baik dan sempurna [seperti manusia sekarang ini], kejadian itu masih di daratan Jawa di Gunung Pawinihan [sekarang Gunung Wilis]. Tetapi saat itu manusia ciptaan Sang Hyang Batara Wisnu kondisi suhunya masih sama karena hanya mampu tinggal di tempat dingin. Manusia ciptaan itu menjadi rebutan dari para Hapsara dan Hapsari untuk dimomong oleh mereka.

Maka diaturlah agar manusia mempunyai keturunan dulu dan kemudian anak-anak mereka langsung di bawa oleh para Hapsara dan Hapsari untuk kemudian wajahnya dibentuk sesuai dengan wajah dari para Hapsara dan Hapsari yang memomongnya. 

Hal ini dilakukan atas sabda dari Sang Hyang Wening agar Arcapada dapat dipenuhi oleh manusia untuk keseimbangan alam semesta.

Delapan Batara dan Batari yang ikut dalam proses penciptaan manusia dan Prawita Sari [air suci keabadian], yaitu Sang Hyang Batara Ismaya, Sang Hyang Batara Brama, Sang Hyang Batara Indra, Sang Hyang Batara Surya, Sang Hyang Batari Ratih, Sang Hyang Batara Bayu, Sang Hyang Batara Baruna dan Sang Hyang Batara Wisnu inilah yang disebut dengan Hasta Brata, Hasta berarti delapan dan Brata berarti laku, watak, atau sifat utama yang di ambil dari sifat alam.

- Sang Hyang Batara Ismaya/ Sang Hyang Batara Kartika mewakili sifat Bintang

- Sang Hyang Batara Brama mewakili sifat Api

- Sang Hyang Batara Indra mewakili sifat Langit/ Angkasa

- Sang Hyang Batara Surya mewakili sifat Matahari

- Sang Hyang Batari Ratih mewakili sifat Bulan

- Sang Hyang Batara Bayu mewakili sifat Angin

- Sang Hyang Batara Baruna mewakili sifat Air

- Sang Hyang Batara Wisnu mewakili sifat Bumi/ Tanah

Kemudian para Batara-Batari dan Dewa-Dewi turun ke bumi dan mulai mengajarkan pola kehidupan kepada umat manusia, hal itu dilakukan agar manusia kemudian secara otomatis dan naluri akan mengajarkan kepada keturunannya juga, sehingga tidak perlu setiap generasi berikutnya dari keturunan manusia yang lahir, para Batara-Batari dan Dewa-Dewi harus turun ke Arcapada untuk mengajarkan pola yang sama.

Beberapa pola kehidupan yang diajarkan kepada manusia itu antara lain :

- Sang Hyang Batara Brama mengajarkan manusia cara membikin perkakas.

- Sang Hyang Batara Wisma Karma mengajarkan manusia cara membikin rumah tinggal.

- Sang Hyang Batara Iswara mengajarkan manusia cara berbicara dan manembah.

- Sang Hyang Batara Wisnu mengajarkan aturan antar manusia, aturan-aturan berkehidupan untuk tidak saling menjegal.

- Sang Hyang Batara Mahadewa mengajarkan manusia caranya membuat perhiasan dan pakaian.

- Sang Hyang Batara Cipta Gupta mengajarkan manusia caranya mengenal dan membuat warna-warni.

- dan lain-lain

Manusia-manusia awal yang tercipta di Arcapada ini baik yang di Gunung Bromo maupun yang di Gunung Pawinihan dinamakan Bangsa Keling dari kata 'kelingan' yang mengingatkan tentang awal penciptaan, struktur komunal pertama manusia dinamakan Kerajaan Keling dengan Kraton-nya beradadi lereng Gunung Pawinihan yang dipimpin oleh Sang Maha Prabu Radite yang merupakan wujud lain dari Sang Hyang Batara Surya yang ngejawantah. Semua peristiwa sebagai bagian dari awal peradaban ini terjadi di jaman sedang Kala Kukila pada jaman besar Kali Swara, di mana saat itu putaran Bumi masih belum stabil. Tri Loka Buana. Sang Hyang Wening merasa sudah saatnya setelah jagad di gelar harus ada hirarki keseluruhan untuk menata alam semesta ini. Untuk memimpin jalannya kehidupan Alam Semesta akan dipilih seorang pimpinan yang bergelar Ratu Tri Loka Buwana [Tri = tiga, Loka = tempat, Buwana = dunia] yang menguasai 3 dunia; Arcapada [Bumi, dunia di mana manusia tinggal], Madyapada [dunia gaib], dan Mayapada [Kadewatan, dunia luhur tempat mulai dari Hapsara-Hapsari sampai Batara-Batari].

Maka sebelum dipilih siapa yang layak untuk menjadi Ratu Tri Loka Buwana, Sang Hyang Wening mencipta Kahyangan Jong Giri Saloka tempat bakal Ratu Tri Loka Buwana menetap dan mengatur Alam Semesta. Kahyangan Jong Giri Saloka ini terletak di bawah Kahyangan Alang- Alang Kumitir dan di atas Kahyangan Manik Maninten.

Dua putra dari Sang Hyang Wening, yaitu Sang Hyang Batara Antiga dan Sang Hyang Batara Ismaya sangat meminati posisi Ratu Tri Loka Buwana tersebut, maka kemudian disepakatilah antar mereka berdua untuk adu kesaktian guna menunjukkan siapakah yang lebih layak menjadi Ratu Tri Loka Buwana.

Proses adu kesaktian itu adalah barang siapa yang dapat memakan atau menelan Jamur Dipa [bentuk gunung yang sangat besar] maka dialah yang layak menjadi Ratu Tri Loka Buwana. Sang Hyang Batara Antiga menelan Jamur Dipa, tetapi gagal dan mulut dari Sang Hyang Batara Antiga malah sobek, kemudian giliran Sang Hyang Batara Ismaya mencoba menelan Jamur Dipa, ternyata berhasil ditelan tetapi tidak dapat dimuntahkan kembali. Pada saat itulah Sang Hyang Wening rawuh dan sangat tidak berkenan dengan adu kesaktian yang dilakukan oleh Sang Hyang Batara Antiga dan Sang Hyang Batara Ismaya.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban dari apa yang telah mereka lakukan, maka kemudian Sang Hyang Wening mengeluarkan sabda yang mengunci bentuk mereka di mana kondisi mulut dari Sang Hyang Batara Antiga sobek dan perut dari Sang Hyang Batara Ismaya membesar karena terisi Jamur Dipa.

Dalam wujud seperti itulah maka Sang Hyang Batara Antiga juga dikenal dengan nama Togog atau Ki Lurah Togog; sedang Sang Hyang Batara Ismaya dikenal dengan nama Semar atau Ki Lurah Semar Badranaya. Kemudian Sang Hyang Wening menunjuk Sang Hyang Batara Manik Maya yang karena tidak ikut dalam adu kesaktian dan hanya menjadi penonton saja itu menjadi Ratu Tri Loka Buwana. Sang Hyang Batara Manik Maya merasa kegirangan apalagi dari antara tiga bersaudara Sang Hyang Batara Manik Maya yang sekarang wajahnya paling tampan, karena kakak-kakaknya sudah berubah wujud semua. Hal itu tak luput dari perhatian Sang Hyang Wening, maka kemudian disabdalah wajah dari Sang Hyang Manik Maya menjadi buruk rupa, sebagai penanda untuk tidak mempunyai sifat sombong hati.

Sebagai Ratu Tri Loka Buwana, Sang Hyang Batara Manik Maya kemudian bergelar Sang Hyang Batara Guru, dikenal juga dengan nama Sang Hyang Jagadnata atau Sang Hyang Jagad Pratingkah atau Sang Hyang Syiwa. Kemudian Sang Hyang Batara Guru bersama dengan Sang Hyang Batari Uma menempati Kahyangan Jong Giri Saloka dan bertugas sebagai Ratu Tri Loka Buwana.

Sang Hyang Wening kemudian menugaskan Ki Lurah Togog dan Ki Lurah Semar untuk menjadi pamomong bagi umat manusia di Arcapada. Ki Lurah Togog menjadi pamomong umat manusia di belahan Barat dan Utara dari Arcapada, sedangkan Ki Lurah Semar menjadi pamomong untuk umat manusia di belahan Timur dan Selatan dari Arcapada.

Karena mereka berdua masing-masing memerlukan teman dalam perjalanan mereka menjadi pamomong di Arcapada, maka kemudian Ki Lurah Togog menciptakan teman seperjalanannya yang bernama Sarawita atau dikenal dengan nama lain Bilung.

Sedang Ki Lurah Semar juga menciptakan teman seperjalanan yang diambil dari bayangannya sendiri yang diberi nama Bagong. Berita tentang terpilihnya Sang Hyang Batara Manik Maya menjadi Ratu Tri Loka Buwana ternyata membuat gerah para Dang Hyang penunggu Bumi, mereka merasa bahwa Sang Hyang Batara ManikMaya tidak pantas menjadi Ratu Tri Loka Buwana karena dianggap kalah wibawa dan kurang sakti dari kakak-kakaknya. Para Dang Hyang penjuru Bumi merencanakan untuk melakukan protes dengan mengadakan penyerbuan ke Kahyangan Jong Giri Saloka.

Pertama kali yang menyerbu ke Kahyangan Jong Giri Saloka adalah Kaneka Putra sang Dang Hyang Jagad Lor. Dalam perjalanannya ke Kahyangan Jong Giri Saloka dan baru sampai di Sela Matangkep, Dang Hyang Jagad Lor Kaneka Putra bertemu dengan rombongan Ki Lurah Semar bersama dengan Bagong dan Ki Lurah Togog bersama dengan Sarawita yang akan turun ke Arcapada untuk melaksanakan tugas sebagai pamomong umat manusia.

Terjadilah pertempuran sengit antara Ki Lurah Semar dengan Kaneka Putra, akhirnya Kaneka Putra tunduk terkena Aji Kemayan dari Ki Lurah Semar sehingga bentuknya menyerupai wujud pendek seperti yang sekarang kita kenal.

Karena kepandaian dan kepintarannya dalam bertempur, maka oleh Ki Lurah Semar, Dang Hyang Jagad Lor Kaneka Putra kemudian ditugaskan untuk menjadi penasehat utama Kahyangan Jong Giri Saloka untuk mendampingi Sang Hyang Batara Guru dalam mengelola Alam Semesta dan bergelar Sang Hyang Batara Narada atau Resi Kaneka Putra menempati Kahyangan Suduk Pangudal-udal.

Kemudian secara bersamaan naiklah Dang Hyang Jagad Wetan Pecuk Pecu Kilan dan Dang Hyang Jagad Kulon Cakrawangsa untuk menyerbu Kahyangan Jong Giri Saloka. Di Sela Matangkep, mereka bertemu dengan rombongan Ki Lurah Semar dan rombongannya yang baru saja bertempur dengan Dang Hyang Jagad Lor Kaneka Putra.

Oleh Ki Lurah Semar kedatangan kedua Dang Hyang Jagad itu disambut secepat kilat dengan cara menjambak rambut Pecuk Pecu Ki lan dan rambut Cakrawangsa serta dibenturkan satu sama lain sehingga mereka berubah wujud dan langsung tunduk kepada Ki Lurah Semar. Setelah berubah wujud, Pecuk Pecu Kilan berubah nama menjadi Petruk dan Cakrawangsa berubah nama menjadi Gareng, serta mereka berdua akan mengiringi kemanapun Ki Lurah Semar Badranaya dan Bagong akan menempuh perjalanannya dalam memomong umat manusia di belahan Timur dan Selatan Arcapada ini.

Dang Hyang kembar Jagad Kidul yaitu Andana dan Andini melakukan penyerbuan pula ke Kahyangan Jong Giri Saloka, setelah melihat cara Ki Lurah Semar menaklukkan Pecuk Pecu Kilan dan Cakrawangsa, Sang Hyang Batara Guru melakukan hal yang sama pula kepada Andana dan Andini. Begitu Andana dan Andini tiba di Kahyangan Jong Giri Saloka, maka secepat kilat dibenturkanlah kepala dari Andana dan Andini sehingga mereka langsung takluk. Oleh Sang Hyang Batara Guru, Andana dan Andini kemudian disabda menjadi Lembu Nandini dan menjadi Dampar Kencana Kahyangan Jong Giri Saloka.

Dang Hyang Awang-Awang yaitu Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara juga melakukan penyerbuan ke Kahyangan Jong Giri Saloka, tetapi di tengah perjalanan dia bertemu dengan Sang Hyang Batara Wisnu. Terjadilah pertempuran yang berakhir dengan tunduknya Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara kepada Sang Hyang Batara Wisnu, sejak saat itulah Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara dijadikan tunggangan dari Sang Hyang Batara Wisnu.

Setelah semua berjalan normal kembali, sebagai Ratu Tri Loka Buwana, Sang Hyang Batara Guru kemudian membentuk beberapa formasi jagad baru, dengan beliau sendiri sebagai Pusat :

- Sang Hyang Batara Syiwa di Pusat

- Sang Hyang Batara Brama di penjuru Selatan [Kidul]

- Sang Hyang Batara Wisnu di penjuru Utara [Lor]

- Sang Hyang Batara Maheswara di penjuru Timur [Wetan]

- Sang Hyang Batara Mahadewa di penjuru Barat [Kulon]

- Sang Hyang Batara Sambu di penjuru Timur Laut [Wetan Lor]

- Sang Hyang Batara Kartika di penjuru Tenggara [Kidul Wetan]

- Sang Hyang Batara Antiga di penjuru Barat Daya [Kidul Kulon]

- Sang Hyang Batara Narada di penjuru Barat Laut [Kulon Lor] 


Disusun oleh Agung Bimo Sutejo

Kisah-legenda

Dahulu, wilayah bangsa Indonesia pernah menguasai lebih 2/3 Muka Bumi?

Misteri Candi Cetho, Candi Sukuh dan Candi Penataran Candi Cetho •  Cetho Temple ( lat=-7.5957324 ; lon=111.1582518)  • * Candi Sukuh •  Suk...