Monday, February 19, 2024

Legenda Jaka Tarub dan 7 Bidadari

 Sekali peristiwa ada seseorang bernama Ki Ageng Selandaka, seorang penyumpit burung. Di tengah perburuannya hari itu dia menemukan sesosok bayi yang seperti sengaja ditinggalkan di hutan. Karena tujuannya adalah untuk berburu maka bayi yang ditemukannya itu ditinggalkan di bawah pohon dia berniat terlebih dahulu meneruskan pekerjaannya, di sisi lain hiduplah seorang janda yang tinggal di desa tarub. Orang-orang tarub memanggil janda itu dengan nama nyi Wulanjar dialah janda dari Ki Gede Tarub yang tidak memiliki seorang anak. Ia selalu meminta kepada tuhan untuk memberikannya seorang anak, meski suaminya telah tiada. Siang dan malam nyi Wulanjar memohon namun belum ada tanda-tanda datangnya anugerah itu merasa belum dikabulkan permintaannya ia hanya bisa pasrah pada takdir hidup tanpa suami tanpa buah hati bila malam ia hanya bersahabat dengan suara katak, jangkrik dan serangga malam bila siang ia berhelat sendirian dengan sawah dan ladang jenuh dengan pekerjaan sehari-harinya nyi wulanjar menghabiskan waktu duduk sendirian di amben gubug hutan menikmati kicau burung-burung yang hinggap di dahan pepohonan menikmati gemerosak air terjun yang sangat deras dengan sungai yang mengalir jernih menuju muara saat menyaksikan sepasang burung yang terbang di angkasa nyi wulanjar mendadak teringat pada ki ageng tarub teringat dengan kebersamaannya dalam menjalani hidup rumah tangga teringat janjinya akan memberi momongan sebanyak-banyaknya namun apa daya sesudah tigapuluh tahun ia hidup berumah tangga tak seorang momongan pun dilahirkan bahkan suaminya justru telah wafat nyi wulanjar berserah diri pada takdirnya sebagai wanita renta yang tak memiliki keturunan dia mulai berpikir buruk tentang bagaimana nasibnya kelak ketika ia sakit siapa yang akan merawatnya ketika meninggal siapa yang akan menziarahi makamnya segudang pertanyaan nyi wulanjar yang tak menemukan jawaban kian menimbun di benak kepalanya namun mendadak sayup-sayup ia mendengar suara bayi yang bersumber dari balik pohon giyanti sontak ia berhasrat menemukan sumber suara yang begitu menyayat itu mata nyi wulanjar terbelalak saat menyaksikan bayi yang tergeletak di atas selembar sarung dengan wajah bersinar ia tampak keheranan bertanya dalam hati siapa orang tua bayi itu kenapa orang tuanya tega meletakkan bayi di tepi hutan dan kenapa bayi itu justru berhenti menangis dan tersenyum kepadanya apakah bayi itu anugerah dari tuhan ia percaya kalau tuhan telah mengabulkan doa yang sekian lama dilafalkan di dalam ruang samadi sesudah membopong bayi yang diyakini sebagai anugerah tuhan itu nyi wulanjar merasa sebagai perempuan yang sempurna merasa sebagai ibu sekalipun tak mampu menyusuinya ia merasa kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan tepat oleh para pujangga dengan kata-kata ketika bayi itu kembali menangis karena haus dan lapar naluri nyi wulanjar sebagai perempuan terbangkitkan ia teringat pada tajin gula aren buatannya nyi wulanjar kemudian berbisik pada bayi itu agar tidak menangis lagi ia berjanji pada sang bayi untuk memberinya makan sesampai di rumah nanti bayi itu akan disuapinya ia berjanji untuk memeluknya selalu dengan penuh kehangatan di tempat lain ki ageng selandaka merasa sial meski sudah sekian puluh sumpit melesat dari lubang tabung bambu ia belum mendapatkan seekor burung pun dalam hatinya ia bertanya-tanya kenapa burung-burung itu seolah memiliki mata seribu sehingga terbang sebelum ujung sumpit menyentuh sasaran merasa lelah sesudah sekian pal menjelajahi hutan ia duduk di bawah pohon ki ageng selandaka bertanya-tanya apakah kesialannya karena menelantarkan bayi temuannya tergolek sendirian di bawah pohon giyanti karena merasa begitu bersalah ki ageng selandaka beranjak dari tempatnya bukan kembali berburu melainkan untuk menjenguk bayi yang telah ditinggalkannya sesampai di dekat pohon giyanti ki ageng selandaka terperanjak pandangannya menjadi kabur ketika mengetahui bayi itu telah raib dari tempatnya ia mulai berprasangka kalau bayi itu telah dimangsa harimau atau ular piton ia pun mulai mengumpat pada dirinya sendiri sebagai orang paling dungu dan paling jahat di jagad raya lantaran membiarkan harimau atau ular piton memangsa bayi itu hidup-hidup sekujur tubuh ki ageng selandaka merasa tak berotot dan bertulang ia menjadi merasa tak bertenaga kesialannya menjadi sempurna selain tidak dapat mendapatkan burung ia kehilangan bayi yang ditemukannya selagi ki ageng selandaka merenungi nasib buruk muncul seorang penyumpit dari balik rerimbunan semak semula ia tak mempedulikan sapaan penyumpit itu namun ketika penyumpit itu memberitahu bahwa nyi wulanjar dari desa tarub telah menemukan bayi ia bertanya dalam hati apakah itu bayi yang ditemukannya tanpa memperdulikan cerita selanjutnya dari sang penyumpit ki ageng selandaka bergegas meninggalkan tempat itu tak ada tempat lain yang dituju selain rumah nyi wulanjar di desa tarub di sana ia ingin meminta bayi itu wajah nyi wulanjar nampak sumringah usai bayi yang telah diberi minum tajin gula aren tertidur pulas di gendongan selagi menggendong bayi itu di depan rumah nyi wulanjar melihat datangnya seorang lelaki paruh baya yang belum dikenalnya anehnya setelah mengenalkan diri lelaki paruh baya yang tak lain ki ageng selandaka itu meluncurkan tuduhan sebagai pencuri bayi karenanya selandaka meminta bayi itu dari gendongan sang janda nyi wulanjar terkejut ketika mendapat tuduhan yang demikian mengingat bayi itu tidak diambil dari selandaka melainkan dari bawah pohon giyanti di tepi hutan kepada selandaka ia menolak tuduhan kalau dirinya telah mencuri bayi ki ageng selandaka marah besar ia ingin merebut bayi dari gendongan janda tarub itu namun sesudah mengetahui sang bayi tengah tertidur pulas ia mengurungkan niat setelah meredam amarahnya ia kembali membujuk pada sang janda untuk menyerahkan bayinya nyi wulanjar tetap tak mau menyerahkan karena ia tidak mendapatkan bukti kalau bayi itu adalah anak selandaka ia pun menuduh kalau selandaka adalah orang gila bila selandaka waras tidak akan tega meninggalkan bayi yang tergolek kelaparan di tepi hutan dalam ancaman harimau atau ular piton ki ageng selandaka mendadak merasa malu dia tak ingin memiliki bayi itu lagi namun ia memohon izin untuk sekedar mengakuinya sebagai anak mengingat ialah yang menemukan pertama kali bayi itu sesudah ditinggalkan orang tuanya di tengah hutan nyi wulanjar mengizinkan ki ageng selandaka untuk mengakui bayi itu sebagai anak bahkan kelak ia berharap agar selandaka untuk turut membimbing dan mendidiknya bila bayi itu tumbuh besar nanti harapannya agar kelak bayi itu menjadi manusia berbudi pekerti luhur berketerampilan dan memiliki kebijaksanaan legalah ki ageng selandaka mendengar penuturan nyi wulanjar setelah memandangi wajah bayi yang masih tertidur pulas di gendongan sang janda selandaka berpamitan untuk pulang sesudah tujuh hari serumah dengan nyi wulanjar bayi itu diberi nama kidang telangkas kidang telangkas telah menunjukkan kecerdasannya dia lincah, cekatan sekaligus cerdik nyi wulanjar menduga, kidang telangkas dahulu adalah putra dari seorang pinunjul itu karena kidang telangkas gemar menjalani laku prihatin kidang telangkas sejak pagi hingga siang ia pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dari siang hingga sore ia membantu nyi wulanjar bekerja di ladang bila malam ia mendapat pengetahuan dari janda itu melalui dongeng pengantar tidur menginjak usia menuju dewasa kidang telangkas mulai dikenal dengan nama jaka tarub ini karena dia adalah anak angkat nyi wulanjar yang merupakan janda dari ki gede tarub jaka tarub mulai menggantikan nyi wulanjar bekerja di ladang karena dia mulai sakit-sakitan sebelum meladang ia membuat sarapan buat janda itu bila janda itu tengah kambuh encoknya ia juga merawat dengan sabar hingga suatu kali sakit nyi wulanjar sudah tidak bisa terobati lagi menjelang hembusan nafas terakhirnya janda itu berpesan kepada jaka tarub agar ketika dia wafat dia mau untuk tinggal bersama ki ageng selandaka dan benar tujuh hari sesudah itu nyi wulanjar meninggal dunia jaka tarub kemudian hidup bersama ki ageng selandaka sewaktu tinggal bersama ki ageng selandaka jaka tarub sering mengikuti ayah angkatnya itu untuk berburu burung di hutan ia sangat kagum atas kepiawaian selandaka dalam menyumpit burung sekali sebatang sumpit melesat dari lubang bambu seekor burung pasti terjatuh dari batang pohon jaka tarub kemudian meminta kepada ki ageng selandaka untuk mengajarinya menyumpit burung oleh selandaka permintaan anaknya itu dipenuhi selandaka mengajarkan bagaimana cara mengumpulkan udara yang berenergi besar di dalam mulut hingga dapat melesatkan sumpit dari lubang bambu tahap kedua ki ageng selandaka mengajarkan pada jaka tarub bagaimana cara membidikan sumpit ke arah burung dengan tepat bagi jaka tarub pelajaran kedua ini amat berat agar sumpit tepat sasaran ia harus eneng, ening, dan enung eneng, ia harus mendiamkan seluruh tubuhnya ening, ia harus menenangkan rasa dan emosinya enung, ia harus memfokuskan pikiran pada burung yang menjadi sasaran sumpit dengan eneng, ening, enung ia akan bisa mendapatkan enang memperoleh hasil gemilang dari pekerjaannya sehari dua hari jaka tarub belum menguasai ilmu tersebut namun dengan kesungguhan dan ketekunan ia dapat menyumpit burung dengan tepat bahkan ia berhasil mengawinkan tiga anasir eneng, ening, dan enung, secara luar biasa yakni menyumpit dengan mata terpejam menyaksikan kepiawaian jaka tarub yang sangat sempurna ki ageng selandaka begitu bangga kebanggaan selandaka semakin tak terperi saat anaknya itu berhasil menyumpit burung tanpa membunuh dan melukai burung yang disasar seakan hanya dipukul dengan energi yang sangat terkontrol hingga pada akhirnya jatuh waktu pun berjalan begitu cepat sesudah ki ageng selandaka tinggal di alam kelanggengan jaka tarub memilih kembali tinggal di desa tarub dia menetapkan hati mengurusi kembali sawah dan ladang mendiang nyi wulanjar yang cukup lama terbengkalai meski demikian kegemarannya menyumpit burung juga tidak pernah berhenti dia masih gemar keluar masuk hutan mengasah keterampilannya membidik sasaran suatu kali setelah sekian lama berburu jaka tarub merasa begitu haus dia segera menuju sendang jernih di tengah hutan sebelum sampai tujuan jaka tarub mendengar suara sejumlah gadis yang sedang bersenda gurau dari arah sendang karena penasaran ia mengintip asal suara itu dari balik pepohonan jantungnya berdegup kencang saat menyaksikan tujuh gadis cantik tengah mandi di sendang itu siapakah mereka seandainya manusia lumrah mereka tak mungkin mandi di sendang tengah hutan lebat seperti itu apabila bangsa jin mereka tidak mungkin menampakkan diri di siang bolong seperti itu namun setelah menyaksikan onggokan baju di tepi sendang jaka tarub menjadi tahu bahwa mereka adalah golongan bidadari kahyangan mendadak timbul pikiran nakal pada jaka tarub tanpa berpikir akibat perbuatannya nanti ia perlahan bersijingkat menuju onggokan baju mereka jaka tarub mencuri salah satunya secara acak baju dan selendang yang dicurinya itu segera dibawa pulang diletakkan di bawah tumpukan padi yang menggunung di lumbung sebagai penggantinya jaka tarub mengambil jarit dan baju peninggalan mendiang nyi wulanjar dia kemudian kembali ke sendang dengan segera masih secara diam-diam sesampai tempat tujuan jaka tarub kembali mengintip para bidadari yang baru saja selesai mandi ia menyaksikan keenam bidadari telah mengenakan pakaian lengkap wajah mereka nampak begitu sedih karena harus segera meninggalkan satu temannya yang masih berada di dalam air pakaiannya telah hilang namun teman-temannya tak bisa menunggu lebih lama apalagi memberikan jalan keluar mereka terpaksa meninggalkannya sendirian jaka tarub menjadi tahu bidadari yang masih kungkum di dalam sendang itulah yang pakaiannya telah dicuri ternyata wajahnya begitu cantik tubuhnya begitu mempesona bahkan kulitnya begitu putih bercahaya hati jaka tarub bergetar betapa bahagianya dia jika bisa mendapatkan istri yang demikian keberuntungan ternyata jatuh pada jaka tarub ketika dalam kesendiriannya bidadari itu mengucap sumpah secara bersungguh-sungguh jika ada seorang wanita yang mampu menolongnya dengan cara memberi pakaian ia akan diakui sebagai sedulur sinarawadi namun jika laki-laki ia akan dijadikan suami mendengar sumpah bidadari itu jaka tarub berbunga-bunga hatinya dia merasa begitu beruntung jaka tarub segera menuju tepi sendang dan memberikan pakaian nyi wulanjar pada sang bidadari kepada sang bidadari jaka tarub berkata bahwa dia telah mendengar sumpahnya saat tak sengaja lewat sendang itu kebetulan pula dia membawa pakaian milik ibunya yang memang selalu dibawanya kemanapun juga ibu yang dicintainya telah meninggal dunia dan hanya dengan cara yang demikian dia menjadi tak merasa kesepian hidup di dunia mendengar apa yang dikatakan jaka tarub bidadari itu justru menjadi iba dia berkata akan menemani hidup jaka tarub dan memenuhi sumpah yang telah diucapkannya bidadari itu bernama dewi nawangwulan dia kemudian menjadi istri pemuda yang akhirnya dikenal sebagai ki ageng tarub dua setelah diangkat sebagai pemimpin desa meneruskan kepemimpinan suami nyi wulanjar yang jauh hari telah tiada sejak memiliki istri ki ageng tarub makin giat bekerja di sawah dan ladang dia tak pernah lagi masuk hutan berkat usaha kerasnya tanah yang mereka garap membuahkan hasil melimpah jagung, ketela, sayuran maupun padi yang dipanen lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keduanya kebahagiaan ki ageng tarub semakin sempurna sejak dewi nawangwulan mengandung hingga kemudian melahirkan bayi perempuan yang diberi nama retna nawangsih namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama karena pageblug ganas melanda desa tarub tanaman di sawah dan ladang diserang berbagai hama hingga menjadikan gagal panen tak ada lagi yang bisa diselamatkan ki ageng tarub menjadi begitu sedih seperti tidak punya harapan lagi tak tega melihat suaminya demikian dewi nawangwulan kemudian mencoba membantu dengan kesaktiannya sebagai bidadari yang masih sedikit tersisa nawangwulan berkata bahwa simpanan padi di lumbung tidak akan pernah habis asal jaka tarub tak sekalipun melanggar pesannya yakni membuka tutup dandang ketika sedang menanak nasi mendengar pesan dewi nawangwulan ki ageng tarub bukannya mematuhi melainkan malah penasaran sewaktu istrinya pergi ke sungai untuk mencuci popok bayi jaka tarub melanggar janjinya dengan membuka tutup dandang dia keheranan karena ternyata nawangwulan selama ini hanya memasak menggunakan sebutir padi saja namun secara aneh bisa mencukupi makan keluarganya seharian karena rasa penasaran sudah terobati jaka tarub segera menutup dandang itu sepulang dari sungai nawangwulan segera menuju tempatnya menanak nasi namun betapa terkejut dia karena padi yang dimasaknya ternyata masih utuh satu butir saja tidak berubah secara ajaib nawangwulan menjadi marah luar biasa pada jaka tarub dia menganggap jaka tarub telah melanggar janji kesaktiannya sebagai bidadari pun menjadi hilang sepenuhnya dia kini menjadi manusia biasa maka apa boleh buat hari itu dan hari-hari selanjutnya dia akan memasak menggunakan simpanan padi yang ada di lumbung karena dimasak terus-menerus padi di lumbung menjadi menipis jaka tarub juga harus kembali ke hutan mencari bahan lain untuk dimakan di saat jaka tarub pergi ke hutan nawangwulan menuju simpanan padi terakhirnya di lumbung di bawah tumpukan padi yang tersisa dia menemukan ananta kusuma yakni pakaian bidadarinya dahulu ini makin membuat nawangwulan marah pada jaka tarub dia menjadi tahu jaka tarub lah yang dulu mencuri dan menyembunyikannya nawangwulan langsung memakai pakaian ananta kusuma itu hingga pulihlah kesaktiannya sebagai bidadari nawangwulan tak bisa lagi memaafkan jaka tarub dia harus kembali ke kahyangan meski jaka tarub menangis dan memohon agar nawangwulan tak kembali ke kahyangan tekad nawangwulan sudah kuat sebelum pergi nawangwulan berpesan jika anaknya menangis jaka tarub diminta membawanya naik ke atas panggung rumah yang di bawahnya dibakari jerami ketan hitam dengan tanda itu dia akan turun ke dunia untuk menyusui anaknya setelah berpesan demikian nawangwulan membakar jerami dia membumbung naik ke atas mengikuti asap yang meninggi hancur berkeping-keping hati jaka tarub saat itu hari demi hari jaka tarub hanya hidup berdua dengan anak perempuannya retna nawangsih hingga beranjak remaja wajahnya cantik seperti ibunya kelak keduanya akan kedatangan tamu tak terduga dari majapahit yang membawa tiga buah pusaka yakni keris kyai mahesa nular, keris kyai malela dan tombak kyai pleret atas perintah prabu brawijaya tamu itu adalah buyut mahasar dan bondan kejawan setelah pertemuan terjadi kelak bondan kejawan akan ditinggalkan di desa tarub dipersaudarakan dengan retna nawangsih dalam asuhan jaka tarub bondan kejawan diberi nama lembu peteng ketika dianggap cukup umur keduanya kemudian dinikahkan sayangnya jaka tarub tak sempat melihat cucu-cucunya lahir karena keburu meninggal dunia cucu laki lakinya bernama getas pandawa dialah kelak yang akan menurunkan ki ageng sela leluhur raja-raja mataram kisah jaka tarub berdasarkan bacaan yang kami punya terdapat setidaknya dalam dua babad yakni babad tanah jawi dan babad dipanegara semuanya terletak pada bagian-bagian awal ada kemungkinan kisah jaka tarub juga terdapat dalam babad lain yang belum kami baca masalahnya babad tanah jawi ada yang menyebut fiksi karena tidak sedikit bagian yang begitu kental dengan mitos kisah jaka tarub digolongkan dalam bagian mitos ini lalu apakah babad tanah jawi secara keseluruhan adalah fiksi kelahiran babad tanah jawi menurut j.j ras dalam bukunya masyarakat dan kesusastraan jawa tidak bisa dilepaskan dari perintah pangeran puger kepada panembahan adilangu kedua penulisan babad ini dilanjutkan oleh carik braja alias tumenggung tirtawiguna pada tahun 1718 namun diperkirakan baru terbit pada tahun 1788 baik panembahan adilangu maupun carik braja bukan hanya menulis babad tanah jawi namun juga sekian banyak babad dan serat lainnya babad tersebut masih menurut buku yang sama penggarapannya dilakukan berulang-ulang karena banyak peristiwa yang harus dikisahkan maupun dijelaskan sebagai karya sastra yang berlatar belakang sejarah raja-raja jawa beserta mitosnya babad tanah jawi mendapat kajian dari para sejarawan menurut h.j. de graaf babad tanah jawi memiliki kandungan fakta sejarah pada bagian tengah hingga bagian akhir dengan demikian bisa dinyatakan bahwa bagian awal hingga bagian tengah dari naskah tersebut cenderung berupa mitos baiklah para pandemen sekalian kesempatan kali ini kita coba mengulas sejumlah pesan tersembunyi di balik legenda jaka tarub yang mungkin tidak disadari selama ini tertutup oleh kisah permukaan yang bersifat sanepan dan banyak dijumpai dalam babad tanah jawi sebagai sumber tradisi para pandemen sekalian di manapun panjenengan berada sejarawan dhanang respati puguh ketua departemen sejarah universitas diponegoro semarang dalam wawancaranya dengan historia.id pada artikel berjudul benarkah babad tanah jawi fiksi mengatakan bahwa babad tanah jawi dapat digunakan sebagai sumber tradisional sejarah yang bisa menjadi faktual asalkan dipahami konteks penulisan historiografinya selain fakta naskah tersebut memiliki kebenaran simbolis adi deswijaya filolog universitas veteran bangun nusantara, sukoharjo berpendapat dalam artikel yang sama bahwa fiksi pada babad lebih kepada rekaan dalam jalan cerita yang merupakan buah pemikiran si pengarang namun dibalik fiksinya proses penciptaan karya tersebut tetaplah berlatar belakang sejarah kami sendiri berpendapat di balik mitos yang terdapat dalam babad tanah jawi tersimpan banyak sekali ajaran dan pesan baik meski harus menggunakan kajian hermeneottika mengingat para pujangga dan leluhur kita di masa lalu punya kebiasaan menggunakan sanepan atau makna tersembunyi dalam menyampaikan sesuatu bila mengacu pada versi terbitan balai pustaka 1939 naskah bab 12 dengan urutan pupuh asmarandana, dandanggula, mijil kemudian dandanggula lagi lalu ditutup asmarandana babad tanah jawi mengisahkan tentang jaka tarub karena bukan hanya babad tanah jawi namun juga babad seperti babad diponegoro serta babad-babad lain juga mengisahkannya maka muncul anggapan bahwa tokoh jaka tarub benar-benar nyata terlebih ketika masyarakat lokal meyakini sejumlah petilasan baik berupa sendang maupun makam yang terletak di sejumlah daerah dinyatakan sebagai petilasan jaka tarub di kampung medris, bangkalan, madura jawa timur terdapat makam yang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai petilasan jaka tarub makam ini terletak di tengah pemakaman umum yang dikelilingi oleh rumpun bambu sekitar 300 meter ke arah barat terdapat masjid yang konon merupakan peninggalan jaka tarub sementara di sebelah selatan makam tersebut terdapat sendang sendang yang merupakan petilasan jaka tarub juga diyakini sebagian masyarakat berada di desa widodaren, ngawi jawa timur keyakinan masyarakat bahwa sendang tersebut merupakan tempat pertemuan jaka tarub dengan dewi nawangwulan bersumber dari nama desa widodaren dimana kata widodaren yang berasal dari kata widadari atau bidadari mengacu pada dewi nawangwulan serta bidadari lainnya yang mandi di sendang petilasan jaka tarub yang lain ada di gunung bagus, paliyan gunungkidul yogyakarta menurut masyarakat sekitar bukan hanya jaka tarub yang dimakamkan di gunung bagus namun juga dewi nawangsih, putrinya serta bondan kejawan yang masih keturunan raja majapahit petilasan jaka tarub yang berupa makam juga terdapat di desa tarub, grobogan jawa tengah bila mengacu pada namanya desa tarub lebih diyakini sebagai daerah di mana jaka tarub atau ki ageng tarub menjadi pemimpinnya namun seluruh pendapat ini masih perlu dikaji lebih jauh mengingat belum terdapat data-data sejarah terpercaya yang bisa membuktikan bahwa tempat-tempat itulah tkp jaka tarub sebagaimana dikisahkan dalam babad tanah jawi lalu siapakah sebenarnya jaka tarub dalam sumber-sumber tradisi seperti babad tanah jawi meski ditemukan sebagai sesosok bayi sebatang kara di tengah hutan jaka tarub tetaplah memiliki silsilah menurut babad dari jalur ayah jaka tarub adalah cucu ki gede kudus sementara jalur ibu jaka tarub adalah cucu dari ki ageng kembang lampir dia dilahirkan di hutan kapanasan karena ibunya melarikan diri dari rumah kandungannya tidak diharapkan oleh sang kakek sementara ayahnya yang merupakan anak bungsu ki gede kudus juga telah pergi entah kemana seusai melahirkan ibunya itu kemudian meninggal dunia bayi jaka tarub kemudian ditemukan dan dibawa oleh seorang penyumpit bernama selandaka atau selondoko sayangnya di dekat desa tarub selandaka tergiur untuk memburu kidang atau kijang yang begitu tangkas bayi jaka tarub lantas ditinggalkannya sendirian di bawah pohon giyanti yang ternyata bekas pertapaan ki ageng tarub saat masih hidup dahulu jaka tarub kemudian diasuh dan dibesarkan oleh nyi tarub sebagai penemu kedua karena dia tidak memiliki anak belakangan jaka tarub sempat diperebutkan nyi tarub dan selandaka namun akhirnya tercapai kesepakatan untuk mengasuhnya berdua di bawah didikan selandaka jaka tarub pelan-pelan menjadi seorang penyumpit ulung kemampuan berburunya ini kemudian berujung pada perjumpaannya dengan dewi nawangwulan secara tidak sengaja yang kemudian berakhir dengan pernikahan dan lantas melahirkan seorang putri bernama retna nawangsih kelak nawangsih dinikahkan dengan bondan kejawan atau lembu peteng salah satu putra raja majapahit yang dititipkan pada buyut mahasar bersama tiga buah pusaka majapahit keduanya melahirkan seorang putra bernama getas pandawa dan seorang putri dari getas pandawa inilah lahir sosok spektakuler yang kita kenal sebagai ki ageng sela, leluhur dinasti mataram sekaligus guru jaka tingkir atau sultan hadiwijaya - pajang para pandeman sekalian di manapun panjenengan berada jika kita menyimak sejumlah legenda di dunia ada legenda bernama tanabata dalam legenda itu dikisahkan tentang kengyu seorang pemuda dari sebuah desa kecil ketika dalam perjalanan pulang dari ladang kengyu melihat sehelai jubah dan memasukkannya ke dalam tas di tengah perjalanan pulang ke rumah kengyu ditegur oleh seorang gadis gadis itu bernama orihime dan jubah yang dibawa kengyu itu dimintanya tanpa jubah itu orihime yang semula mandi di telaga tidak bisa kembali ke kahyangan orihime pun bersedia menjadi istri kengyu ketika tidak berhasil mendapatkan jubah itu kembali ke tangannya pada suatu hari irihime menemukan jubahnya terjepit di kayu penahan atap rumah sesudah orihime mengenakan jubah itu orihime pamit kepada kengyu yang baru saja pulang dari ladang orihime akan meninggalkan rumah itu kembali ke kahyangan sewaktu menyaksikan orihime terbang ke angkasa kengyu menjadi sangat bersedih dan menangis sejadi-jadinya diakui atau tidak kisah cinta ini mirip sekali dengan kisah asmara antara jaka tarub dan dewi nawangwulan nawangwulan mendapatkan pakaiannya berada di bawah tumpukan padi dia juga kemudian meninggalkan jaka tarub dan kembali ke kahyangan belum diketahui mana mempengaruhi yang mana atau memang kemiripan antara kisah jaka tarub dan tanabata hanya secara kebetulan namun kami menangkap siratan bahwa kedua kisah itu erat kaitannya dengan hubungan bumi dan langit manusia sebagai simbol bumi dan bidadari sebagai simbol langit manusia di masa lampau harus mengetahui apa yang terjadi di langit jika ingin melakukan sesuatu di bumi seperti misal bercocok tanam maupun berlayar bahasa gampangnya manusia lampau dituntut untuk mempelajari "ilmu langit" ilmu yang mempelajari pergerakan benda-benda di langit dalam konteks pertanian mereka harus memahami cara mengukur posisi benda lain yang dewasa ini disebut kosmografi sekaligus pemahaman klimatologi atau iklim dalam pemahaman jawa semua yang demikian disebut pranata mangsa formalisasinya dilakukan pada masa sunan pakubuwono VII menggunakan basis peredaran matahari dan rasi bintang konon meski lazim digunakan di masa pakubuwono VII pengetahuan tentang ini sudah dilakukan sejak kerajaan medang atau mataram hindu hingga majapahit bahkan belakangan bukan hanya untuk pertanian saja namun juga bidang kemiliteran berdasarkan analisa sejarawan modern dalam peristiwa mongol menyerang jawa salah satu faktor kekalahan dinasti yuan Mongol masih terkait dengan hal ini mereka bukan bangsa maritim yang menguasai ilmu-ilmu tersebut sehingga meski telah mengerahkan puluhan ribu pasukan dilengkapi persenjataan canggih di masanya justru hancur lebur dalam pertempuran melawan koalisi dyah wijaya dan arya wiraraja kapal-kapal mereka yang berhasil melarikan diri menjadi tersesat dan tercerai berai setelah dikejar armada kapal tempur madura akibat tidak terlalu fasih membaca arah angin para pandemen sekalian di manapun panjenengan berada kisah jaka tarub yang berlatar belakang tradisi agraris jawa ini bisa saja masih terhubung dengan pemahaman pranata mangsa atau ilmu langit tadi dari uraian cerita kita bisa mendapat gambaran cuaca yang menjadi latar belakang kisah ini para bidadari yang mandi di sendang untuk menyejukkan tubuhnya menyiratkan perihal musim kering dengan terik matahari yang sedemikian rupa sampai-sampai saking panasnya bidadari pun merasa perlu untuk mandi ke bumi menurut ilmu pranata mangsa musim kering yang menyebabkan tanah retak retak tersebut dikenal dengan mangsa karo atau mangsa paceklik yang terjadi antara tanggal 2-24 agustus disebut mangsa paceklik karena banyak orang akan mengalami kekurangan pangan sementara untuk menghadapi masa paceklik dan mencukupi kebutuhan pangannya para petani dahulu sangat mengandalkan padi yang tersimpan di dalam lumbung di masa paceklik inilah masyarakat jawa lampau senantiasa mengajarkan agar manusia dekat dengan tuhan melalui pertolongan tuhan manusia yang tengah dalam kekurangan pangan akan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya pemahaman ini terefleksi pada suatu peristiwa di mana jaka tarub tengah dilanda paceklik hingga simpanan padinya di lumbung mulai berkurang nawangwulan yang merupakan simbol kuasa tuhan memberikan pertolongan hanya dengan menanak nasi menggunakan sebutir padi jaka tarub bisa mencukupi kebutuhan pangannya setiap hari namun sewaktu kurang mengimani kuasa tuhan yakni dengan membuka tutup dandang jaka tarub menanggung akibatnya simpanan padi yang bermanfaat untuk menjaga ketahanan pangan itu cepat terkuras habis nah dapat dimaknai bahwa kisah jaka tarub menyiratkan para petani haruslah mengenal betul pranata mangsa agar tidak timbul paceklik atau kekurangan bahan pangan di sinilah letak hubungan antara bumi dan langit yang terjadi di bumi tergantung bagaimana manusia menangkap tanda-tanda yang terjadi di langit semua hubungan itu jika terjaga dengan baik dan terperhatikan akan memberikan kemakmuran bagi manusia sebaliknya bila tidak terjaga akan menimbulkan petaka oleh masyarakat jawa kisah jaka tarub dihubungkan dengan prosesi upacara pasang tarub dan midodareni yang merupakan bagian dari prosesi pernikahan kita pahami bahwa tarub merupakan bangunan tambahan di depan rumah di tengah hajatan mantu bangunan tarub yang tidak permanen tersebut terbuat dari bleketepe yang berhiaskan juntaian helai-helai janur kuning perpaduan antara warna hijau bleketepe serta warna kuning janur tersebut akan memberikan kesejukan dan kedamaian di sekitar area tarub bleketepe yang dipasang di area tarub merupakan perwujudan dari suatu tempat penyucian di kahyangan yang dinamakan balai katapi balai artinya tempat sedangkan katapi artinya membersihkan kotoran dengan demikian pemasangan bleketepe dapat diartikan sebagai ajakan orang tua dan calon pengantin kepada semua tamu undangan untuk turut menyucikan hati adapun janur yang terdiri dari kata jan yakni janma atau manusia dan nur atau cahaya menyiratkan doa dari semua pihak agar pernikahan tersebut mendapatkan pencerahan keselamatan dan kedamaian dari tuhan agar pernikahan tersebut menjadi awal yang baik bagi sepasang pengantin di dalam menjalani kehidupan rumah tangga tanpa rintangan berkat perlindungan darinya lepas dari segala wacana dan pembahasan itu semua legenda jaka tarub bagaimanapun juga merupakan aset budaya kita khususnya dalam hal kearifan lokal secara turun-temurun kita telah mewarisi tradisi yang sarat ajaran baik hal itu tersirat dari simbol-simbol seperti tarub dan perlengkapan pernikahan serta sejumlah prosesi yang menyertainya sayangnya dewasa ini karena tidak memahami falsafah atau makna dibaliknya simbol-simbol tersebut mulai terkikis jaman tidak lagi hadir dalam prosesi pernikahan khususnya di kota-kota besar nilai gotong-royong warga dalam mempersiapkan perhelatan pernikahan juga sudah mulai lenyap karena itulah bagi sebagian orang pernikahan ada kalanya justru menjadi momok tersendiri karena harus menanggung seluruh biaya yang begitu besar karena tidak ada keterlibatan warga lain inilah salah satu manfaat dari perlu diuri urinya budaya gotong-royong saling berbagi beban tantangan terbesar di era saat ini memang dalam hal melestarikan tradisi dan budaya dibutuhkan sejumlah inovasi agar generasi milenial tidak semakin jauh kehilangan akarnya jika mereka sedikit tertarik kami percaya mereka akan mencari tahu lebih jauh dengan semakin memahami mereka akan melestarikannya hingga pada akhirnya nanti warga mancanegara yang datang ke negara kita benar-benar menyaksikan wajah indonesia yang sebenarnya sementara warga indonesia yang bekerja atau tinggal di luar negeri akan benar-benar merasakan rasanya pulang kampung di negeri sendiri.

No comments:

Post a Comment

Kisah-legenda

Dahulu, wilayah bangsa Indonesia pernah menguasai lebih 2/3 Muka Bumi?

Misteri Candi Cetho, Candi Sukuh dan Candi Penataran Candi Cetho •  Cetho Temple ( lat=-7.5957324 ; lon=111.1582518)  • * Candi Sukuh •  Suk...